Cart

Your Cart Is Empty

Humankind

Humankind

image

Author

Ani

Published

Juni 9, 2024

Kali ini kembali kami memuat hasil pembacaan reviewer tamu yaitu Tasya (Instagram: @konekoreads ). Terimakasih!

“Hai! Aku Tasya ๐Ÿ‘‹ Aku senang membaca sejak kecil dan menyelami berbagai genre khususnya non-fiksi. Buku kali ini aku baca di penghujung akhir studi sarjanaku di Teknik Lingkungan ITB hingga kini telah menjadi freshgraduate”

***

Is humanity a Netflix drama, full of twists and turns, or a heartwarming rom-com?
Media loves the cliffhangers, but maybe the real story lies in the quiet acts of kindness that unfold every day.

Bukan hal yang baru lagi, jika kita melihat media dan menemukan banyak berita yang membawa emosi negatif muncul. Alasan sederhananya, berita dan konten yang memicu emosi negatif dan intens akan mendapat engagement yang banyak โ€” menghasilkan uang. Di era dimana informasi bergerak secara cepat, paparan media yang menunjukkan sisi gelap manusia tanpa disadari membentuk suatu pesimisme terhadap orang lain. Kita jadi sulit percaya dan larut dalam kemungkinan kejahatan yang dapat diperbuat oleh manusia. And thatโ€™s why Iโ€™m reading this book. Too much negativity in life made me wonder, benarkah manusia itu baik? Atau hanya baik karena punya maksud tertentu saja? Katanya, sejarah itu tergantung kacamata penulisnya saja, benarkah?

Humankind

Rutger Bregman
GPU (2019)
444 halaman

Rutger Bregman adalah seorang sejarawan dan penulis populer Belanda. Ia lahir pada tanggal 26 April 1988 di Westerschouwen, Belanda. Ia menempuh pendidikan di Universitas Utrecht, di mana ia meraih gelar doktor dalam bidang sejarah pada tahun 2013. Bregman dikenal dengan pandangannya yang optimis tentang manusia. Ia percaya bahwa manusia pada dasarnya baik dan ingin bekerja sama untuk membangun dunia yang lebih baik. Sejauh ini, beliau sudah menerbitkan empat buku yangmenawarkan perspektif baru tentang sejarah, filsafat, dan ekonomi dengan fokus pada kebaikan manusia.

Buku ini terbagi menjadi empat bagian. Bermula dari bagian pertama yang berjudul โ€œKeadaan yang Alamiโ€, Bregman memaparkan sejarah manusia serta interaksi tiap zamannya serta beberapa kisah pemantik awal yang dipertanyakan kebenaran akan sisi yang dilihat untuk mengevaluasi moralitasnya. Turut dibahas juga beberapa teori terkait baik dan buruknya manusia yang saling menyanggah satu sama lain.

Bagian selanjutnya, โ€œSesudah Auschwitzโ€, memaparkan sisi lain yang tidak populer atau dilewatkan dari suatu kejadian yang termasuk kejam. Ada tiga kisah yang disorot pada bagian ini, yaitu percobaan Stanford Jail Experiment, percobaan mesin setrum Milgram, dan pembunuhan Genovese. Ada berbagai latar belakang berbeda dari tiga kisah tersebut, yang kemudian dipopulerkan untuk menunjukkan manusia yang nirempati dan suka dengan kekerasan. Namun dibalik layar, terdapat beberapa temuan seperti keengganan subjek percobaan untuk menyiksa sesamanya, keraguan subjek dalam mengikuti perintah kejam, subjek percobaan yg undur diri, hingga ilusi kekejaman dan manipulasi kondisi penelitian.

Bagian selanjutnya, โ€œMengapa Orang Baik menjadi Jahatโ€, membahas tiga faktor penyebab dasar lahirnya kejahatan manusia: (ini bagian paling menarik bagi saya)

1) Empati yang membutakan
๐’๐š๐ญ๐ฎ ๐ก๐š๐ฅ ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐ฉ๐š๐ฌ๐ญ๐ข: ๐๐ฎ๐ง๐ข๐š ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐ฅ๐ž๐›๐ข๐ก ๐›๐š๐ข๐ค ๐ญ๐ข๐๐š๐ค ๐๐ข๐š๐ฐ๐š๐ฅ๐ข ๐๐ž๐ง๐ ๐š๐ง ๐ฅ๐ž๐›๐ข๐ก ๐›๐š๐ง๐ฒ๐š๐ค ๐ž๐ฆ๐ฉ๐š๐ญ๐ข. Justru empati yang buat manusia kurang pemaaf, karena semakin manusia mereka dekat dengan korban, semakin pula ia menggeneralisasi musuh. Sorotan atau highlight kepada orang tertentu akibat empati berlebihan membuat manusia buta akan sudut pandang lawan. Mekanisme ini membuat manusia sebagai spesies paling ramah sekaligus jahat di planet ini.
2) Kekuasaan yang merusak
๐Š๐ž๐ค๐ฎ๐š๐ฌ๐š๐š๐ง ๐ญ๐š๐ฆ๐ฉ๐š๐ค๐ง๐ฒ๐š ๐›๐ž๐ค๐ž๐ซ๐ฃ๐š ๐ฌ๐ž๐ฉ๐ž๐ซ๐ญ๐ข ๐จ๐›๐š๐ญ ๐›๐ข๐ฎ๐ฌ ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐ฆ๐ž๐ฆ๐›๐ฎ๐š๐ญ ๐จ๐ซ๐š๐ง๐  ๐ญ๐š๐ค ๐ฉ๐ž๐ค๐š ๐ญ๐ž๐ซ๐ก๐š๐๐š๐ฉ ๐จ๐ซ๐š๐ง๐  ๐ฅ๐š๐ข๐ง. Dalam satu penelitian tahun 2014, peneliti mendapati “rasa berkuasa” menganggu apa yang disebut dgn pencerminan, suatu proses mental yang berperan penting dalam empati. Seolah-plah mereka tak lagi merasa terhubung dengan sesama manusia. Jika merasa tdk terhubung –> cenderung sinis dgn org lain. Banyak penelitian menunjukkan salah satu efek kekuasaan adalah timbulnya pandangan negatif terhadap pihak lain. Tragisnya, tak memiliki kekuasaan berefek sebaliknya.
3) Salah paham pencerahan
Suatu miskonsepsi sejak dahulu bahwa manusia itu buruk dan kita harus bertindak secara pesimis terhadap orang lain.

Dua bagian selanjutnya, โ€œRealisme Baruโ€ dan โ€œPipi Sebelahnyaโ€ membahas terkait realisme baru yang perlu diterapkan serta perubahan sistematik dari sistem yang ada saat ini. Salah satunya adalah perubahan sistem pendidikan yang lebih adil dan menekankan kerjasama, karena saat ini pendidikan banyak dijadikan sebagai ajang kompetisi dan menyebabkan anak-anak menjadi lebih egois dan kompetitif.
Sebagai penutup, Bregman memberikan sepuluh aturan untuk hidup. Aturan tersebut menitikberatkan pada sikap optimis terhadap orang lain dan inisiatif mencari lebih detail ketika ada ketidakjelasan guna menghindari pesimisme.

Buku ini bagus dan menarik, banyak pelajaran dan ilmu baru yang dapat kita dapatkan, khususnya karena buku ini banyak mengangkat kisah sejarah dan penelitian lampau yang mungkin nggak kita temui di kurikulum sekolah biasa. Kisah tersebut banyak berasal dari kisah perang dan politik dengan timeline berbeda, termasuk ada juga dibahas terkait psikologi perang dan doktrin kebencian oleh petinggi militer untuk kepentingan mereka. Sayangnya, terjemahannya cukup โ€“atau sangatโ€“ kaku. Ada beberapa istilah teoritis yang saya rasa lebih baik dibiarkan dalam bahasa Inggris saja karena ketika diterjemahkan, kosakata tersebut menjadi agak aneh.

๐Ÿ“šIde buku lanjutan: Stolen Focus by Johann Hari
Saya sedang membaca buku ini saat menulis review Humankind, haha. And I found something interesting, jangan-jangan kita ikut pesimis akan manusia itu juga karena limitasi attention dan fokus kita dalam belajar atau mengulik fakta dibalik sejarah yang populer, jika dikaitkan juga ke isu penurunan kemampuan kognitif saat ini ya?

Iโ€™ll leave it to your curiosity. See you in another review!
@konekoreads

Join Us

Book

O Latte

Follow IG untuk membaca review kami

Join Us on Spotify

Our Location

My Place

The place I like the most

Get Direction