Beberapa hari yang lalu, saya membaca sebuah artikel Scientific American yang membahas bahwa orang bisa sangat berbeda dalam memahami satu kata yang sama. Bayangkan, satu kata saja bisa miskomunikasi, apalagi sebuah konsep rumit dalam sains atau matematika!. Pas sekali saya sedang membaca buku tentang bagaimana berkomunikasi yang lebih baik, yang ditulis oleh aktor Alan Alda.
If I Understood You, Would I Have This Look on My Face?: My Adventures in the Art and Science of Relating and Communicating
Alan Alda
Random House (2017)
240 hal
Alan Alda adalah seorang aktor Hollywood, komedian, sutradara, yang lebih dikenal melalui perannya sebagai dokter Hawkeye di serial sitkom perang Vietnam M*A*S*H. Ia juga meraih berbagai penghargaan dunia film dan panggung. Yang tidak banyak diketahui orang adalah, ia sangat peduli akan komunikasi sains.
Selama 14 tahun ia menjadi pembawa acara Scientific American Frontiers di channel PBS, yang mengulas temuan-temuan sains dan teknologi terbaru, dan mewawancara para ilmuwan yang bersangkutan. Dari berbagai pengalaman dan observasinya, ia menangkap bahwa seringkali terjadi miskomunikasi antara praktisi dunia sains dengan orang awam. Sains adalah hal yang sangat penting diketahui semua orang, tapi bagaimana orang awam bisa mengerti jika hal itu tidak dikomunikasikan dengan baik?
Alda mengajukan beberapa pertanyaan penting tentang komunikasi sains:
Tidakkah komunikasi sangat esensial dalam sains?
Mungkinkah sains dilakukan tanpa komunikasi?
Bagaimana dunia sains berharap didanai jika calon pemberi dana tidak memahami apa yang mesti mereka danai?
Bagaimana mengharapkan anak-anak muda memasuki dunia sains jika mereka tidak mendapat informasi tentang serunya dunia sains dari para praktisinya?
Tanpa membesar-besarkan, Alda mengatakan bahwa miskomunikasi bisa berujung kematian. Hal ini bisa terjadi misalnya ketika pasien tidak mengerti apa yang dikatakan dokter karena selalu memakai jargon-jargon medis yang membingungkan, sehingga si pasien tidak mengikuti sarannya, dan penyakitnya semakin parah.
Alda sendiri mengalami hal ini dengan seorang dokter gigi yang tidak mengomunikasikan suatu prosedur dengan baik, bahkan caranya tidak simpatik, sehingga menyebabkan putusnya suatu otot yang diperlukan untuk tersenyum. Dari kejadian ini Alda menyadari bahwa ketika dokter menganggap pasien hanya sebagai objek dan tidak melibatkan mereka dalam komunikasi dua arah yang jelas, hal-hal yang tidak diinginkan bisa terjadi.
Peristiwa itu, dan keterlibatannya dalam acara Scientific American Frontiers menjadikannya sangat peduli dengan komunikasi sains, dan berusaha mencari solusinya. Salah satu yang dilakukan Alda untuk memperbaiki komunikasi sains ini adalah mendirikan Center for Communicating Science di Stony Brook University di New York, dan menyebarkan temuan dan metoda mereka ke berbagai universitas dan sekolah medis di penjuru Amerika dan dunia.
Buku ini mengangkat banyak studi psikologi dan neurosains tentang empati. Meskipun bagian besar buku ini membahas komunikasi di dunia sains, namun wawasan di dalamnya bisa diterapkan dalam komunikasi secara umum. Dan kunci memperbaiki kemampuan komunikasi ini adalah dengan melatih empati.
Meskipun Alda menggunakan kata ‘relating’, tetapi yang saya tangkap, inti yang dibicarakannya sebenarnya adalah mengolah ‘awareness’. Dengan melatih empati, ‘mendengarkan’ tidak hanya dengan telinga, namun juga dengan mata dan rasa, kita memusatkan perhatian dan melatih awareness akan situasi di mana kita berada, sehingga bisa merespon situasi itu dengan baik.
Dalam workshopnya, tim Alda mengajarkan latihan improvisasi yang digunakan di dunia akting untuk melatih para praktisi dunia sains ini menjadi lebih sensitif akan lawan bicara atau pemirsanya. Apa saja? Macam-macam, ada latihan ‘mirroring’ atau menjadi cermin partnernya, ada juga bermain ‘lempar bola imajiner’, dll. Intinya, dari latihan-latihan ini, peserta dilatih meningkatkan sensitivitasnya terhadap bahasa tubuh partnernya, sehingga tercipta pemahaman dan sinkronisasi (in sync) dengan partnernya, dan komunikasi menjadi jauh lebih lancar.
Beberapa insight menarik dari buku ini di antaranya:
1. Orang yang berkepentingan mengomunikasikan sesuatulah yang bertanggung jawab membuat orang lain memahaminya.
Inilah mengapa penggunaan jargon ilmiah dalam komunikasi sains ke publik (apalagi hanya supaya terdengar pintar) adalah bentuk komunikasi yang buruk, karena si pembicara/penulis tidak melibatkan pemirsanya dalam komunikasi tersebut. Ia hanya memikirkan dirinya sendiri.
“If I tell you something without making sure you got it, did I really communicate anything? Was I talking to you, or was I just making noises?”
2. Dalam komunikasi sains ke publik, sebelum mulai mengomunikasikan isinya, pertama-tama publik harus dibuat ingin mendengarkan dan mengetahui lebih jauh. Temukan ‘entry point’ yang membuat mereka tertarik.
(Ini pernah dibahas juga di buku Randy Olson “Don’t Be Such A Scientist”). Seperti juga pernah dibahas oleh Randy Olson di buku “Houston, We Have A Narrative” storytelling adalah unsur penting dalam komunikasi sains, karena dapat menarik perhatian pemirsa.
“Good communication can make the difference between being noticed by a few technical journals and getting the attention of much of the rest of the world!”
3. Mengenai komunikasi sains dalam bentuk tulisan, saat menulis, bayangkan perspektif pembacanya. Ini juga yang dilakukan oleh Steven Strogatz ketika menulis buku The Joy of X. Dan ternyata, ‘temannya yang seorang seniman’ yang diceritakan oleh Strogatz di buku itu, yang mengeluhkan sulit memahami matematika, adalah Alan Alda. Strogatz menulis buku The Joy of X (tepatnya, seri tulisan matematika di NYTimes yang kemudian dibukukan), dengan membayangkan ia sedang menerangkan matematik kepada Alda.
Dalam sebuah esai, Strogatz menulis bahwa “Menjelaskan matematika dengan baik membutuhkan empati. Kita harus menyadari bahwa ada orang lain di ujung sana yang menerima penjelasan. Dalam pengajaran matematika umumnya pendekatannya adalah langsung ‘menyatakan asumsi, teorema, lalu pembuktian’ tanpa mempertimbangkan pertanyaan yang muncul di kepala muridnya dulu.” Ketika mengajar kelas matematika untuk awam, Strogatz membuka dengan puzzle dan membiarkan murid-muridnya mencari jawabannya sendiri dulu, sehingga muncul pertanyaan-pertanyaan, dan baru dijelaskan setelahnya.
4. “Simply giving a name to something doesn’t explain it.” Seperti yang diceritakan Richard Feynman di bukunya, ketika ayahnya mengajari Feynman kecil tentang burung. “You can know the name of that bird in all the languages of the world, but you’ll still know absolutely nothing about the bird. Look at the bird and see what it’s doing, that’s what counts.”
Ini sama dengan jargon dan istilah tadi ya. Nggak cuma di sains, tapi di berbagai bidang. Istilah-istilah tidak akan berguna tanpa kita tahu artinya.
Belajar mendengarkan dengan penuh perhatian, dengan fokus dan awareness, akan membuka mata akan hal-hal yang sebelumnya tidak tertangkap.
“It’s always possible to see more deeply into what we thought we knew, or to step back and see things through a larger frame of reference.”
Beberapa buku tentang komunikasi sains lainnya:
Don’t Be Such A Scientist – Randy Olson
https://www.facebook.com/bookolatte/posts/pfbid0tRnDDtSsVJmFL7w6kwuyFNshWsCG8usFtZmgcp6Z9kqjAgY2g7oQoQA9Ren2qWhcl
Houston, We Have A Narrative – Randy Olson
https://www.facebook.com/bookolatte/posts/pfbid0wRKGKLvM4hWfsm42Vq7QwFb7yVHL9vPNDFHnhrSCpqbA6FrNKJB4vWgncYtsH1jl
Buku-buku Science Writing
https://www.facebook.com/bookolatte/posts/pfbid02qYoBSnZJaRjptQTKrNaxS82V1DJbpJCkdm4i8vCLexuni1qU5nFFXGm24GKsMb9vl