Tahukah Anda, manusia tidak terlahir untuk membaca? Sampai beberapa ribu tahun yang lalu, tidak ada bahasa tulisan, dan karenanya tidak ada aktivitas membaca. Namun dengan terciptanya bahasa tulisan dan kegiatan membaca, manusia telah mengubah struktur otaknya, memperluas kemampuan berpikirnya, dan mendorong evolusi kecerdasan Homo Sapiens sehingga maju dengan pesatnya. Menakjubkan, bukan?
Dalam buku ini, pakar tumbuh kembang anak, peneliti disleksia dan direktur Center for Reading and Language Research Maryanne Wolf membahas secara mendalam tentang sejarah manusia membaca dan bagaimana proses neurobiologi dalam aktivitas membaca mengubah struktur otak manusia.
Proust and the Squid: The Story and Science of the Reading Brain
Maryanne Wolf
Icon Books (UK Edition, 2008)
320 hal
Maryanne Wolf adalah ilmuwan, guru, dan aktivis gerakan membaca dalam tumbuh kembang anak. Ia meneliti bidang neurosains kognitif dan psikolinguistik berhubungan dengan kegiatan membaca, literasi, dan disleksia; tentang bagaimana proses kerja otak ketika kita membaca, dan apa saja yang mempengaruhi pembentukan ‘reading circuit’ dalam otak.
Buku ini menyelidiki seluk beluk membaca dari sisi linguistik, arkeologi, sejarah, sastra, pendidikan, psikologi, dan neurosains, untuk mengungkap perspektif baru tentang bahasa tulisan dan perkembangan intelektual manusia. Bahasan utamanya yaitu bagaimana evolusi otak manusia setelah munculnya tulisan, bagaimana perubahan itu terjadi pada otak individu secara umum, dan bagaimana variasinya.
Mungkin ada yang bertanya, kok buku linguistik judulnya Proust and the Squid? ‘Proust’ diambil dari nama penulis Prancis, Marcel Proust, yang berpendapat bahwa membaca adalah sebuah suaka intelektual, di mana manusia bisa mengakses berbagai realita yang mungkin tidak akan pernah ia alami di dunia nyata, dan mengubah pandangan dan pemikirannya. ‘Squid’ adalah representasi penelitian neurosains yang menjadi basis buku ini, karena di awal penelitian neurosains pada tahun 1950an, ilmuwan menggunakan cumi-cumi sebagai objek studinya karena ia memiliki serabut saraf yang besar sehingga mudah diamati.
Buku ini terbagi 3 bagian besar:
I. How the Brain Learned to Read
Di bagian ini Wolf menjabarkan bagaimana manusia mulai belajar membaca sejak munculnya sistem tulisan sejak jaman Sumeria hingga Sokrates.
II. How the Brain Learns to Read Over Time
Di sini Wolf menjelaskan dengan sangat detail dari sudut pandang neurosains, apa yang terjadi pada otak manusia ketika seorang anak belajar membaca, dan apa saja yang mempengaruhi perkembangan sirkuit membaca di dalam otak.
III. When the Brain Can’t Learn to Read
Bagian ini memaparkan studi yang dilakukan Wolf dan para ilmuwan yang meneliti disleksia, atau gangguan kemampuan baca tulis.
***
Manusia tidak terlahir untuk membaca, namun otak manusia adalah sebuah organ yang plastis, mampu berubah dan beradaptasi sesuai tuntutan kerja yang dibebankan kepadanya. Strukturnya yang bisa dibilang terbuka, mampu membuat koneksi baru antar area dan sirkuit yang aslinya punya fungsi dasar tertentu, dan koneksi baru ini menghasilkan kecakapan yang sama sekali baru. Aktivitas membaca melibatkan serangkaian proses kognitif seperti fokus, memori, visual, auditorial, dan proses berbahasa. Melalui membaca, struktur otak manusia berubah.
Manusia baru mulai membaca setelah munculnya sistem tulisan, yang dimulai dengan paling tidak dua momen penting: yang pertama adalah munculnya representasi simbolis, seperti koin tanah liat atau batu sebagai simbol benda kongkrit yang ada di alam, contohnya hewan ternak. Yang kedua adalah terbentuknya suatu sistem dari sekumpulan simbol, yang digunakan untuk berkomunikasi antar individu atau antar budaya. Namun ada momen penting ketiga, yang tidak semua sistem tulisan kuno mengalaminya: kesadaran bahwa ada korespondensi antara simbol dengan bunyi, bahwa “kata” terdiri dari serangkaian bunyi, dan bunyi ini bisa diwakili oleh simbol tertentu. Yang terakhir ini terlihat dari perbedaan sistem tulisan cuneiform Sumeria atau hieroglif Mesir di mana satu simbol mewakili suatu objek utuh, dengan sistem tulisan yang lebih modern seperti Alfabet, di mana satu simbol mewakili satu bunyi atau fonem.
Sistem tulisan yang berbeda, dengan bentuk dan aturannya masing-masing, memunculkan jalur-jalur baru yang menghubungkan area-area otak yang sudah ada sebelumnya. Ibaratnya seperti dibangunnya jalur-jalur jalan baru antar kota-kota yang sebelumnya tidak terhubung, dan membawa perubahan signifikan bagi perkembangan kota-kota tersebut, menjadi lebih aktif, lebih hidup, dan memunculkan hal-hal baru. Dalam hal otak manusia, perubahan yang terjadi adalah dalam bentuk kemampuan berpikir yang menjadi berlipat ganda. Singkatnya, munculnya sistem tulisan membuat manusia punya lebih banyak waktu untuk berpikir, berimajinasi, memunculkan pemikiran dan imajinasi yang sama sekali baru.
Tapi tahukah Anda, Sokrates yang hidup di masa ketika tulisan masih terhitung baru, menolak keras penggunaan ‘teknologi baru’ ini. Menurut Sokrates saat itu, tulisan adalah teknologi yang berbahaya dan akan menggerus kemampuan intelektual manusia. Kita yang hidup di jaman sekarang mungkin merasa aneh, karena kita sudah melihat manfaat besar tulisan dalam sejarah manusia.
Namun sebenarnya protes Sokrates beralasan. Bagi Sokrates, ilmu pengetahuan didapat bukan dari sekadar informasi, namun perlu diolah di dalam diri melalui dialog, refleksi, analisa, dan berpikir kritis. Menurutnya, tulisan itu bisu, tidak bisa menimpali, tidak bisa diajak diskusi dan dialog, seperti yang selama ini ia lakukan dengan murid-muridnya. Karena itu baginya tulisan berbahaya karena membuat pembacanya tidak kritis lagi.
Nah kalau begini alasannya, kita bisa paham maksud Sokrates. Yang ia tolak bukanlah bentuk tulisannya sendiri, melainkan ‘aktivitas membaca yang tidak disertai pikiran kritis’. Oh kalau ini saya setuju, bukankah ini juga masalah kita jaman sekarang?
***
Apa sebenarnya yang terjadi pada otak manusia ketika ia belajar membaca? Di bagian II, Wolf membahas secara detail perkembangan otak anak yang mulai belajar membaca dari sudut pandang neurosains.
Di bagian ini ada beberapa informasi yang penting terutama bagi para orang tua, pendidik, dan pengambil kebijakan bidang pendidikan:
1. Kapan sebaiknya anak mulai belajar membaca?Nah, ternyata kesiapan membaca ada dasar biologisnya, tidak sekadar psikologis. Kegiatan membaca sangat tergantung pada kemampuan otak menghubungkan berbagai area melalui serabut syaraf, dan karenanya sangat tergantung pada kesiapan dan kematangan serabut-serabut tersebut. Kematangan tersebut ditandai dengan apakah sel-sel syaraf sudah dilindungi selaput myelin.
Pada manusia umumnya, proses myelinasi sel syaraf di area otak yang termasuk dalam sirkuit membaca baru selesai kira-kira antara umur 5 dan 7 tahun, bahkan lebih lambat pada anak laki-laki. Karena itu, anak sebaiknya baru belajar membaca DI ATAS usia 5 tahun, jadi antara 5-8 tahun. Jika sengaja diajari membaca sebelum itu, malah dapat mengganggu perkembangan anak yang bersangkutan.
Namun, tentu ada perkecualian. Ada anak-anak yang ada dalam kategori ‘hyperlexia’, yang mana mereka sudah bisa membaca secara alami sebelum usia 5 tanpa sengaja diajari. Bagi anak-anak seperti ini, biarkan mereka membaca, karena (somehow) mereka sudah siap secara alami.
2. Sebelum usia 5 tahun, aktivitas yang tepat untuk anak-anak adalah DIBACAKAN, atau MEMBACA NYARING BERSAMA, untuk mengenalkan balita pada simbol-simbol huruf dan kaitan mereka dengan bunyi bahasa. Buku-buku dengan puisi dan rima adalah bahan yang bagus untuk kegiatan ini.
3. Usia balita adalah masa penting perkembangan otak yang akan menyiapkan sirkuit membaca. Ada jurang literasi yang besar antara anak-anak yang di usia ini kurang mendapat stimulasi bahasa lisan dan tulisan, dengan mereka yang mendapat cukup stimulasi atau bahkan berlebih (misalnya tumbuh dikelilingi buku-buku bacaan). Namun perlu dicatat bahwa kondisi ini tidak hanya dapat dibebankan pada orang tuanya. Hal ini sangat terkait dengan kondisi sosial keluarga, tingkat pendidikan dan kemampuan ekonominya. Karena itu masalah literasi adalah tanggung jawab banyak pihak. It takes a village to raise a literate child (and a literate nation!).
***
Di bagian terakhir Wolf membahas temuan-temuan dari penelitian tentang disleksia, di mana seseorang mengalami kesulitan membaca dan mengenali simbol. Wolf terjun meneliti disleksia karena salah satu anaknya memiliki karakteristik ini.
Ada beberapa temuan yang menarik dari studi tentang disleksia ini:
1. Wolf mengamati bahwa banyak orang yang menderita disleksia ternyata dibarengi dengan bakat di bidang-bidang yang berkaitan dengan ‘pattern recognition’, baik itu di bidang seni, saintek, komputer, finansial (mengenali pola data) dll.
Membaca ini saya jadi ingat buku Pattern Seekers lagi deh. Bukankah menurut Simon Baron-Cohen, kemampuan mengenali pola itulah kekhasan yang dimiliki para inventor, yang tidak jarang juga memiliki karakteristik neurodivergen (autisme, ADHD, dyslexia, hyperlexia, dll).
2. Berdasarkan studi brain imaging yang membandingkan otak para penderita disleksia, ditemukan pola tertentu, yang lain dari otak pada umumnya. Sirkuit otak yang berkaitan dengan kemampuan berbahasa pada umumnya lebih besar di otak kiri daripada otak kanan, alias asimetri. Ternyata pada mereka yang disleksia, sirkuit ini simetri antara otak kiri dan kanan.
Apa yang terjadi? Diperkirakan, pada awal perkembangannya, sirkuit di otak kiri terganggu tumbuh kembangnya sehingga otak beradaptasi dengan ‘membuat jalur baru’ melalui otak kanan yang fungsinya seperti sudah diketahui lebih berkaitan dengan intuisi, imajinasi, kemampuan visual spasial, dan pattern recognition.
Wow, bagi saya info ini menarik sekali. Pantas saja orang-orang jenius dan inventor yang dibahas di buku Pattern Seekers banyak yang mengalami speech delay, dan mereka bisa melihat pola-pola yang tidak bisa dilihat orang pada umumnya. Ternyata memang sirkuit yang memproses informasinya punya jalur yang berbeda, lebih intuitif, imajinatif, kreatif, dan out of the box.
Saya baca buku ini bersamaan dengan buku The Only Woman in the Room, yang dalam reviewnya saya sambungkan dengan insight dari buku The Pattern Seekers. Nggak disangka, buku ini juga ternyata sangat nyambung dengan buku The Pattern Seekers.
***
Meskipun ini buku pertama yang ditulis Maryanne Wolf, tapi saya malah duluan baca buku keduanya “Reader, Come Home” setahun yang lalu.
Namun kedua buku Wolf ini telah menjawab pertanyaan yang lama mengganjal di pikiran saya, tentang “Kalau manusia semakin malas menggunakan otaknya untuk membaca/belajar secara mendalam (deep reading) dan lebih senang mengonsumsi tulisan ringan (itu juga cuma dibaca judulnya), apakah di masa depan manusia akan kehilangan kemampuan membaca (dan berpikir) serius?”
Munculnya bahasa tulisan dan kegiatan membaca adalah titik penting dalam evolusi kecerdasan Homo Sapiens: tulisan membebaskan otak manusia dari keharusan mengingat, sehingga punya memori lebih banyak untuk berpikir dan berimajinasi, menciptakan hal-hal baru. Kegiatan membaca membentuk sirkuit baru yang membuat pemrosesan informasi lebih cepat, otomatis, dan efisien. Efisiensi dalam proses informasi membawa kemajuan, sehingga Homo Sapiens melejit menjadi makhluk paling sukses di Bumi.
Buku ini menjelaskan dengan sangat detail dan gamblang, mengapa membaca, tepatnya membaca kritis dalam bentuk deep reading, berdialog dengan bacaannya, adalah kegiatan yang sangat penting bagi pengembangan intelektual seseorang. Bukan sekadar karena informasi bacaannya, melainkan dari proses kognitif yang terjadi ketika kegiatan membaca itu terjadi. Semakin kompleks proses berpikirnya, semakin besar evolusi intelektualnya. Menakjubkan bukan.
Iqra, indeed.
====
Buku Proust and the Squid, juga buku-buku ilmiah populer bermutu lainnya bisa dibaca di Perpustakaan Ilmiah Populer Book-o-latte di Dapur Ceu Ita jl Cisitu Baru 46, Bandung.
Review buku Maryanne Wolf kedua, “Reader, Come Home”
https://www.facebook.com/bookolatte/posts/pfbid0ysg22kVgfyoyMqdaM4kpiaSBnry6jyRJhve4WEZiRaMX8DddAkjVK7GE6fCHyrrUl
Review buku Pattern Seekers
https://www.facebook.com/bookolatte/posts/pfbid05rXA4pkrXqWJksyvTibeeJWThpqYjcz5bYaprQX756YezbrFtsV8nfQsN1Cds9kbl