Menjelang pemilu, medsos kembali hangat dengan hoax dan pertengkaran yang ditimbulkan karena perbedaan pandangan. Karena itu, mempelajari ilmu logika merupakan hal penting yang dapat membantu kita menyikapi berbagai keributan di medsos. Buku yang ditulis Pak Faiz ini merupakan salah satu buku yang bisa membantu kita membedah pemikiran kita sendiri dan pemikiran orang lain, demi ketenangan dan kejernihan pandangan di masa-masa penuh gelut seperti sekarang ini.
Ihwal Sesat Pikir dan Cacat Logika: Membincang cognitive bias dan logical fallacy
Fahruddin Faiz
Penerbit MJS Press, cetakan ketiga Juni 2023
200 halaman
Seperti gaya bicara Pak Faiz yang kalem dan santai, buku ini juga memiliki aura yang sama. Santai, dan kocak. Pak Faiz dengan rendah hati mengatakan bahwa buku ini tidak istimewa, karena hanya menuliskan ulang prinsip-prinsip ilmu logika, terutama bab cognitive bias dan logical fallacy. Cocok dibaca untuk awam yang ingin tahu bagian penting dari ilmu logika, walaupun tentu saja, untuk melengkapinya perlu juga membaca buku-buku logika yang lain, seperti yang dipajang di foto.
Pak Faiz memilih membahas cognitive bias di bagian satu, dilanjutkan dengan logical fallacy di bagian dua. Bagian pertama berguna untuk memeriksa kesalahan pikir kita sendiri, sedangkan bagian kedua berguna untuk mengenali kesalahan dalam argumen orang lain dan juga menjaga kita agar tidak melakukan kesalahan yang sama. Tiap bagian terdiri dari beberapa esai pendek seputar topik yang diangkat, disertai contoh-contoh yang mudah dipahami dan kocak. Buku ini cukup baik untuk dijadikan rujukan penulisan ilmiah, tapi juga bisa dibaca santai sambil ngopi.
Buku dibuka dengan sejarah singkat ilmu logika, dan mengapa ilmu ini penting untuk dipelajari. Apa gunanya ilmu logika? Bukankah berpikir merupakan suatu kegiatan yang secara alamiah dilakukan manusia? Ilmu logika dikembangkan sebagai panduan untuk berpikir secara benar dan runtut. Seperti panduan langkah-langkah untuk mengoperasikan mesin cuci, ilmu logika juga memberi panduan langkah-langkah untuk memanfaatkan daya pikir kita. Dengan ilmu logika, kita bisa melacak di langkah ke berapa alur pikir kita salah, yang akhirnya menghasilkan kesimpulan yang salah. Salah satu hal yang membuat kita salah langkah adalah adanya cognitive bias.
Cognitive bias adalah kecenderungan seseorang untuk memberikan penilaian yang tidak sesuai dengan kaidah rasionalitas, alias sesat pikir. Adanya bias dalam berpikir ini membuat penilaian kita tidak akurat, karena persepsi kita tentang sesuatu telah terdistorsi. Pak Faiz memberi 33 contoh cognitive bias yang tanpa sadar bisa merasuki pemikiran kita. Banyak juga ya? Makanya, jangan terlalu cepat menyimpulkan dan menghakimi sesuatu sebagai benar atau salah. Siapa tahu sebenarnya kita sedang dipengaruhi oleh salah satu dari 33 contoh bias yang ada, sehingga penilaian kita tidak akurat. Salah satu contoh bias yang menarik adalah bias yang membuat kita merasa telah ‘melihat ada wajah di Mars’. Ini merupakan bias yang muncul karena manusia memang adalah mahluk pencari pola. Mata dan pikiran kita secara otomatis tertarik pada pola. Bahkan walaupun sebenarnya pola itu tidak ada, pikiran kita terus ‘menyarankan’ pada kita bahwa ada pola-pola yang bisa dikenali dan bermakna penting di sekitar kita. Cognitive bias macam ini membuat kita mudah jatuh mempercayai teori konspirasi dan cocoklogi. Atau dalam bentuk yang santai dan menyenangkan, membuat kita senang bermain mencari kata tersembunyi dalam sebuah gambar, hehehe.
Sedangkan logical fallacy adalah kesalahan pikir yang diakibatkan oleh cara berpikir yang tidak disiplin, tidak runtut. Kesalahan ini mungkin tidak disengaja karena pelakunya kurang disiplin, atau bisa juga disengaja dengan tujuan membujuk atau menipu orang lain. Istilah fallacy sendiri berarti ‘tipuan’. Dalam ilmu logika, logical fallacy adalah salah satu dari lima seni berargumen untuk mempengaruhi orang lain. Memang, di tangan orang yang berniat lurus, seni ini menjadi bermanfaat. Sebaliknya, bisa membawa kerusakan besar jika digunakan untuk kejahatan.
Salah satu contoh logical fallacy yang sering digunakan untuk mempengaruhi orang lain adalah false dilemma. Teknik yang digunakan adalah menyodorkan dua pilihan yang seolah bertentangan, sehingga orang yang ditanya terpaksa memilih salah satu yang dianggap benar. Perekrut teroris sering menggunakan teknik ini, dengan cara memaksa orang memilih antara agama vs negara. Padahal pada kenyataannya, agama tidaklah secara absolut versus negara , dan pilihan pun tidak hanya ada salah satu di antara membela agama atau membela negara. Tapi orang awam mudah sekali terjebak dalam argumen macam ini.
Contoh logical fallacy lain yang sering menjadi sumber pertengkaran di medsos adalah salah definisi. Kita jarang sekali mencoba menyamakan definisi tentang sesuatu sebelum kita membahas atau bertengkar mengenai hal tersebut. Seringkali, pertengkaran muncul karena tiap kubu memegang definisi yang memang berbeda. Akibatnya terjadi debat kusir tiada akhir. Padahal semua keributan bisa dihindari seandainya semua pihak berhenti dulu dan menyepakati apa sebenarnya yang ingin dibahas. Apakah kita ingin bicara mengenai hukum pemilu yang tertulis? Atau sekadar interpretasi sebuah kelompok mengenai hukum tersebut, yang bisa salah atau benar tergantung konteksnya? Apakah batasan konteksnya sudah disepakati? Kalau hal ini tidak didudukkan sebelum diskusi, maka yang terjadi adalah eyel2an, perang tanding siapa yang paling kuat mencaci lawan. Oh ya, mencaci lawan adalah bentuk logical fallacy yang lain, yaitu ad hominem. Alih-alih membahas argumen, yang dibahas adalah si pelontar argumen: betapa jelek tampangnya, betapa tidak sopan tindak tanduknya, dan betapa buruk caranya bicara. Familiar banget kan dengan keributan di medsos selama ini, hehehe.
Karena itulah, buku ini penting untuk dibaca. Semoga bisa menyuntikkan hawa sejuk dan kewarasan dalam menghadapi pesta demokrasi tahun depan. Amiiin.