Cart

Your Cart Is Empty

Origin

Origin

image

Author

Ani

Published

Februari 18, 2024

Ini adalah salah satu novel science fiction yang kami suka: Origin, karya penulis terkenal Dan Brown. Novel ini berkisah tentang AI, dengan cara bercerita khas Dan Brown yang penuh aksi dan misteri. AI yang diceritakan di novel ini, sebuah kecerdasan buatan yang bernama Winston, tentunya belum terwujud saat ini. Namun, dengan cepatnya perkembangan teknologi belakangan ini, siapa tahu ada AI yang siap menguasai dunia sebentar lagi?

Resensi kali ini ditulis oleh reviewer tamu, Shanty Dewi Arifin. Terima kasih yaa!

—–

Judul: Origin
Penulis: Dan Brown
Tahun Terbit: 2017
Penerbit Bahasa Indonesia: Bentang
Penerjemah Bahasa Indonesia: Ingrid Dijani Nimpoeno, Reinitha Amalia Lasmana, Dyah Agustine
Editor: Esti Ayu Budhihapsari
Halaman: 516 halaman

Masih mempertanyakan “Darimana asal kita dan kemana kita akan pergi?” mungkin terasa konyol bagi orang-orang religius. Ya cukup yakin saja berasal dari Adam dan Hawa, dan kita semua akan berakhir di surga atau neraka bergantung amalan kita selama hidup. Selanjutnya, mari meneruskan hidup dan berusaha tidak membebani hidup orang lain dengan “pinjam dulu seratus.”

Namun bagaimana ketika dihadapkan dengan pilihan hidup tanpa teknologi atau tanpa agama? Bisakah kita lebih memilih hidup tanpa obat-obatan, listrik, transportasi, internet, atau tanpa orang-orang fanatik yang saling perang atas nama agama?

Di tangan seorang penulis sekaliber Dan Brown, pertanyaan ini menjadi menarik, dan siapa sangka… jawabannya malah bisa menguatkan pemahaman spiritual.

Itulah yang membuat saya suka dengan tulisan Dan Brown tahun 2017 ini. Jauh lebih suka dibandingkan dengan karya Brown sebelumnya Angels and Demons (2000) dan The Da Vinci Code (2003) karena memilih tema yang lebih membumi untuk banyak orang.

Plot cerita Origin masih mengambil pola yang sama dengan pengalaman Prof. Robert Langdon sebelumnya. Walau begitu, alur cerita yang hanya memakan waktu 3 hari sebelum pembunuhan tokoh utama, dan 24 jam setelahnya, bisa membuat kita terpaku membaca novel setebal 500 halaman ini.

Tokoh cerita adalah Edmond Kirsch yang seorang ilmuwan, futuris kaya raya dan eksentrik. Terus terang, ia mengingatkan saya pada Elon Musk. Eh ternyata dalam cerita, Edmond Kirsch ini memang temenan dengan Elon Musk yang diceritakan mengantarkan sendiri mobil Tesla model X ke rumahnya.

Cerita dibuka dengan pertemuan Edmond Kirsch dengan pemuka agama Katolik, Yahudi, dan Islam di Biara Montserrat Spanyol. Edmond ingin mendengar tanggapan dari pemuka agama ini mengenai penemuan yang dinilainya akan menjungkir balikkan keyakinan religius umat beragama, sebelum ia mengumumkannya kepada dunia.

Tentu saja ketiga pemuka agama ini khawatir dengan informasi yang disampaikan Edmond. Terlebih setelah Edmond memutuskan untuk menyiarkan penemuannya secara terbuka hanya 3 hari kemudian dalam sebuah presentasi di Museum Guggenheim Bilboa Spanyol.

Langdon adalah profesor favorit Edmond di Harvard yang sering ia ajak diskusi, terutama mengenai asal-usul kehidupan dan simbol-simbol. Khusus untuk presentasi malam itu, Edmond mengundang Langdon.

Setelah sempat bertemu singkat sebelum presentasi dan menyampaikan kekhawatiran mengenai ancaman yang ia terima, Edmond ditembak tepat saat ia presentasi di depan 3 juta penonton acara live. Padahal ia belum selesai menyampaikan presentasi utamanya.

Bersama direktur Museum Gugenheim Bilboa yang juga tunangan calon Raja Spanyol, Ambra Vidal, Langdon memulai petualangannya untuk mencoba membuka sandi presentasi Edmond yang belum selesai.

Dibantu oleh kecerdasan buatan ciptaan Edmond bernama Winston, kita diajak kabur naik jet pribadi Edmond dari Bilboa ke Barcelona. Seperti karya Brown yang lain, Origin mengajak kita untuk mupeng healing ke Spanyol. Untuk melihat keindahan Museum Guggenheim karya Frank Gehry di Bilboa, Casa Mila dan Sagrada Familia karya Antoni Gaudi di Barcelona, dan banyak lagi. Rasanya nggak sabar menyaksikan novel ini dalam bentuk film.

Setelah perjalanan berlika-liku dan begitu banyak diskusi sejarah perkembangan manusia, akhirnya ketemulah sandi 47 kata untuk membuka presentasi Edmond mengenai asal usul manusia.

Yaitu sebuah kutipan buku William Blake: The dark religions are departed & sweet science reigns.

“Sains yang baik akan meruntuhkan agama kegelapan…sehingga agama terang dapat berkembang.”

Yang menarik dari novel ini buat saya adalah Brown memberi ruang luas untuk pembaca menginterpretasikan penemuan berdasarkan sains bahwa manusia memang bukan tidak mungkin berasal dari ketidakadaan atau sebuah reaksi kimia. Namun kebenaran hakiki yang bersifat Ilahiah juga tidak bisa kita pungkiri dengan hadirnya pesan-pesan yang bisa dibaca di alam dengan jelas. Pesan yang sifatnya universal dan dibuat oleh kecerdasan yang super tinggi.

Pesan lain yang sangat penting dari novel ini adalah bagaimana mudahnya kita dimanfaatkan oleh pihak lain demi keuntungan mereka. Dalam konteks novel ini diwakili oleh Laksamana Luis Avilla yang hidupnya jadi berantakan karena keluarganya tewas dalam serangan teroris di sebuah katedral. Kemarahan yang terpendam tidak bisa selesai dengan sekedar saran untuk memaafkan atau malah memberikan pipi kiri saat pipi kanan dipukul, membuat Avilla jadi mudah percaya saat diarahkan untuk melepas kemarahannya dengan membunuh pelaku yang bertanggung-jawab terhadap tewasnya keluarganya. Brown menuliskan dengan apik bagaimana Gereja Palmarian berhasil mencuci otak seorang Avilla untuk melakukan serangan sesuai yang diinginkan. Hal yang rasanya familiar dilakukan oleh pihak-pihak lain untuk membuat dunia terasa mengerikan.

Mengenai pertanyaan kemana manusia akan pergi, ini juga sangat menarik. Melalui kecanggihan komputer kuantumnya, Edmond berhasil mensimulasi arah perkembangan evolusi manusia. Namun alih-alih mengerikan, ternyata harapan untuk dunia yang lebih baik sangat mungkin terwujud.

Ini membuat saya teringat dengan novel Thunderhead, sekuel novel karya Neal Shusterman, Scythe. Di novel itu, kecerdasan buatan mampu mengatur dunia dengan lebih baik dibandingkan manusia.

Jadi, sudah siapkah mengganti para pemimpin politik dengan AI? Hehe.

Join Us

Book

O Latte

Follow IG untuk membaca review kami

Join Us on Spotify

Our Location

My Place

The place I like the most

Get Direction