Cart

Your Cart Is Empty

The Creative Spark – Bagaimana Imajinasi Mengarahkan Evolusi Manusia

The Creative Spark – Bagaimana Imajinasi Mengarahkan Evolusi Manusia

image

Author

Ani

Published

Februari 18, 2024

Kebanyakan orang, karena salah memahami teori Survival for the fittest dari Darwin, mengira bahwa kunci keberlangsungan hidup adalah menang dari persaingan. Gara-gara itu, sampai di kehidupan modern pun, sikap agresif untuk meraih prestasi individu dielu-elukan. Buku ini menunjukkan bahwa pandangan tersebut salah besar. Kunci keberlangsungan hidup justru ada pada kreativitas dan kerjasama. Mari kita simak review asyik dari mbak Dyah Purana ini!

——–

The Creative Spark – Bagaimana Imajinasi Mengarahkan Evolusi Manusia
Agustin Fuentes
Globalindo Kreatif, 2020
365 halaman

Ini buku yang berbasis sains, penulisnya yaitu Agustin Fuentes, seorang Profesor Antropologi di Universitas Notre Dame, sekaligus Ketua Departemen Antropologi di Universitas tersebut.

Buku ini ditulis tahun 2018, diterbitkan oleh CV. Globalindo Kreatif tahun 2020. Terjemahannya lumayan lah menurut saya, meski ada beberapa kalimat di akhir buku yang ‘gak bunyi’. Jika dibandingkan dengan buku terjemahan penerbit KPG atau Gramedia Grup, masih kurang nih kualitas terjemahan Globalindo.

Fuentes melakukan penelitian kehidupan monyet Macaca (kera ekor panjang) di Padangtegal, Bali, Indonesia. Dia menemukan pola yang cocok dengan perilaku modern pada manusia dan hewan. Dengan memanfaatkan temuan terbaru dalam evolusi, biologi, dan arkeologi, Fuentes berkesimpulan bahwa pendorong besar kemajuan manusia adalah kreativitas dan kerjasama. Fuentes juga mengatakan bahwa banyak hal yang kita yakini tentang diri kita sendiri adalah SALAH.

Bagaimana penjelasannya?

Manusia adalah anggota primata tertentu yang disebut antropoid, sub spesifik hominoid, himpunan hominin.

Primata — Antropoid — Hominoid — Hominin

Sejarah kehidupan di planet ini bagaikan semak bercabang raksasa dengan jutaan cabang, ranting dan daun. Daun dan ranting yang terdekat adalah kerabat dekat evolusi. Kita berbagi cabang dengan monyet Macaca tapi ranting kita terpisah 25-30 juta tahun yang lalu. Sedangkan dengan kera Afrika (gorila dan simpanse) kita terpisah 7-10 juta tahun silam.

Kehidupan kera punya struktur hirarki sosial, tetapi hirarki primata tidak ketat dan tidak statis. Hubungan kekuasaan bisa dinegosiasikan dengan teman dan musuh. Fleksibilitas ini mencerminkan bakat primata untuk solusi sosial yang kreatif. Kita melihat percikan kreatif primata pada hal-hal seperti: bisa membuat alat dan menggunakannya, mampu meningkatkan pembelajaran sosial, dan mampu mencari cara untuk bekerja sama.

Manusia adalah bagian dari radiasi adaptif hominin (Radiasi adaptif adalah istilah untuk menyebut cara berkembangnya keanekaragaman bentuk kehidupan). Kita adalah anggota dari genus homo, spesies sapiens, dan subspesies sapiens. Genus kita memiliki beberapa karakteristik fisik yang memisahkan kita dari hominin lainnya yaitu: otak dan tubuh makin besar, gigi makin kecil, dan mampu memiliki kehidupan yang berisi banyak petualangan, kerjasama, dan kreativitas.

Proses perkembangan kreativitas dimulai saat organisme dapat memenuhi tantangan makronutrien makanan, karena makronutrien sangat penting untuk memasok energi pada otak. Jika berhasil, organisme tersebut akan berkembang baik dalam permainan evolusi. Namun tantangan ini sangat tidak mudah. Walaupun demikian, Sapiens menaklukkan tantangan makanan itu dengan cara membuka cabang alternatif jenis makanan baru. Dijelaskan oleh penulis bahwa 1,95 juta tahun silam, Sapiens di daratan Kenya mulai mengonsumsi kura-kura dan ikan lele. Peningkatan keragaman dan kompleksitas makanan membuat Sapiens memenangkan permainan evolusi. Hal itu semakin dipermudah ketika otak kita tumbuh lebih besar.

Otak yang lebih besar memungkinkan kita mempunyai lebih banyak kemampuan kognitif untuk berkreasi dengan batu, kayu, makanan, dan lain-lain. Ini sangat diperlukan oleh komunitas manusia dalam membesarkan bayi. Dibandingkan bayi primata lain, bayi manusia perlu waktu lama untuk bisa mandiri. Bayi manusia sangat tidak berguna bagi kelompok mereka, karena si bayi menguras sumber daya kelompok, tidak memproduksi makanan sendiri, dan tidak bisa menangkis predator atau kontribusi lainnya pada kelompok.

Tapi justru di sinilah letak kunci keberhasilan manusia. Kita menemukan cara untuk membesarkan bayi sampai otak dan tubuh mereka berkembang. Cara ini memungkinkan adanya pembelajaran dalam perkembangan otak dan potensi untuk mengembangkan inovasi, imajinasi, dan kreativitas. Kita melakukan ini dengan menemukan cara-cara kreatif untuk meningkatkan kerjasama dan membangun komunitas. Jadi jarak yang panjang antara bayi baru lahir sampai dia bisa mandiri mencari makanannya, justru menimbulkan keuntungan evolusioner pada manusia.

Kreativitas manusia selanjutnya merambah ke domestikasi hewan, mulai dari sapi, kambing dan anjing. Domestikasi tidak dimulai sebagai manipulasi yang disengaja oleh manusia. Peristiwa domestikasi yang paling awal adalah hasil yang tidak disengaja dari kegiatan berburu. Pembangunan komunitas kreatif yang menjadi ciri awal sejarah kita sebenarnya berjalan dua arah, saling mempengaruhi antara manusia dengan hewan. Ketika kita membentuk kembali makhluk lain, mereka juga membentuk kembali kita. Yuval Harari dalam buku Sapiens mengatakan bahwa domestikasi berperan dalam perubahan manusia dari pemburu-pengumpul (hunter gatherer) menjadi petani.

Selain hal-hal di atas, manusia juga mengalami kreativitas dalam kegiatan seksual. Seks bagi Sapiens lebih dari sekedar tindakan biologis untuk mendapatkan keturunan. Seks adalah bagian sentral dari kehidupan kita. Reproduksi seksual berevolusi ratusan juta tahun silam, dari organisme aseksual yang bereproduksi dengan membelah diri. Bayangkan amoeba, dia gak perlu pasangan untuk menggandakan diri, gak perlu kawin. Pernah nggak terbayang kapan perubahan reproduksi membelah diri seperti amoeba tadi kemudian perlahan, sangaaat perlahan, berubah menjadi kawin, menjadi reproduksi seksual. Reproduksi seksual berkembang, kemungkinan besar sebagai respon untuk menghadapi perubahan lingkungan. Reproduksi seksual menciptakan variasi baru dengan penggabungan data genetik orang tua, dan memberikan keturunan dengan lebih banyak pilihan keunggulan untuk menjawab tantangan lingkungan. Itulah jawaban menurut Fuentes.

Meneliti kisah evolusi manusia membuat kita paham dimana letak poin-poin kreativitas yang mendukung kelangsungan hidup kita. Poin-poin tersebut berkaitan dengan:
• Makanan
• Seks atau hubungan
• Kekerasan
• Iman
• Seni
• Terakhir dan paling penting, SAINS

Menjadi manusia adalah proses kreatif. Saat ini kita membutuhkan kreativitas lebih dari sebelumnya. Dua juta tahun silam nenek moyang kita kecil, telanjang, tak berperasaan, tanpa tanduk ataupun cakar. Karena itu dulu mereka sangat rentan dimangsa predator, tapi ternyata mereka telah berhasil melampaui kemungkinan yang mustahil, bahkan berjaya di bumi. Semua karena mereka memiliki satu sama lain, dan memiliki percikan kreativitas. Demikian juga kita.

Join Us

Book

O Latte

Follow IG untuk membaca review kami

Join Us on Spotify

Our Location

My Place

The place I like the most

Get Direction