Cart

Your Cart Is Empty

The Man Who Mistook His Wife for a Hat (and Other Clinical Tales)

The Man Who Mistook His Wife for a Hat (and Other Clinical Tales)

image

Author

Ani

Published

Februari 18, 2024

Otak adalah bagian tubuh yang penuh misteri. Ia mengatur bagaimana fisik kita bekerja, mengindera berbagai pengalaman, berpikir, merasa, dan mencerap realitas. Bagian tubuh ini menjadi fokus investigasi di bidang kedokteran, biologi, psikologi dan psikiatri, dan sekarang semakin multidisiplin seiring usaha manusia memahami kesadaran. Sampai saat ini pun pengetahuan manusia tentang bagaimana otak bekerja masih terbatas, namun neurosains termasuk ilmu yang semakin pesat perkembangannya, seiring dengan berkembangnya teknologi untuk mempelajarinya.

Salah satu penulis topik neurosains dalam literatur populer yang namanya sudah malang melintang sejak puluhan tahun yang lalu adalah Oliver Sacks. Saya punya 4 judul bukunya, tapi baru kali ini saya baca (malah anak saya yang sudah duluan baca semuanya, haha, ibunya kalah). Buku neurosains pertama yang saya baca malah buku relatif baru, The Man Who Tasted Words (2022) yang ditulis neurolog Guy Leschziner. Judul bukunya mengingatkan sama buku Oliver Sacks yang ini.

The Man Who Mistook His Wife for a Hat (and Other Clinical Tales)

Oliver Sacks
Touchstone (reprint 1998)
243 hal

Oliver Sacks adalah dokter neurologi asal Inggris yang kemudian pindah ke Amerika Serikat di usia 20an, di mana ia kemudian tinggal dan bekerja hingga akhir hayatnya, yang sebagian besarnya ia habiskan di New York City. Selain mengajar di fakultas kedokteran Yeshiva University, ia juga mengajar di NYU dan Columbia University. Selain itu ia juga sempat menjadi visiting professor di University of Warwick (kampusnya pak Ian Stewart yang kemaren itu lho).

Sejak akhir 1960an, Sacks mulai menuliskan pengamatan-pengamatannya atas berbagai kasus yang dialami pasien-pasiennya. Selain menulis di jurnal-jurnal kesehatan, juga di majalah dan suratkabar populer seperti The New Yorker dan The New York Times, dan tentu saja diterbitkan dalam bentuk buku, yang sudah mendunia dan diterjemahkan dalam 25 bahasa. Salah satu alasannya menulis kasus pasien secara komprehensif, adalah karena menurutnya cara dunia modern menuliskan kasus pasien itu ‘dehumanizing’.
“There is no ‘subject’ in narrow case history…’a trisomic albino female of 21′ could as well apply to a rat as a human being,” tulisnya. Nulis kasus pasien kayak nyeritain tikus aja.

Buku ini merupakan kumpulan tulisan lepasnya sejak tahun 1970an, yang kemudian pertama kali dibukukan tahun 1985. Isinya bercerita tentang kasus-kasus neurologi yang dialami pasien-pasiennya. Judul buku ini, The Man Who Mistook His Wife for a Hat, diambil dari bab yang bercerita tentang Mr.P, seorang guru musik yang mengalami gangguan dalam mengenali suatu objek. Awalnya ia dikira mengalami gangguan penglihatan, karena sering salah mengenali suatu benda, misalnya menepuk-nepuk meteran parkir yang dikiranya kepala anak muridnya. Makanya ia salah mengenali istrinya sebagai topi. Namun setelah diperiksa ternyata penglihatannya baik-baik saja. Yang bermasalah adalah area otak yang berfungsi mengenali apa yang dilihat, yang terganggu oleh munculnya tumor.

Sacks membagi buku ini menjadi 4 bagian besar: “Losses” yang menceritakan apa yang terjadi ketika otak kehilangan suatu fungsi; “Excesses” ketika terjadi penajaman atau peningkatan aktivitas suatu fungsi otak tertentu; “Transports” ketika terjadi sesuatu di otak yang menyebabkan seseorang merasa mengalami sensasi realita di ‘alam lain’; dan “The World of the Simple” mengupas kasus-kasus yang dialami pasien-pasien yang mengalami keterbelakangan mental.

Semua cerita di sini sangat menarik, dan disampaikan dengan bahasa yang, meskipun terasa ‘jadul’ dan relatif banyak jargon akademik, namun mudah diikuti. Saya suka gaya penulisan pak Sacks yang mendalam, filosofis, hati-hati, dan mengangkat sisi kemanusiaan para pasiennya, menyentuh empati pembaca. Tidak ada yang luput dari perhatiannya. Ia mengambil dan menjalin pemikiran-pemikiran dari dunia neurosains, psikiatri, sastra, filsafat, dan kadang bidang lainnya (seperti matematika, misalnya) untuk membantunya memahami fenomena-fenomena yang dialami oleh para pasiennya.

Dari berbagai cerita di buku ini, ada beberapa yang ingin saya angkat di review ini. Misalnya bab “The Disembodied Lady” menceritakan Christina seorang ibu muda yang aktif dan energik, namun setelah suatu operasi kantong empedu, ia kehilangan indera proprioception, yaitu indera yang mengenali bagian tubuh sebagai bagian dari diri, meskipun tanpa melihatnya. Kalau kita menutup mata, kita tetap tahu di mana kaki atau tangan kita bukan? Nah, Christina kehilangan indera itu, akibatnya ia merasa seperti jiwa yang melayang-layang tanpa tubuh. Ia baru bisa berfungsi secara ‘normal’ menggerakkan anggota badannya jika dilakukan sambil melihatnya langsung dan berkonsentrasi kuat. Jika konsentrasi terpecah, atau menutup mata, ia kehilangan kontrol. Yang menyedihkan adalah karena gangguan ini tidak terlihat secara fisik, orang lain jadi menganggapnya hanya ‘orang yang lamban’, dan kadang jadi sasaran omelan orang-orang yang tidak sabar. Duh, sedihnya.

Yang juga menarik adalah cerita tentang The Twins, si kembar autistik John dan Michael yang berkomunikasi lewat bilangan prima, soalnya bab ini tanpa disangka menyebut-nyebut Ian Stewart yg bukunya pas banget baru saya baca sebelumnya (saya baru tahu hari ini kalau mereka sama-sama pengajar di Univ of Warwick, hehe). Si kembar ini kalau disuruh menghitung aritmetika tidak bisa, tapi mereka bisa ‘melihat’ dunia bilangan. Mereka ‘bermain’ dengan cara bertukar bilangan prima, dan menemukan bilangan prima baru membuat mereka senang. Bilangan-bilangan itu seolah menjadi ‘landmark’ di dunia mereka, yang bisa langsung mereka kenali. “Numbers for them are holy, fraught with significance,” tulis Sacks. “One’s soul is ‘harmonical’ whatever one’s IQ, and perhaps the need to find or feel some ultimate harmony or order is a universal of the mind, whatever its powers, and whatever form it takes.”

Silakan dicari buku-buku neurosains pak Oliver Sacks, kalau nggak salah buku yang ini sudah diterjemahkan. Buku-buku lainnya kemarin saya temukan di Big Bad Wolf untuk koleksi perpus Bookolatte.

Terkait:

The Man Who Tasted Words: A Neurologist Explores The Strange and Startling World of Our Senses (Guy Leschziner)
https://www.facebook.com/bookolatte/posts/pfbid02DBrws9iH1qUtwzz7X35qGx5GWYBwZu2c7yamSQCLoNFgwHSPfuKJhC6YmgErUZCMl

Join Us

Book

O Latte

Follow IG untuk membaca review kami

Join Us on Spotify

Our Location

My Place

The place I like the most

Get Direction