Ini buku terbaru Carlo Rovelli, baru terbit bulan Oktober 2023 yang lalu. Dalam bukunya kali ini, Rovelli mengajak pembaca terjun ke dalam black hole.
White Holes
Carlo Rovelli
(diterjemahkan dari bhs Italia oleh Simon Carnell)
Riverhead Books (2023)
158 hal
Ini buku ketiga Rovelli yang saya baca setelah Helgoland (2021) dan Seven Brief Lessons on Physics (2014).
Buku ini merupakan penjelasan tentang hipotesisnya (dan muridnya, Hal) bahwa black hole, di mana semua informasi hanya bisa masuk dan tidak bisa keluar, bisa bertransformasi menjadi white hole, di mana informasi hanya bisa keluar dan tidak bisa masuk. Secara teori dan hitung-hitungan, it works. Tapi apakah white hole itu benar ada, nggak tahu.
“It’s an idea that seems quite beautiful to me… I do not know if it is correct. I do not even know if white holes actually exist. We now know a great deal about black holes, we see them, but no one has seen a white hole. Yet.”
Mungkin seperti waktu Einstein memperkirakan adanya black hole satu abad lalu, dan buktinya baru ditemukan abad ini.
Meskipun bicara sesuatu yang teknis seperti fisika black hole, tapi seperti di buku-bukunya yang lain, Rovelli menuliskannya dengan gaya puitis filosofis. Karena dia orang Italia, katanya, jadi kali ini ia akan menerangkan tentang apa yang terjadi jika kita memasuki black hole dan menjalinnya dengan kisah Divine Comedy karya penyair Italia Dante Alighieri, yang bercerita bagaimana tokoh Dante memasuki neraka. Di gerbangnya tertulis “Abandon all hope, ye who enter here”, seperti apapun yang mau memasuki black hole, nggak bisa keluar lagi.
Jadi mari kita memasuki black hole, seperti Dante memasuki gerbang neraka. Jika dalam Divine Comedy, yang menjadi pemandu Dante adalah Virgil, maka dalam cerita Rovelli, yang menjadi pemandu kita memasuki black hole adalah persamaan Einstein.
Begitu memasuki melewati event horizon, kita, turis black hole ini tidak mengalami perubahan apa-apa, tapi di sekitar kita tampak berubah, karena di dalam black hole, geometrinya berubah. Seperti suatu bangunan yang luarnya terlihat kecil, tapi begitu dimasuki ternyata sangat luas. Waktu tidak berhenti, jam tangan kita tetap jalan. Ia mendasarkan ini pada solusi David Finkelstein tentang situasi di event horizon dalam papernya tahun 1958 “Past-Future Asymmetry of the Gravitational Field of a Point Particle”. Tapi memang, bagi pengamat yang jaraknya jauh, waktu di event horizon tampak melambat dan akhirnya berhenti.
Rovelli menjelaskan geometri bagian dalam black hole melalui banyak gambar sehingga pembaca awam lebih bisa membayangkan. Di dalam black hole, ruang waktu terdistorsi, memanjang dan menyempit.
Inti yang ingin disampaikan Rovelli melalui kisah ini adalah apa yang terjadi ketika persamaan Einstein tidak lagi bekerja ketika memasuki zona kuantum, sama seperti ketika Virgil yang memandu Dante sepanjang Inferno dan Purgatorio, tidak bisa lagi memandu Dante memasuki Paradiso.
Menurut Rovelli, black hole adalah bintang yang ‘jatuh’ ke dalam dirinya sendiri. Dan ketika proses ‘jatuh’nya sudah selesai, pada kondisi maximum compression, memasuki quantum zone dan menjadi Planck star, maka dia akan ‘memantul’ dan berubah menjadi white hole.
“A white hole is the same solution that describes a black hole, reversed in time,” tulis Rovelli.
Lalu apa yang terjadi di batas Planck star tadi? “Information entering the horizon (of a black hole) remains trapped until after the quantum leap. The leap frees it, return to the world of light.”
Oya, di akhir buku juga Rovelli menjelaskan tentang waktu, bahwa pada hakikatnya waktu itu tidak ada. Waktu adalah kondisi antara ketidakseimbangan yang menuju keseimbangan. Kita merasakan aliran waktu karena kita ada di dalamnya, kira-kira begitu. Tapi kalau mau jelasnya, katanya baca aja bukunya yang The Order of Time (waduh, harus pinjem ke perpus nih kayaknya!).
FYI, penulisan buku ini agak-agak nyeni seperti puisi. Jadi ada paragraf-paragraf yang ditulis tanpa huruf besar, yaitu bagian yang menggambarkan pikiran Rovelli yang sedang merenung, bukan sedang menerangkan fisika.
Seperti buku-buku Rovelli sebelumnya, buku ini juga berukuran unyil. Dibacanya nggak perlu lama, seperti snack, tapi bergizi. Mungkin bisa dicontoh oleh (calon) penulis buku-buku ilmiah populer di Indonesia: cukup menulis satu topik spesifik secara mendalam. Nggak usah tebal-tebal nanti pada males bacanya hehe.
Terkait:
Video Carlo Rovelli menerangkan bagian dalam black hole di Royal Institution of Great Britain
https://www.facebook.com/watch/?v=383633474006385