Cart

Your Cart Is Empty

Kosmos

Kosmos

image

Author

Ani

Published

Juni 9, 2024

Review kali ini ditulis oleh @ali ahmadi dengan gaya tulis yang sangat menarik. Lagi-lagi dalam review buku ini muncul catatan mengenai masalah terjemahan. Mudah-mudahan jadi perhatian untuk para penerbit, sehingga minat membaca buku ilmiah populer tidak terhalangi kualitas terjemahan yang kurang enak dibaca.

Kosmos

Carl Sagan
KPG, cetakan kelimabelas, 2023
454 halaman

MUSLIM PINGGIRAN MEMBACA SAGAN

Saya ini boleh dibilang seorang Muslim Pinggiran 🙂
Mungkin secara ritual saya masih merasa perlu untuk menjalani ritual-ritual agama yang saya anut, bukan sekadar karena takut dosa, tapi lebih karena faktor pembiasaan dan efek-efek spiritual yang (kadang) saya rasakan saat menjalani ritual-ritual tersebut.
Namun secara world view, mungkin saya lebih senang untuk mengembara di berbagai belantara keyakinan, termasuk bahkan keyakinan para tokoh yang sering dianggap oleh dunia luas sebagai atheis.

Dunia sains yang amat saya gandrungi sejak mengenal istilah “Metode Ilmiah” di awal masa remaja saya, menuntun pada anggapan bahwa segala sesuatu yang kita lihat, kita percaya, dan kita asumsikan adalah hal-hal yang sifatnya challengeable. Harus ditantang, diragukan, kemudian ditelusuri kembali untuk ditemukan nilai “kebenaran yang sesungguhnya”. Harus saya kasih tanda kutip, karena “kebenaran yang sesungguhnya” itu juga sesuatu yang mungkin masih harus di-challenge lagi pada kesempatan yang lain, dan bisa berubah menjadi yang tidak sesungguhnya.

Hehe, cukup bicara tentang saya, dan mari kita lihat apa yang ada dalam buku, yang pernah menjadi icon dari dunia sains untuk berbicara ke khalayak awam.

Apa yang dipaparkan oleh buku ini pernah menjadi tontonan sains yang paling populer melalui program televisi pada tahun 80-81. Hal yang sangat menantang untuk membawa bahasan saintifik ke ranah publik apalagi dengan bahasa populer. Susah lho membahasakan bahasa ilmiah ke bahasa populer 😃 (ada catatan sedikit tentang hal ini di ujung tulisan nanti)

Kembali ke isi buku, sebuah buku yang membahas sejarah 15 milyar tahun evolusi kosmik dari awal penciptaan sampai ke optimisme di masa depan bahwa kita, manusia, kelak akan bertemu dengan “saudara-saudara kita”: ras-ras yg bertebaran di seantero milyaran galaksi dan triliunan bintang & planet, bahkan, kemungkinan time-travel (perjalanan melintasi batas-batas ruang dan waktu).

Cukup menyentuh perasaan saya, ketika dalam bab-bab awal Sagan mengutip beberapa tradisi kuno tentang kesatuan manusia dengan kosmos. Bahwa sejak zaman dahulu kala, kosmos selalu menjadi misteri namun sekaligus menjadi tumpuan harapan manusia untuk mengatasi berbagai masalah yang mereka hadapi.
Tradisi-tradisi lama mencatat bahwa segala aktivitas manusia: bercocok-tanam, berkembang-biak, pengobatan hingga tradisi hiburan tidak pernah lepas dari kosmologi yang berkembang pada berbagai suku, ras, dan peradaban.

Sagan sangat positif mengapresiasi kosmologi-kosmologi kuno tsb, menilainya sebagai salah satu batu pijakan manusia zaman sekarang menggapai kosmologi modern, terlepas bahwa dia tidak “mengimani” kosmologi-kosmologi kuno tsb sebagaimana para penganutnya dari kalangan religius.

Ketidakterlepasan pelbagai aspek perikehidupan manusia dari kosmologi ini adalah bahasan lama yang sering saya dapatkan ketika membaca tulisan-tulisan para sufi, yogi, santo, bahkan para pemikir modern seperti Chopra dan Capra.

Beberapa hal lain yang cukup menantang imajinasi menjadi bahasan buku ini. Tentunya bukan sekadar menantang imajinasi, namun juga menantang untuk “kelak” dibuktikan secara saintifik. (Btw, tidak urut seperti di buku, seingat saya aja sih.)

1. Time Travel
Perjalanan melintasi ruang dan waktu adalah topik yang telah dibahas oleh manusia sejak masa yang sangat lama. Berbagai cerita mistis baik religius maupun “klenikius” telah dikenal manusia sejak awal peradaban. Sagan termasuk orang yang percaya bahwa time travel itu mungkin dilakukan, namun tentunya harus dengan implementasi yang sangat njelimet dari teori relativitas dan mekanika kuantum. Namun meski demikian dia juga menyoroti bahwa kalau pun orang bisa melakukan perjalanan ke masa lalu, bagi dia itu hal yang sangat “menjijikkan” dan bisa memicu beberapa paradoks, salah satunya disebut sebagai “grandfather paradox”.

2. Kemungkinan manusia hidup bahkan membentuk koloni di Mars, bahkan membentuk koloni di galaksi lain.
Ini adalah suatu pemikiran yang terbentuk akibat pengaruh kosmologi modern. Kosmologi klasik tidak mengenal hal ini, karena umumnya kosmologi klasik lebih berbicara tentang bumi sebagai “center of universe” baik secara harfiah (geosentris, bumi pusat peredaran semesta) maupun secara kiasan (antroposentris, manusia sebagai pusat peradaban semesta). Kemungkinan manusia tinggal di dunia lain yang dibahas dalam kosmologi klasik bukan berarti planet lain, melainkan surga, neraka, dsb yang dalam pemahaman kosmologi kuno adalah suatu tempat yang berbeda dimensi dengan dunia yang kita tempati saat ini.

3. Perjalanan antar bintang dan keberadaan Extra-terrestrial intelligence (makhluk secerdas atau lebih cerdas dari manusia) di galaksi atau tata surya lain.
Yang menarik dibanding topik nomor 2 di atas, justru topik ini lebih dikenal oleh kosmologi-kosmologi kuno. Konsep jin, malaikat, dewa-dewa Yunani/Romawi, bahkan lebih tua lagi di era Sumeria, topik ini telah dikenal manusia. Sagan membahas topik ini dari sudut pandang kosmologi dan sains modern, antara lain membahas secara teoritis adanya planet-planet lain yang secara fisik memiliki lingkungan yang mirip dengan kondisi lingkungan di bumi: suhu harian, atmosfer, siklus musim, dsb.

Sangat tidak mengherankan kalau kemudian banyak gagasan Sagan di buku ini lantas menjadi sumber inspirasi banyak buku maupun film fiksi ilmiah pada era-era selanjutnya.

Beberapa buku semacam itu antara lain “The Immoralist” (Andre Gide), “Death, Be Not Proud” (John Gunther), “Outline of Science” (J. Arthur Thomson), “The Promise of Space” (Arthur C. Clarke), dan tentunya “The Demon-Haunted World: Science as a Candle in the Dark” oleh Carl Sagan sendiri.

Sedangkan film TV dan bioskop antara lain “Contact” (1997), “Threads” (1984 TV Movie), “Cosmos: A Spacetime Odyssey” (2014), “Cosmos” (1980), dan “Star Stuff: A Story of Carl Sagan” (film dokumenter)

Masih banyak lagi yang dibahas oleh buku ini, yang menyajikan pandangan tentang semesta yang cukup menantang pemahaman klasik tentang bumi, langit, surga, neraka, dsb. Bagi penggemar astronomi kelas abal-abal seperti saya, sangat banyak hal menarik untuk digali lebih lanjut. Bagi mereka yang mudah menelan secara harfiah istilah-istilah agama saat naskah-naskah agama menyebut benda-benda langit, mungkin harus menahan nafas sejenak.

Cukup penting untuk saya ulangi, seperti saya nyatakan di depan, Sagan sangat menghormati kearifan-kearifan masa lalu meski bertentangan dengan keyakinan sains masa kini. Sagan tetap melihat bahwa sains masa lalu tetap memberikan sumbangan yang besar kepada sains modern, merupakan bagian penting yang membentuk sains masa sekarang. Demikian pula dengan kosmologi-kosmologi kuno. Bagi saya, ini adalah suatu kritik tidak langsung atas sikap merasa “paling saintifik” sebagian kalangan yang sering menertawakan kearifan-kearifan kuno.

Terakhir, setelah membaca buku ini, buat saya tidak penting apakah Sagan ini atheis atau bukan. Dia telah melampaui batas-batas antara theisme dengan atheisme. Bagi Muslim Pinggiran seperti saya, dia memberi kontribusi yang amat besar ke umat manusia dari sisi pengetahuan, dan tetap mengajak manusia untuk mengedepankan kebijaksanaan.

Lembang, 2024
-Mang Ali-

Catatan:

Susah lho membahasakan bahasa ilmiah ke bahasa populer 😃
Apalagi kalau kemudian diterjemahkan lagi dari bahasa aslinya (bahasa Inggris) ke bahasa Indonesia, seringkali malah bikin kepala nyut-nyutan karena istilah ilmiah yang sudah sangat kita pahami lantas diterjemahkan menjadi istilah yang entah datang dari mana 😂
Jadi, mohon maaf ke penerjemah, untuk menikmati isi buku ini secara lebih enjoyable, saya “terpaksa” membaca versi bahasa aslinya, meski sebenarnya kemampuan bahasa Inggris saya ya cuma standar lulusan S2 ITB, jauh kalah “fluent” dibanding anak-anak GenZ 😣

Join Us

Book

O Latte

Follow IG untuk membaca review kami

Join Us on Spotify

Our Location

My Place

The place I like the most

Get Direction