Pergi ke medan perang untuk mencetak lengan prostetik dengan 3D printer di kamp pengungsian untuk seorang anak yang kehilangan lengannya karena bom, dan mengajari orang-orang di kamp untuk belajar 3D printing? Impossible!
Well, mungkin sedikit gila, tapi not impossible, kata Mick Ebeling.
Not Impossible: Do What Can’t Be Done
Mick Ebeling
Atria (paperback edition 2021)
254 hal
Mick Ebeling adalah seorang.. apa ya.. susah menjelaskannya, haha! Sebelum membaca buku ini, mungkin saya bisa sekadar copas apa yang tertulis di Wikipedia saja, bahwa Ebeling adalah inventor, wirausahawan, penulis, pembicara, filantropis. Tapi setelah baca buku ini kayaknya lebih pas kalau Ebeling ini saya sebut ‘a ball of good energy/force’. Kenapa saya sebut begitu? Karena bakat sebenarnya dari Ebeling bukanlah membuat sesuatu (objek), melainkan menjadikan sesuatu (happening) yang bermanfaat bagi banyak orang.
Ebeling lahir di keluarga kelas menengah, orangtuanya penganut Katolik yang taat dan aktif dalam kegiatan bakti sosial, mendirikan klinik gratis untuk perempuan korban kekerasan, juga organisasi non profit yang mengurus orang miskin. Ayahnya pengusaha real estate, yang kemudian bangkrut saat krisis ekonomi. Tapi meskipun dalam kesusahan, kedua orang tua Ebeling tetap melakukan pelayanan sosial, sambil kerja serabutan. Ebeling sendiri anak yang cuek dan santai, senangnya main basket dan selancar di pantai, tapi dia bersifat senang tantangan, impulsif, berani ambil resiko, mau belajar, dan yang paling penting adalah pinter cerita. Iya, dia bilang di bukunya bahwa kekuatannya adalah storytelling.
Dengan bakat storytelling (dan karenanya, sales pitching) ini, bersama temannya yang jago grafis, dia merintis studio grafis yang membuat video untuk berbagai klien, termasuk untuk film-film Hollywood. Setelah cukup sukses dan berkecukupan, suatu hari Ebeling diajak temannya menghadiri pameran seni grafiti untuk menggalang dana bagi si seniman grafiti, Tempt, yang lumpuh dan tidak bisa bicara lagi karena penyakit ALS. Ebeling tergerak untuk membantu. Ia berjanji pada keluarga Tempt bahwa ia akan mengusahakan Tempt bisa ‘bicara’ lagi, dan bahkan menggambar grafiti lagi. Nggak tau gimana, pokoknya prinsip Ebeling adalah “Commit, then figure it out”.
Karena sudah punya komitmen, Ebeling berusaha keras mewujudkannya. Mencari dana, mencari sponsor untuk membeli suatu mesin yang bisa ‘bicara’ dengan keyboard yang dipicu gerakan mata. Setelah itu beres, urusan mewujudkan janjinya yang kedua lebih sulit: gimana bikin Tempt bisa menggambar grafiti lagi? Belum pernah ada barangnya di dunia.
Terus terang, sepanjang buku ini banyak mestakungnya. Ebeling bertemu dengan orang-orang yang tepat di sana-sini, dengan skill-skill yang dibutuhkan untuk membuat alat yang bisa membantu Tempt ‘menggambar’ lagi. Suatu alat yang bisa ‘menggambar’ dengan sinar laser, yang digerakkan oleh mata. Ebeling mengumpulkan mereka di rumahnya, brainstorming berhari-hari sampai menghasilkan prototipe, dan akhirnya produk yang benar-benar bisa membuat Tempt ‘menggambar’ grafiti lagi, yang diberi nama EyeWriter.
Dengan berdasar semangat hacker & maker movement, yang mengutamakan open source, anti komersil, dan demokratisasi akses, produk EyeWriter diberikan gratis untuk Tempt, dan cara pembuatannya disediakan untuk siapa saja yang ingin membuat dan memperbaikinya. Tak dinyana, beberapa insinyur di Korea Selatan tertarik dan memproduksinya untuk diberikan kepada pasien-pasien ALS di sana. Prinsip lain Ebeling yaitu ‘help one, help many’ terwujud di sini. Dengan menghasilkan produk untuk membantu satu orang, Tempt, dan membuatnya open source, informasi itu bisa dipakai untuk membantu lebih banyak lagi orang yang membutuhkan.
Lewat ‘project Tempt’, Ebeling merasakan apa yang dulu pernah dikatakan ibunya, bahwa menolong orang itu membahagiakan. Dan dia ketagihan ingin melakukannya lagi. Suatu hari ia membaca tentang seorang anak, Daniel, di daerah konflik Sudan yang kehilangan kedua lengannya karena bom. Dan ia memutuskan untuk membantunya. Gimana caranya? Nggak tau, pokoknya komit dulu! Cari jalan belakangan. Tapi lagi-lagi banyak mestakungnya deh, tau-tau ketemu aja sama orang-orang yang melancarkan jalan ini sampai akhirnya ia bisa pergi ke Sudan membuat lengan prostetik untuk Daniel.
Ebeling benar-benar pintar bercerita. Buku ini seperti novel bertema ‘hero’s journey’, tapi tanpa mendramatisir peran dirinya, malah justru mengangkat karakter-karakter orang lain selain Ebeling. Di buku ini dia menyebut dirinya sendiri ‘cuma seorang bule jangkung botak yang nggak tau apa-apa’. Lika-liku perjalanan dari sejak berkomitmen menolong Daniel hingga benar-benar pergi ke medan perang di Sudan dan membuat lengan 3D print untuknya, juga mengajar orang-orang di kamp pengungsi Sudan untuk membuatnya sendiri bagi para korban bom, diceritakan dengan segala dramanya yang mengocok emosi. Kadang tegang, sedih, senang, kecewa. Perjalanan ini dibuat film dokumenternya, “Project Daniel – Not Impossible’s 3D Printing Arms for Children of War-Torn Sudan” dan bisa dilihat di sini https://www.youtube.com/watch?v=SDYFMgrjeLg
Buku ini penuh dengan nilai-nilai kebijaksanaan yang mendalam yang muncul tanpa menggurui, yang tidak sekadar kata-kata motivasi, melainkan diwujudkan dengan perbuatan. Bagi Ebeling, adalah absurd bahwa di dunia ini banyak masalah dan penderitaan dan kita tidak tergerak untuk berbuat sesuatu. Setiap orang punya ‘sesuatu’, dan dengan kolaborasi, kita bisa crowd-solving, memecahkan masalah bersama-sama, dan membawa kebaikan bagi banyak orang.
Oya, Ebeling dan Not Impossible Foundation mendapat banyak penghargaan bidang inovasi kreatif dan kemanusiaan, termasuk Humanitarian of the Year, Fortune World’s 50 Greatest Leaders, TIME Top Inventions of the Year, dll.
Di akhir buku ia mengajak kita, pembaca, “It’s your turn”. Jadilah agen perubahan, dengan apa yang kita bisa, yang kita punya. Katanya, “Kalo Mick si bule jangkung botak ini aja bisa, orang lain juga pasti bisa.”
-dydy-