Cart

Your Cart Is Empty

Exact Thinking in Demented Times

Exact Thinking in Demented Times

image

Author

Ani

Published

Juni 9, 2024

Sudah agak lama saya tertarik dengan topik ‘discussion circles’, mungkin sejak membaca buku “The Artist and the Mathematician” dari Amir Aczel, yang salah satunya menceritakan suasana kafe-kafe di Paris awal abad 20 yang penuh dengan obrolan intelektual yang berbobot dan kreatif. Mungkin juga karena di Bookolatte saya hobi ngobrol santai tentang topik-topik serius sama mbak Ani, jadi membayangkan asyiknya suasana discussion circle seperti itu.

Vienna Circle pernah sedikit dibahas di buku biografi Kurt Gödel “Journey to the Edge of Reason” karya Stephen Budiansky, juga di novel grafis Logicomix: An Epic Search for Truth dari Apostolos Doxiadis. Kisahnya cukup dramatis, spektakuler sekaligus tragis, jadi waktu tahun lalu nemu buku ini di perpus langsung saya pinjam.

Exact Thinking in Demented Times: The Vienna Circle and the Epic Quest for the Foundations of Science

Karl Sigmund
Basic Books (2017)
480 hal

Buku ini (yang aslinya ditulis dalam bahasa Jerman, kemudian terjemahannya diedit oleh Douglas Hofstadter, penulis buku Gödel Escher Bach yang memenangkan Pulitzer tahun 1979) ditulis oleh Karl Sigmund, seorang profesor matematika di Universitas Vienna, karena ia merasa terpanggil untuk menulis tentang Vienna Circle, sebuah grup intelektual yang sudah mendarah daging di kota itu. Bagi Sigmund, tokoh-tokoh yang terkait dengan Vienna Circle dekat dengan kehidupannya baik sebagai penduduk Vienna maupun sebagai mahasiswa dan dosen di Universitas Vienna. Nama-nama tokoh-tokohnya banyak yang dijadikan nama jalan atau plaza, kantornya di koridor yang sama dengan ruangan tempat Vienna Circle sering bertemu, ia sempat didoseni salah satu anggota Vienna Circle generasi akhir, ia pun mengedit beberapa buku yang berkaitan dengan beberapa anggota Vienna Circle. “Selama setengah abad (pengaruh) Vienna Circle sudah membersamai saya,” tulis Sigmund.

Vienna Circle berawal dari berkumpulnya sekelompok intelektual muda (usia 20an hingga 40an) yang dimotori oleh fisikawan/filsuf Moritz Schlick dan matematikawan Hans Hahn (keduanya dosen di Universitas Vienna saat itu), serta ekonom sosialis Otto Neurath (ipar Hahn, yang saat itu adalah direktur Vienna Museum for Social and Economic Affairs), dengan fokus diskusi seputar filsafat sains. Mereka dipersilakan untuk memakai ruangan di jurusan matematika, jadi nggak perlu bersesak-sesak nongkrong di kafe yang ramai. Diketuai oleh Moritz Schlick, grup diskusi ini awalnya bernama Schlick Circle, dengan jadwal pertemuan di hari Kamis kedua jam 6 sore setiap bulannya. Peserta ‘pengajian filsafat’ ini berkisar antara 10-20 orang, dan untuk bergabung di sini nggak bisa sembarang ikut, karena harus mendapat undangan dulu dari pak Schlick. Biasanya setiap pertemuan membahas suatu paper ilmiah atau topik tertentu, dan kadang ada pembicara tamu. Setelah acara selesai kadang berlanjut dengan ngopi-ngopi di kafe dekat situ.

Tujuan Vienna Circle adalah untuk mencari dan merumuskan bentuk filsafat yang murni berbasis sains, yang bisa diukur secara tepat dengan bahasa yang jelas, dan menolak metafisika serta bahasa yang ‘mengawang-awang’ seperti yang ada di tradisi filsafat sebelum-sebelumnya. Mereka dipengaruhi oleh pemikiran Ernst Mach dan Ludwig Boltzmann, dua fisikawan besar dari generasi sebelumnya yang kemudian mengajar filsafat di Universitas Vienna. Selain itu mereka juga terinspirasi oleh Einstein, David Hilbert, dan Bertrand Russell.

Awalnya topik diskusi Schlick Circle adalah seputar pemikiran Einstein, Hilbert, dan Russell, namun beralih fokus ke fisafat Ludwig Wittgenstein dengan karyanya Tractatus Logico-Philosophicus. Diskusi-diskusi di Vienna Circle ini membahas pertanyaan-pertanyaan seperti: Apa ciri-ciri sesuatu bisa disebut sains? Apakah pertanyaan metafisika punya makna? Mengapa matematika bisa diaplikasikan ke dunia nyata? dll.

Dengan cepat grup ini naik daun menjadi pusat gerakan pemikiran ‘logical empiricism’ yang diskusinya menyebar di kalangan pemikir Eropa dan Amerika. Pada tahun 1929, Vienna Circle mengeluarkan manifesto berjudul The Scientific Worldview yang menandai lahirnya aliran filsafat baru, yang sekaligus berisi agenda sosial politik mereka (liberal sosialis, karena sebetulnya manifesto ini ditulis oleh hanya sebagian anggota VC beraliran kiri, terutama Otto Neurath. Schlick malah nggak ikut nulis).

Beberapa anggota muda yang bergabung kemudian dan menjadi pemikir-pemikir yang berpengaruh adalah filsuf Rudolf Carnap, matematikawan Karl Menger, dan logikawan Kurt Gödel. Ketiga orang ini yang kemudian akan mendefinisikan ulang batas-batas antara filsafat dan matematika. Carnap menulis buku The Logical Syntax of Language, dan Gödel menghasilkan Incompleteness Theorems. Dan meskipun Vienna Circle secara grup dikenal anti-metafisika, namun Menger dan Gödel sebenarnya tidak sepaham soal ini. Pandangan Gödel bahkan berkebalikan dengan mereka (Platonis).

Selain bercerita tentang sejarah Vienna Circle, kehidupan para anggotanya, kontribusi masing-masing dalam grup, serta dinamika dan intrik diskusi yang terjadi di dalamnya (soal ini banyak sekali berkaitan dengan Wittgenstein yang terkenal sebagai orang yang sangat ‘sulit’, salut dengan Schlick dan Friedrich Waismann yang sangat sabar menghadapinya), buku ini juga bercerita tentang situasi dan kondisi sosial politik masa itu yang bertepatan dengan kebangkitan Nazi. Sebagai tetangga Jerman, Austria ketar-ketir melihat perkembangan di negara tetangga ini, dan termasuk yang pertama-tama kecipratan efeknya. Para anggota Vienna Circle yang kebanyakan Yahudi (meskipun liberal dan atheis) menjadi sasaran para ekstrim kanan simpatisan Nazi. Bahkan ketika Moritz Schlick (yang bukan Yahudi) ditembak mati oleh muridnya Nelböck yang sakit jiwa, media-media Austria saat itu malah membela Nelböck. Vienna Circle akhirnya bubar dan anggota-anggotanya menyebar ke berbagai negara akibat perang.

Buku ini lebih cocok dikategorikan sebagai buku sejarah, namun melalui buku ini juga saya jadi banyak membaca tentang filsafat Wittgenstein (dan betapa repotnya berurusan dengan orang seperti Wittgenstein!) dan ‘musuh’nya yaitu Karl Popper, selain tentunya pemikiran dan karya-karya para anggota Vienna Circle yang pengaruhnya sangat besar bagi dunia ilmu pengetahuan modern (seperti misalnya programming dan algoritma komputer yang sekarang jadi makanan sehari-hari manusia modern ini bisa ditelusuri jejaknya sampai Russell, Gödel, dan Carnap yang menganalisa symbolic logic dan computability).

Oya, saya jadi ingat lagi kenapa saya tertarik dengan topik ‘discussion circle’: karena produktif. Para intelektual muda ini, dari diskusi-diskusinya telah menghasilkan karya-karya besar yang mengubah dunia. Jika ingin mengubah dunia, mulailah ngumpul-ngumpul untuk mendiskusikan pemikiran-pemikiran bermutu, alih-alih ngegosip. Ya nggak?

-dydy-

Join Us

Book

O Latte

Follow IG untuk membaca review kami

Join Us on Spotify

Our Location

My Place

The place I like the most

Get Direction