Saya penasaran dengan sejarah tulisan sejak membaca buku Proust and the Squid, yang bercerita bagaimana sistem tulisan telah mengubah struktur otak Homo Sapiens. Sistem tulisan memunculkan jalur-jalur baru yang menghubungkan berbagai area otak, sehingga lebih aktif dan memunculkan hal-hal baru. Melalui sistem tulisan, kemampuan berpikir manusia menjadi berlipat ganda. Pertanyaan saya berkaitan dengan hal ini adalah: adakah hubungan antara daerah asal mula kemunculan tulisan dengan banyaknya orang jenius di bangsa-bangsa tertentu? (FYI perjalanan membaca saya 3 tahun terakhir memang didorong rasa penasaran tentang topik jenius dan genetik*). Apakah buku ini menjawab rasa penasaran saya?
A History of Writing
Steven Roger Fischer
Reaktion Books (2021 reprint)
392 hal
Buku ini aslinya diterbitkan tahun 2001, ditulis oleh Steven Roger Fischer, seorang profesor linguistik dengan spesialisasi naskah dan tulisan kuno terutama Yunani dan Polynesia. Meskipun dikategorikan sebagai buku populer (untuk mahasiswa dan umum), penulisan buku ini lebih cenderung akademik dan teknikal, penuh dengan istilah ilmu linguistik. Tapi isinya sangat detail dan padat informasi, tepat seperti apa yang saya cari. Bahasan buku ini lengkap tentang asal-usul, bentuk, fungsi, dan kronologi perubahan sistem-sistem tulisan yang dominan di dunia.
Dari buku ini saya baru nyadar bahwa kalau kita bicara bahasa (language), harus dibedakan antara bahasa lisan (speech), huruf/aksaranya (script), dan sistem tulisannya (writing). Alasannya, bahasa lisan bisa hidup ribuan tahun dalam bentuk bunyi tanpa tulisan, selain itu aksara yang sama bisa dipakai oleh bahasa yang berbeda, atau bisa juga dipakai mewakili bunyi yang berbeda di bahasa lain, dll. Bagaimana aksara dipilih menjadi simbol bahasa tertentu, bergantung pada kebutuhan yang dianggap penting oleh masing-masing kelompok, termasuk politik dan identitas nasional. Ruwet banget pokoknya sejarahnya!
Buku ini terdiri dari 8 bab:
1. From Notches to Tablets
2. Talking Art
3. Speaking Systems
4. From Alpha to Omega
5. The East Asian ‘Regenesis’
6. The Americas
7. The Parchment Keyboard
8. Scripting the Future
Fischer menjelaskan bahwa suatu sistem pencatatan informasi baru bisa disebut sebagai tulisan lengkap (complete writing) jika memenuhi 3 kriteria: digunakan untuk komunikasi, berupa penanda grafis pada suatu permukaan, dan menggunakan penanda yang menyimbolkan bunyi bahasa. Sebelum tercapainya tulisan lengkap, memang sudah banyak sistem pencatatan informasi yang digunakan oleh manusia, bahkan mungkin dari jaman Homo erectus, berupa simpul tali ataupun goresan di tulang. Namun ini belum bisa disebut tulisan.
Menurut Fischer, kemunculan tulisan lengkap tidak berupa evolusi yang gradual, melainkan tiba-tiba pada suatu waktu ketika kondisi sosial membutuhkannya. “Hanya kebutuhan sosial-lah yang bisa menuntut munculnya alat se-signifikan tulisan lengkap”, dan kebutuhan itu adalah urusan pembukuan perdagangan. (Soal ketiba-tibaan ini mengingatkan saya sama ‘phase transition’ di fisika, ketika zat berubah bentuk saat mencapai kondisi tertentu. Phase transition juga terkait dengan berubahnya chaos menjadi order –dibahas di buku matematika ‘Sync’ dari Steven Strogatz yang membahas complexity theory).
Para pakar sejarah sepakat bahwa asal-usul tulisan berawal sekira 10ribu tahun yang lalu (8000SM) dari satu tempat, yaitu di Mesopotamia (sekarang Irak) tempat bermukimnya bangsa Sumeria. Awalnya berupa sistem token tanah liat, ketika simbol-simbol tertentu mewakili benda fisik (seperti hewan ternak). Namun perubahan menjadi sistem tulisan terjadi sekira 4000 SM, ketika satu simbol mewakili satu bunyi. Proses ini disebut systemic phoneticim, dan dimulai oleh bangsa Sumeria. Ide systemic phoneticism ini kemudian ‘menular’ ke lembah Indus dan dataran tinggi Iran/Persia di timur, lembah Nil di barat, dan Balkan di utara, lalu berkembang dan bercabang sendiri-sendiri, beradaptasi dengan kebutuhan lokal.
Di Sumeria, tulisan muncul berbentuk cuneiform, dan satu ‘huruf’nya mewakili bunyi satu suku kata (seperti ha-na-ca-ra-ka). Di Mesir, tulisan muncul berbentuk hieroglyph, dan satu glyph mewakili satu (atau lebih) konsonan, tanpa vokal. Contohnya, di bahasa Mesir kuno, ‘tulisan’ disebut ‘mdw-ntr’ yang artinya ‘sabda Dewa’, karena dianggap sebagai karunia dari dewa Thoth (‘dhwty’,dibaca ‘djyoti’). Pada perkembangannya kemudian keduanya ‘bertemu’ di Canaan (yang sekarang adalah Palestina/Israel) yang merupakan titik temu banyak kebudayaan, dan dikembangkan oleh bangsa Semit di sana kurang lebih pada tahun 1500 SM. Bentuk tulisan yang baru ini mengambil bunyi suku kata ala Mesopotamia, namun berupa simbol konsonan ala hieroglif Mesir. Dari sinilah cikal bakal alfabet Yunani, Latin, alfabet Eropa Barat dan Timur (cyrillic), juga cikal bakal Aramaic, ‘ibu’ dari aksara Ibrani/Hebrew, Arab, Devanagari (Sanskrit) dan aksara India lainnya (termasuk aksara Jawa dan Sunda).
Aksara-aksara Asia Timur diperkirakan berkembang dari cuneiform cabang lembah Indus, dan mulai berkembang di Cina berbarengan dengan munculnya alfabet Semitic di Canaan, yaitu tahun 1500 SM. Dari sini kemudian menyebar dan berkembang menjadi aksara Korea, Jepang, Vietnam dll. Aksara benua Amerika kuno diperkirakan muncul abad 8 SM, dan berkembang menjadi misalnya aksara Maya dan Aztec.

Oya, ada beberapa info menarik yang saya dapat dari buku ini, misalnya:
1. Efisiensi tidak selalu menjadi point penting dalam penggunaan aksara tulisan. Bahasa Cina sampai sekarang karakternya masih terus bertambah. Bahasa Jepang mau repot-repot memakai 6 jenis sistem tulisan. Pemilihan sistem tulisan seringkali berkaitan dengan politik dan kebanggaan identitas bangsa.
2. Dari segi linguistik, sistem tulisan Korea, Hangeul, adalah yang paling ‘indah’ karena sistematik dan efisien dalam merepresentasikan bunyi bahasanya.
3. Sistem tulisan yang sama bisa merepresentasikan bahasa yang berbeda. Bukan hanya alfabet, tapi seperti huruf Arab juga dipakai di negara-negara berbahasa lain seperti Swahili dan Jawa (Arab Pegon).
Harus diingat kembali bahwa bahasanya sendiri bisa jadi sudah ada selama ribuan tahun tanpa tulisan (fyi terkait topik ini, Fischer juga menulis buku A History of Language). Namun munculnya tulisan sebagai simbol bunyi yang mampu mengekspresikan ide-ide dan pemikiran yang abstrak secara rapi dengan segala aturan grammarnya, telah mengubah struktur otak Homo Sapiens. Mengapa? Ibaratnya, seperti ‘glyph’ yang berarti pahatan, tulisan telah ‘memahat’ jalur-jalur baru yang menghubungkan berbagai area otak, sehingga lebih aktif dan memunculkan hal-hal baru. Seperti diceritakan di buku Proust and the Squid, melalui sistem tulisan, kemampuan berpikir manusia menjadi berlipat ganda. Bahkan sistem tulisan yang berbeda menghasilkan ‘pahatan’ yang berbeda di otak. Lewat menulis dan membaca, manusia ‘dipaksa’ berpikir lebih rapi dan tertata. Luar biasa bukan?
Jadi tidak aneh kalau bangsa-bangsa yang pertama kali menulis (dan karenanya juga merupakan bangsa-bangsa yang pertama kali membaca) adalah mereka yang struktur otaknya pertama kali berubah, lipatannya lebih banyak, bisa menyimpan lebih banyak informasi, dll. Mereka punya waktu lebih banyak untuk mengolah otaknya.
Namun yang juga *sangat* penting dicatat, di buku ini Fischer mengatakan bahwa manfaat besar literasi (membaca dan menulis) bagi suatu bangsa/masyarakat baru signifikan ketika literasi ini tersebar. Sementara ketika literasi hanya dikuasai oleh kalangan ‘elit’ seperti di Mesir kuno atau pulau Paskah, “writing seems to have little effect at all.” Jadi faktor yang mempengaruhi berubahnya suatu bangsa menjadi pintar, bukan hanya ‘nature’ (dalam hal ini, berubahnya struktur otak yang lalu diturunkan => biologi,genetika), tapi yang jauh lebih penting adalah nurture, bagaimana nature ini dipelihara dan dikembangkan melalui kegiatan membaca, menulis, berpikir, berlogika, dan bermatematika (masyarakat kuno juga sudah bermatematika).
Nah, jika ingin kita jadi bangsa yang pintar, coba perhatikan budaya literasi ini: sudahkah dipelihara dengan baik? Kalau tidak, jangan heran juga kalau tertinggal dari mereka yang rajin memeliharanya.
Tidak akan berubah nasib suatu bangsa, sebelum bangsa itu mengubah nasibnya sendiri.
-dydy-