Uncle Petros & Goldbach’s Conjecture: A Novel of Mathematical Obsession
Apostolos Doxiadis
Bloomsbury USA (2000)
209 hal
Mendengar frasa “novel matematika” mungkin dahi kita akan mengernyit. Apa ada buku seperti itu?
Ya, ternyata ada.
“Uncle Petros & Goldbach’s Conjecture” ditulis oleh Apostolos Doxiadis, seorang matematikawan multitalenta dari Yunani. Bergelar master di bidang matematika terapan, ia juga terjun di bidang software komputer, teater, film, dan penulisan buku. Buku ini awalnya diterbitkan di Yunani tahun 1992, tapi tidak mendapat sambutan memadai. Baru setelah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris tahun 2000, buku ini meledak menjadi best seller internasional.
Novel ini bercerita tentang obsesi seorang matematikawan mencari pembuktian dari Konjektur Goldbach, sebuah problema dalam teori bilangan yang diajukan oleh Christian Goldbach tahun 1742 dan belum terpecahkan hingga saat ini.
***
“Every family has its black sheep – in ours it was Uncle Petros.”
Dinarasikan oleh keponakannya, Petros Papachristos digambarkan sebagai seorang yang tertutup dan penyendiri, termasuk terhadap keluarganya. Adik-adiknya bahkan menyebutnya ‘orang yang gagal’. Hari-harinya diisi dengan mengurung diri di rumahnya (tidak ada yang tahu ia melakukan apa), dan sesekali keluar untuk bermain catur di sebuah klub.
Sang keponakan adalah anggota keluarga yang paling disayang Petros, karena tidak seperti keluarganya yang lain, ia tidak menganggap paman Petros sebagai orang yang ‘aneh’.
Suatu hari sang keponakan bertanya kepada ayahnya (adik Petros), mengapa paman Petros disebutnya ‘orang yang gagal’. Ayahnya bercerita bahwa kakaknya itu tumbuh sebagai anak jenius di bidang matematika, lalu didorong oleh orang tuanya untuk melanjutkan sekolah ke universitas di Jerman di usianya yang masih remaja, hingga meraih gelar doktor di usia 24. Tapi kemudian “seumur hidupnya dia tidak pernah menemukan apa-apa!” lanjutnya kesal, “semua karena ia hanya fokus pada suatu misteri bernama Konjektur Goldbach!
Bertahun-tahun kemudian, ketika sang keponakan sudah duduk di universitas dan mulai menekuni matematika, ia mendesak paman Petros untuk menceritakan apa yang terjadi.
Petros bercerita, saat remaja ia berkeinginan menjadi matematikawan hebat, dan seorang matematikawan hebat haruslah membuktikan suatu problem matematika yang besar. Saat itulah pertama kali ia mengetahui tentang Konjektur Goldbach. Ia lalu menekuni bidang matematika hingga tingkat doktor, dan melanjutkan ke Inggris untuk belajar kepada para pakar teori bilangan saat itu : G.H. Hardy, J.E. Littlewood, dan Srinivasa Ramanujan, di Trinity College, Cambridge.
Ia menyimpan obsesinya dalam-dalam, tidak boleh ada yang tahu ia sedang berusaha membuktikan Konjektur Goldbach.
Tiga tahun kemudian ia kembali ke Jerman menjadi pengajar. Ia memilih bekerja di sekolah yang tidak terlalu besar supaya bisa tetap melanjutkan riset pribadinya diam-diam. Ia bahkan mengambil cuti mengajar untuk itu, mengisolasi diri demi risetnya.
Beberapa tahun kemudian ia kembali ke Inggris, bertemu dengan Hardy & Littlewood, dengan 2 paper hasil kerjanya (bukan Konjektur Goldbach). Sayangnya, topik-topik tersebut ternyata sudah dipecahkan. Kolega-koleganya mengingatkan, sebaiknya sebagai ilmuwan ia tidak mengisolasi diri, supaya tidak ketinggalan informasi.
Di Inggris ia kembali membenamkan diri dalam risetnya. Tetapi suatu hari datanglah kabar mengejutkan tentang Teori Ketidaklengkapan Godel, yang membuktikan bahwa aritmetika dan semua teori matematika adalah tidak lengkap. Petros bertemu Kurt Godel dan menanyakan lebih jauh tentang teorinya tersebut.
“Aku mencoba membuktikan Konjektur Goldbach seumur hidupku, dan sekarang katamu itu bisa jadi tidak bisa dibuktikan?”
“Teorinya begitu,” jawab Godel.
Teori Ketidaklengkapan Godel telah menghancurkan obsesinya. Petros menyerah, tidak lagi mencari pembuktian Konjektur Goldbach, ia menyepi di pinggiran Athena, berkebun dan main catur.
Bertahun-tahun kemudian, sang keponakan datang kembali ke rumahnya, karena paman Petros dianugerahi penghargaan untuk ilmuwan Yunani. Ia meminta diajari tentang Konjektur Goldbach. Meskipun awalnya ragu, paman Petros menyanggupi, dan pelan-pelan mengajari keponakannya itu. Dalam proses tersebut, semangatnya tumbuh lagi. Ia melanjutkan risetnya, dan di akhir buku ia menelepon keponakannya, mengatakan sudah menemukan jawabannya. Tetapi luapan emosi yang begitu hebat mengakibatkan stroke. Sang keponakan menemukannya sudah tak bernyawa di teras rumahnya, tanpa meninggalkan catatan apapun tentang penemuannya.
Namun Petros mati dalam keadaan tersenyum.
***
Buku ini mungkin termasuk ke dalam genre fiksi sejarah, karena di dalamnya menceritakan tokoh fiktif Petros Papachristos dan relasinya dengan tokoh-tokoh nyata (para matematikawan seperti Hardy, Littletown, Ramanujan, Turing, Godel) dalam sejarah matematika. Menarik, utamanya bagi para matematikawan.