Better: A Surgeon’s Notes on Performance
Atul Gawande
Metropolitan Books (2007)
273 hal
Ini buku Atul Gawande kedua yang saya baca setelah Being Mortal, dan ini memang buku keduanya (buku pertamanya adalah Complications, belum saya baca). Saya sangat menikmati tulisan-tulisannya, yang mengesankan ditulis oleh seorang dokter yang perhatian, simpatik, ingin memberi yang terbaik bagi pasien-pasiennya, tidak sok tahu, mau mendengarkan, dan mau mengevaluasi diri.
Tema yang dibahas dalam buku ini berkaitan erat dengan poin terakhir di atas: mengevaluasi diri. Tepatnya, mengevaluasi kinerja tenaga kerja kesehatan. Dunia kedokteran tidak hanya berurusan dengan pasien, tetapi juga dengan sistem, sumber daya, situasi dan kondisi tertentu, dan tentu saja kekurangan masing-masing praktisi. Tidak ada manusia yang tanpa cela. Tetapi hal ini bukan alasan untuk tidak berusaha menjadi lebih baik, meningkatkan kinerja untuk mencapai hasil yang maksimal.
Buku ini dibagi menjadi tiga bagian, yang menurut Gawande adalah syarat inti kesuksesan di dunia kedokteran :
1. Diligence.
Biasa diterjemahkan menjadi ‘ketekunan’. Dalam KBBI tekun artinya ‘rajin, keras hati, dan bersungguh-sungguh’. Yang saya tangkap dari bab ini adalah juga kegigihan demi mencapai tujuan yang diinginkan.
Untuk menjelaskan tema ini, Gawande menyampaikannya melalui tiga cerita:
a. tentang betapa susahnya menyuruh tenaga kesehatan di rumah sakit untuk sekadar mencuci tangan, supaya tidak menularkan kuman yang beredar di sana kepada pasien. Tetapi orang-orang yang bertanggung jawab bidang infection control di rumah sakit terus mencoba berbagai cara supaya semakin lama nakes semakin terbiasa mencuci tangan.
(membaca bagian ini saya langsung teringat pandemi Covid-19. Sekarang bisa dipastikan semua nakes sudah menjadikan cuci tangan di mana saja sebagai prosedur standar, tidak hanya di ruang operasi).
b. tentang program vaksinasi polio di India yang harus menjangkau daerah-daerah terpencil. Para pelaku program vaksinasi mulai dari manajer hingga vaksinator bekerja dengan gigih dari pintu ke pintu dalam waktu yang relatif singkat untuk memastikan wabah polio hanya terisolir di tempat tertentu dan tidak menyebar.
c. tentang para dokter bedah di medan perang. Mereka menghadapi situasi yang sulit, kondisi pasien yang sangat parah, dan waktu yang singkat. Kondisi sulit seperti ini mau tidak mau menuntut para dokter dan perawat gigih bekerja semaksimal mungkin menyelamatkan pasien dengan segala keterbatasan yang ada. FYI, yang ditangani bukan hanya tentara negara sendiri, tetapi juga pihak musuh dan sipil yang terluka.
2. Doing Right
Bagian ini menjelaskan masalah ‘benar dan salah’ dalam dunia kedokteran. Lebih tepatnya justru mempertanyakan dan merenungkan, karena seringkali batas antara benar dan salah itu sangat buram, seperti yang dapat ditangkap dari cerita-cerita yang disampaikannya tentang malpraktek, kepantasan hubungan dokter pasien di ruang prakek (bagaimana sebaiknya seorang dokter memeriksa bagian tubuh privat pasien lain jenis) , kepantasan pembayaran layanan kesehatan, partisipasi dokter dalam hukuman mati, dan sampai sejauh mana sebaiknya dokter memperjuangkan pasien yang kondisinya sangat parah.
3. Ingenuity
Bagian ini menjelaskan tentang sejauh mana praktisi dunia kesehatan telah (dan seharusnya terus) berinovasi kreatif dalam usaha memperbaiki kinerjanya.
Bagian ini mengangkat sejarah, pencapaian, dan inovasi di bidang kebidanan dan kandungan (Apgar score, manuver-manuver mengeluarkan bayi sungsang, forceps, dan operasi Caesar), serta pencapaian signifikan dalam penanggulangan penyakit cystic fibrosis, yang antara lain didorong oleh para dokter yang berinovasi mewujudkan alat dan teknik yang membantu para pasien CF.
Di sini juga diceritakan tentang para dokter di pelosok India, yang harus bekerja secara kreatif dengan sumber daya yang terbatas. Seringkali mereka harus melakukan hal-hal yang bukan spesialisasinya, tapi kondisi ini menuntut mereka terus belajar dan berinovasi. Kadang justru hal itu menjadikan mereka yang terbaik di bidang yang tidak terbayang sebelumnya.
“In that remote, dust-covered town in Maharashtra, Motewar and his colleagues had become among the most proficient ulcer surgeons in the world.”
Di akhir buku Gawande memberikan beberapa tips bagi para dokter untuk menjadi lebih baik:
1. “Ask unscripted question” katanya. Kenali pasien lebih akrab. Koneksi seperti ini ‘memanusiakan’ nakes sehingga tidak merasa menjadi hanya ‘bagian dari suatu mesin kesehatan’.
2. Jangan mengeluh. Mengeluh itu membosankan, dan tidak menghasilkan solusi apapun.
3. “Count something”, apa saja yang menarik untuk masing-masing. Observasi kecil sekalipun bisa jadi menghasilkan sesuatu yang berguna (Gawande mencontohkan observasinya tentang kondisi seperti apa yang menyebabkan kadang-kadang ada barang tertinggal dalam tubuh pasien pasca operasi. Dari observasi ini dia dan koleganya membuat alat untuk melacak jumlah spons dan instrumen operasi secara otomatis).
4. “Write something”. Dengan menulis, selain untuk refleksi diri dan kinerja kita, juga berbagi pengalaman bagi sesama dokter sehingga mereka bisa belajar dari apa yang kita tulis.
5. Jadilah agen perubahan. Jadilah orang yang terbuka dan mau mencoba.
Pesan utama dari buku ini adalah “Kita bisa menjadi lebih baik. Memang tidak mudah, tapi bukan tidak mungkin. Tidak perlu jenius, tapi perlu ketekunan, ketulusan, dan kreativitas. Dan terutama sekali harus mau mencoba.”
Buku ini sangat bagus untuk dibaca praktisi bidang kedokteran, tetapi pelajarannya sangat bisa diterapkan di semua bidang dan profesi.
Kita semua bisa menjadi lebih baik.