The Soil Will Save Us
How Scientists, Farmers, and Foodies Are Healing the Soil to Save the Planet
Kristin Ohlson
Rodale (2014)
234 hal
Baru-baru ini IPCC, badan PBB yang bertugas mengevaluasi perubahan iklim, melaporkan kondisi pemanasan global yang semakin memburuk. Menurut laporan tersebut, “Bahkan jika negara-negara mulai memangkas emisi karbon hari ini, bumi tetap akan memanas sebanyak 1,5 derajat Celcius dalam 2 dekade.”
Selain langkah membatasi penggunaan bahan bakar berbahan fosil dan mengutamakan energi terbarukan, adakah jalan lain yang efektif?
Menurut buku ini, ada! Tanah suburlah yang akan menyelamatkan kita.
Kristin Ohlson mengulas bagaimana praktek pertanian organik dan manajemen sumberdaya lahan yang tepat dan holistik akan ‘menyembuhkan’ tanah yang gersang dan kehilangan zat hara akibat dikuras berlebihan oleh industri pertanian konvensional.
Ia mengangkat cerita para ilmuwan dan praktisi bidang agrikultur yaitu petani dan peternak, bagaimana mereka menerapkan cara-cara holistik dalam praktek bertani dan beternak. Usaha tersebut berhasil meningkatkan kesuburan tanah, dan lahan mereka juga menangkap karbon dari udara dan menyimpannya secara signifikan, sesuatu yang sangat penting dalam usaha mitigasi pemanasan global. Karena itu mereka juga menyebut metoda ini “carbon farming”.
Pada dasarnya, yang mereka lakukan adalah “mendengarkan” alam. Bertani tidak hanya dilihat sebagai usaha menanam hasil bumi untuk dijual, tetapi sebagai kemitraan antara manusia, dan makhluk lainnya, termasuk mikroorganisme di dalam tanah.
Lahan tidak dibajak (no-till farming) supaya karbon di dalam tanah tidak hilang menjadi karbondioksida di udara. Alih-alih menggunakan pestisida dan herbisida untuk mengusir hama dan gulma, mereka memanfaatkan predator alami dan diversifikasi tanaman. Alih-alih menggunakan pupuk kimia, mereka memanfaatkan kotoran ternak dan binatang liar di lingkungan pertanian, dan menanam palawija kacang-kacangan yang kaya nitrogen.
Allan Savory dengan praktek manajemen lahan holistik berhasil merehabilitasi tanah gersang di Zimbabwe, bahkan tanah tersebut dapat menyerap air yang cukup sehingga daerah yang dulunya gersang kini menjadi reservoir tempat binatang-binatang liar minum.
Gabe Brown mempelajari teknik Savory dan menerapkannya di North Dakota. Kini lahannyalah yang paling subur di sana, menghasilkan lebih banyak, bahkan tetap hijau di saat kekeringan.
Dalam buku ini disebutkan 3 prinsip dasar agrikultur organik yang diterapkan antara lain oleh Jeff Moyer, manajer Rodale Farm Institute di Pennsylvania. Ia menyebutnya “the three Cs” : compost, cover crops, crop rotation. Kompos, tanaman penutup, dan rotasi tanaman.
Buku ini juga menyoroti pentingnya kerjasama dan pengertian antara pemerintah, ilmuwan, aktivis lingkungan, serta petani dan peternak sebagai praktisi lapangan dalam usaha rehabilitasi tanah ini. Selain baik untuk bumi, hal ini juga menguntungkan bagi para petani dan peternak. Tidak bisa dipungkiri, profit jugalah yang akan menarik mereka untuk mempraktekkan manajemen lahan holistik tadi.
Lahan pertanian dan peternakan memang luas, tetapi jika dihitung-hitung sebenarnya total luas halaman rumah juga besar, dan itu artinya setiap warga bumi yang memiliki akses untuk mengolah lahan terbuka, bisa ikut ambil bagian dalam usaha pemulihan bumi.
Setiap daerah punya karakter masing-masing, dan dengan ‘membaca’ alam, akan diketahui apa yang dibutuhkan dan dapat dilakukan untuk rehabilitasi tanah di daerah tersebut.
“Kita selama ini diajari bahwa tanaman mengambil zat hara dari tanah, dan hal itulah yang menyebabkan tanah menjadi miskin hara. Tapi sebenarnya jika tanaman diberi kesempatan untuk bekerjasama dengan ‘mitra’ mereka di dalam tanah, mereka akan saling memberi dengan penuh kemanfaatan. Jadi, mari kita mulai dengan memberi makan para mikroorganisme di dalam tanah dalam usaha memulihkan bumi ini.”
Buku ini sangat menarik dan informatif, pantas dibaca oleh praktisi pertanian, pertanahan dan lingkungan.