Cart

Your Cart Is Empty

The Genius of Birds

The Genius of Birds

image

Author

Ani

Published

Februari 3, 2024

The Genius of Birds

Jennifer Ackerman
Penguin Books (2017)
340 hal

Dalam bahasa Inggris ada istilah “bird brain”, sebuah ejekan yang berarti bodoh, konyol. Ini menunjukkan bahwa selama ini burung dipandang berintelegensi rendah. Tapi benarkah begitu? Atau manusia saja yang sok tahu (dan sok pintar?).

Jennifer Ackerman adalah penulis topik-topik sains bertema alam, pernah bekerja di National Geographic dan menulis di Scientific American. Ia juga dari kecil senang mengamati burung bersama ayahnya. Melalui buku The Genius of Birds, Ackerman ingin menunjukkan bahwa “Burung itu sebenarnya pintar lho!” jadi ejekan ‘bird brain’ itu seharusnya tidak dipakai lagi.

Buku ini menganalisa kecerdasan burung dari berbagai segi dan dibagi ke dalam bab masing-masing:

From Dodo to Crow: Taking the Measure of a Bird Mind, membahas apa yang dimaksud kecerdasan burung, dan bagaimana mengukurnya. Kita menyebut manusia Homo Sapiens, si bijak, untuk membedakan kita dari makhluk lainnya. Tapi dalam bukunya The Descent of Man, Darwin berargumen bahwa kecerdasan kita dan makhluk lainnya itu ‘hanya beda level, bukan beda jenis’. Manusia nggak usah sok pintar deh terhadap makhluk lain.
Dr. Louis Levebre, pakar neurobiologi dari Canada, mencoba membuat kategori kecerdasan burung, berdasarkan kadar keahlian suatu jenis burung melakukan sesuatu yang ‘baru’ dan tidak biasa, alias kreativitas. Misalnya, ada satu jenis burung di Zimbabwe yang ‘menangkap’ mangsanya dengan meledakkan ranjau (waktu itu masa perang, banyak ranjau di medan perang). Menurut skala Levebre, burung yang paling ‘pintar’ adalah dari jenis burung gagak (Corvidae).

The Bird Way: The Avian Brain Revisited, membahas riset yang meneliti otak burung. Ternyata secara anatomi ada banyak kemiripan antara sel otak burung dan mamalia (termasuk manusia), terutama pada burung penyanyi dan burung nuri. Kerja sel otaknya sama, hanya saja otak burung tersusun berbeda. Otak burung terpisah dalam beberapa kluster (seperti siung-siung dalam bawang), tidak berlapis-lapis seperti otak manusia. Tetapi kluster-kluster tersebut tersambung oleh sirkuit syaraf yang tidak jauh berbeda dengan manusia, dan ini memungkinkan burung melakukan hal-hal kompleks, menunjukkan kecerdasan.

Boffins: Technical Wizardry, membahas kecerdasan burung dalam hal memakai alat. Memanfaatkan alat untuk membantu melakukan sesuatu membutuhkan kecakapan kognitif yang tinggi, dan ternyata banyak spesies burung mampu melakukannya.

Twitter: Social Savvy, membahas kemampuan sosial burung, bagaimana mereka saling belajar dari sesamanya.

Four Hundred Tongues: Vocal Virtuosity, membahas kemampuan olah vokal burung-burung penyanyi. Ternyata proses mereka belajar suatu nyanyian, kira-kira sama dengan bagaimana manusia belajar bicara dan berbahasa. Bahkan beberapa jenis burung bisa mempelajari dan menguasai ‘bahasa asing’.

The Bird Artist: Aesthetic Aptitude, mengeksplorasi kecerdasan estetis burung. Bagaimana burung memahami ‘keindahan’? Sebagian besar bercerita tentang uniknya burung bowerbird jantan, yang ‘menghias’ sarangnya dengan benda-benda berwarna biru, dan keindahan sarangnya (plus kecakapannya menari) menjadi bekal untuk menarik perhatian burung betina. Ternyata bowerbird betina lebih memilih burung jantan yang artistik: sarangnya bagus dan pandai menari, karena hal itu menjadi ‘proxy’ kecerdasan si burung jantan. Ternyata burung betina juga sukanya sama yang pintar!
Video ini memperlihatkan bagaimana bowerbird jantan berusaha tampil menarik betina. Tonton sampai habis ya, lucu!

Ada juga cerita tentang riset oleh ilmuwan Jepang yang meneliti apakah burung gelatik Jawa lebih suka lukisan kubisme Picasso atau impresionis Monet. Ternyata lebih banyak yang memilih Picasso lho.

A Mapping Mind: Spatial (and Temporal) Ingenuity, membahas kecerdasan spasial burung, kemampuan navigasinya yang di atas rata-rata. Bahkan ketika dilepas di tempat tak dikenal, burung jenis tertentu tetap bisa kembali ke rumahnya (atau ke tujuan migrasinya). Ilmuwan meneliti ‘bagian otak manakah yang mengatur kepekaan spasial ini?’ (ternyata di hippocampus, seperti manusia), dan juga menemukan area lain yang mengatur kepekaan magnetik.
Kecerdasan spasial pada manusia juga pernah diuji dalam eksperimen terhadap supir-supir taxi di London yang kotanya terkenal membingungkan. Ternyata supir senior memiliki area di hippocampus yang lebih besar daripada supir baru. Hal ini memunculkan pertanyaan: jika manusia yang sekarang semakin bergantung pada GPS untuk menunjukkan jalan, apakah di masa depan manusia akan kehilangan kemampuan mengetahui arah?

Sparrowville: Adaptive Genius, membahas kemampuan burung beradaptasi. Ternyata kemampuan beradaptasilah yang membuat sparrow menjadi burung yang paling luas persebarannya di dunia. Kemampuan ini pula yang membuat manusia menjadi spesies yang menguasai dunia.

Saya beli buku ini awalnya cuma karena ilustrasi sampulnya (saya penggemar karya Eunike Nugroho), tapi ternyata buku ini juga isinya sangat menarik. Penelitian yang diceritakan di buku ini sangat ekstensif (catatan referensinya saja 53 halaman!).
Saya jadi tahu lebih banyak tentang berbagai spesies burung dan karakternya. Sambil baca buku ini, saya juga buka-buka video youtube tentang burung-burung yang diceritakan.

Buku ini bukan saja ilmiah, tetapi juga ditulis dengan bahasa populer yang enak dibaca, dan cara penulisan yang cantik (saya jadi ingat buku-buku Hope Jahren). Buku ini memang tepat untuk dijadikan contoh ‘buku ilmiah populer yang bagus’.

Join Us

Book

O Latte

Follow IG untuk membaca review kami

Join Us on Spotify

Our Location

My Place

The place I like the most

Get Direction