*Manakah yang benar: agama akan membuat orang jadi baik, ataukah orang baik akan memancarkan agama yang baik?*
Psikologi Agama: Sebuah Pengantar
Penulis: Jalaluddin Rakhmat
Penerbit: Mizan, cetakan pertama 2003
Buku ini sebenarnya buku pengantar kuliah, tapi karena ditulis dengan bahasa yang mengalir dan ringan, jadi bisa dibaca oleh awam. Di buku ini, Kang Jalal mengajak pembaca untuk memahami bagaimana jika agama dilihat dari sudut pandang ilmu psikologi. Menurutnya, sudut pandang inilah yang sangat bersesuaian dengan tujuan orang beragama, yaitu mendapatkan transformasi spiritual yang mendorong diri menjadi pribadi yang lebih baik. Tapi untuk itu, kita disuguhi dulu polemik mengenai agama. Apakah agama itu? Jika kita tidak sepakat dengan definisi agama, tentu saja akan sangat sulit untuk membahas agama. Bakalan ngalor-ngidul dan penuh prasangka.
Jadi di bab pertama Kang Jalal mendaftar berbagai macam sudut pandang untuk menegaskan definisi mengenai agama, agar dapat merangkum praktek keagamaan yang sangat luas. Tidak semua agama memiliki atau peduli dengan konsep ketuhanan. Maka dari itu, mengatakan bahwa ‘agama adalah suatu sistem yang mengagungkan Tuhan’, tidaklah mencakup semua jenis agama. Pandangan ini sangatlah ‘agama samawi-sentris’. Setelah menelaah berbagai jenis praktek keagamaan, di akhir bab satu ada beberapa definisi agama yang dikutip, dengan kata kunci: ‘keharmonisan dengan sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri, kesalehan, tujuan hidup’. Di sini nampak bahwa definisi agama yang paling baik bukanlah dilihat dari ‘apa’ jenis konsep dan bentuk ritualnya, namun ‘bagaimana’ agama itu berpengaruh pada diri seseorang.
Setelah memahami definisi agama, kita diajak meninjau sejarah hubungan antara agama dengan ilmu pengetahuan, termasuk ilmu psikologi Barat. Bagaimana ilmu psikologi yang tadinya muncul karena diilhami oleh praktek beragama, lalu durhaka pada induknya. Diilhami psikolog seperti Freud dan filsuf seperti Nietzsche, psikologi malah menuduh jika agama adalah hasil halusinasi, pertanda penyakit jiwa, dan sisa pola pikir kanak-kanak belaka. Namun psikolog pun ada yang sangat beriman, lalu balik mengkritik bahwa justru pendapat Freud dan Nietzsche-lah yang dipengaruhi oleh trauma-trauma masa kecil mereka sehingga mereka anti terhadap agama.
Kisah perseteruan berlanjut, ketika psikologi malah menghilangkan sama sekali studi tentang jiwa karena dianggap ‘omong kosong’ belaka. Psikologi behaviourisme menganggap semua perilaku manusia hanyalah kebiasaan yang dipicu oleh hormon. Tidak ada jiwa, tidak ada keagungan, tidak ada sesuatu yang lebih besar daripada materi. Tapi tahun 1960an trend ini berbalik. Psikologi mulai bersahabat kembali dengan agama. Ajaran mistik Timur sangat berpengaruh pada perkembangan psikologi yang memasukkan konsep beragama dalam terapi. Perseteruan antara Psikologi dan Agama tidak benar-benar berakhir, namun kini hubungan antara keduanya tidak lagi hitam-putih.
Buku ini ditutup dengan kisah dua kubu psikolog, yang menolak dan mendukung agama. Di kubu menolak, agama dicap sebagai sumber kecemasan dan depresi (karena selalu takut pada dosa), halusinasi (merasa diawasi oleh sesuatu yang lebih berkuasa), histeria (perilaku kekerasan yang dipicu oleh keyakinan agama), dan apatisme (menolak berupaya di dunia, memilih mengejar surga yang tak pasti). Di kubu mendukung, agama dianggap sebagai sumber ketenangan (karena sikap pasrah), kesehatan (karena ritual yang mengarahkan keteraturan gaya hidup), kemauan berkorban untuk orang lain tanpa pamrih, dan kreativitas (karena kesadaran pada waktu hidup yang terbatas).
Kesimpulannya?
Jika dibandingkan seperti itu, menurutku, nampak jelas bahwa yang menjadi masalah bukanlah agamanya, melainkan bagaimana orang memahami agama yang dianutnya. Apakah agama itu mendorongnya menjadi orang baik, ataukah menjadi orang yang merusak diri sendiri serta merusak tatanan sekelilingnya? Segala konsep agama yang luhur tidak akan berguna jika prakteknya didasari dengan sikap yang salah.
Bagaimana? Setuju atau tidak?