The Knowledge Illusion: Why We Never Think Alone
Steven Sloman & Philip Fernbach
Riverhead Books (2017)
246 hal
Kalau mengamati jagad Internet terutama medsos, terlihat fenomena yang merajalela di kalangan netizen: sangat mudah berkomentar dan beropini tentang hal-hal yang mereka sebenarnya nggak tahu-tahu amat, tapi berlagak seolah-olah paling pintar. Soal politik, agama, kesehatan, sains, perubahan iklim, hukum, dll. Lebih parah lagi, mudah sekali membodoh-bodohkan orang lain.
Padahal kalau ditanya “Tahu dari mana?” mungkin jawabannya “Dari Google” atau malah “Dari meme” atau sekadar “Katanya”.
Beberapa buku yang pernah direview di sini agak nyambung dengan isu “sok tahu”. Misalnya buku “The Death of Expertise” yang temanya mirip, tapi lebih menyoroti fenomenanya. Lalu di buku “Houston We Have A Narrative” disinggung tentang arogansi ilmuwan yang merasa paling pintar dan merendahkan awam. Kemudian di buku “Conflicted” ada bab yang menyebutkan bahwa “Orang seringkali beranggapan bahwa dirinya lebih tahu dari kenyataannya,” dan salah satu referensinya adalah buku ini: The Knowledge Illusion.
Buku ini ditulis dua orang cognitive scientist dan ditulis untuk menunjukkan bagaimana (menurut sains) akal manusia bekerja dan berevolusi, apa tujuan berpikir, dan bagaimana jawaban kedua pertanyaan ini mengungkap mengapa manusia bisa begitu dangkal tapi bisa juga sangat powerful.
Menurut buku ini, pengetahuan manusia secara individu itu sebenarnya dangkal, karena cara kerja pikiran manusia tidak seperti komputer yang menyimpan segudang informasi dalam dirinya dan dengan mudah ‘dipanggil’ sewaktu-waktu secara akurat. Namun akal manusia adalah ‘flexible problem solver’, hanya menyimpan informasi detail tertentu yang berguna untuk membantu mengambil keputusan.
Tidak ada seorang pun yang bisa menguasai segala macam bidang ilmu sekaligus. Kecerdasan manusia lebih seperti lebah dalam sebuah koloni, individu punya keahlian masing-masing, dan semua berkolaborasi untuk mencapai tujuan. Pengetahuan individu bisa mendalam di satu bidang tapi di luar itu hanya tahu sedikit atau bahkan tidak tahu apa-apa.
Kecerdasan manusia tidak hanya bertempat di otak, melainkan di mana-mana. Di seluruh bagian tubuh, di sekeliling, bahkan di diri manusia lain. Lho kok begitu? Ilmu dan informasi tidak disimpan secara individu, melainkan dibagi bersama di masyarakat sehingga secara keseluruhan manusia maju bersama. Itu yang menyebabkan manusia menjadi spesies tersukses di Bumi. Ia mampu berkolaborasi menyebarkan dan mengolah informasi menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi keseluruhan spesies.
Dengan semakin majunya teknologi di era Internet, begitu banyak pengetahuan manusia terdistribusi di luar dirinya sendiri, kita tinggal pintar-pintar memetik dan memanfaatkannya.
Di buku ini disebutkan berbagai penelitian yang membuktikan bagaimana orang terlalu yakin akan pengetahuan mereka tentang sesuatu. Salah satunya seperti ini:
1. dalam skala 1 – 10, bagaimana anda menilai pengetahuan anda tentang (barang sehari-hari, seperti toilet atau resleting) –> di sini biasanya ybs memberi skor tinggi, karena familiar dengan benda yang disebutkan.
2. jelaskan cara kerja (barang tersebut) –> ternyata jarang yang bisa menjawabnya dengan tepat
3. jawab pertanyaan #1 lagi –> biasanya ybs sadar, “wah ternyata pengetahuan saya nggak cukup banyak soal ini” dan menurunkan skornya.
Jadi satu trik untuk ‘menyadarkan’ orang dari ilusi ke’pintar’annya, cukup minta ‘coba jelaskan’. Mereka yang punya sikap jujur dan rendah hati bisa mengakui ketidaktahuannya, yang lain mungkin tersinggung. Ya maklum, nggak ada yang suka ditunjukkan ketidaktahuannya kan? Tapi paling tidak dia akan sadar tentang ilusi pengetahuannya (meskipun nggak mau ngaku).
Semua orang ada dalam ‘knowledge illusion’ dalam level berbeda-beda. Dalam konteks tertentu ilusi ini ada manfaatnya: jika ia menjadi motivasi dan inspirasi untuk melakukan sesuatu. Dalam buku ini dicontohkan ‘ilusi’ John F Kennedy yang yakin Amerika bisa mendarat di bulan dalam 10 tahun. Ini ‘ilusi’ yang mendorong dan menyemangati Amerika hingga mampu mencapainya. Disemangati ya, bukan ditertawakan.
Tapi di luar konteks semacam itu, please, check your understanding. Kita mengalami ‘knowledge illusion’ karena kita jarang ngecek pemahaman kita, alias jarang refleksi diri.
Mengetahui sebatas mana pengetahuan kita membuka kesempatan untuk belajar, dan menjaga dari arogansi intelektual.
Sloman & Fernbach mengusulkan cara baru mengukur kecerdasan: bukan lagi mengukur kecerdasan individual (seperti IQ) namun kecerdasan kolektif dalam grup. Kecerdasannya dinilai dari kemampuan ybs memberi input dan bekerjasama dalam sebuah tim. Seseorang berintelegensi tinggi ketika perannya dalam sebuah tim membuatnya maju.
Dalam hal pendidikan, mereka menyarankan lebih banyak mengajarkan critical thinking, group collaboration, dan pandai memilah informasi, alih-alih cuma mengandalkan hafalan.
Selain itu, kecerdasan kolektif akan naik jika anggota komunitasnya beragam: mereka bisa belajar dari pengalaman yang berbeda. Diversity is a strength!
Dalam sebuah pidato, Obama pernah berkata “If you’ve got a business, you didn’t build that”. Pernyataan ini menuai kritik lawan politiknya, namun pernyataan ini benar karena maksudnya bisnis (atau sistem apapun itu) tidak muncul dari satu sumber, melainkan merupakan akumulasi dari informasi dan kerja banyak pihak. Begitu juga dengan kecerdasan manusia. Seperti pernyataan Newton, “If I have seen further, it is by standing on the shoulder of giants”.
Jadi, nggak usah arogan ya. Ilmuwan saja pengetahuannya terbatas kok, apalagi yang belajarnya hanya lewat meme.