Berperang demi menyelamatkan planet bumi, terdengar sangat heroik bukan? Dalam film, orang-orang seperti inilah yang didukung para penonton. Tapi dalam kenyataannya, tidak juga. Begitu sepertinya yang terjadi pada para klimatolog seperti Michael E. Mann dan sejawatnya, yang sudah berjuang mengedepankan data dan fakta tentang perubahan iklim dari puluhan tahun yang lalu, demi menyelamatkan planet bumi dari kerusakan, namun tidak henti-hentinya diserang oleh kekuatan besar raksasa-raksasa penguasa bahan bakar fosil yang tidak mau sumber keuntungannya hilang.
Buku ini perlu dibaca dalam konteks sudut pandang ‘orang kecil’ yang sedang bertarung melawan raksasa, babak belur berdarah-darah tapi tidak putus asa, terus menyerang dengan sisa kekuatan demi tujuan mulia.
Karena kalau buku ini tidak dibaca dalam konteks tsb, bisa-bisa membacanya capek karena isinya seperti orang yang marah-marah.
The New Climate War: The Fight to Take Back Our Planet
Michael E. Mann
PublicAffairs (2021)
368 hal
Michael E. Mann adalah pakar klimatologi dan geofisika, salah satu penulis paper penting yang terbit tahun 1999 (MBH99) tentang perubahan iklim yang berisi ‘hockey stick graph’, grafik yang menunjukkan kenaikan suhu global drastis sejak Revolusi Industri. Emisi karbon (dan metana) dari aktivitas manusia, yang disuplai oleh bahan bakar fosil, adalah penyebab utama perubahan iklim.
Para penguasa industri bahan bakar fosil, tentu tidak suka dengan temuan ini, karena berarti mereka akan kehilangan sumber penghasilan. Mulailah mereka melancarkan perang terhadap ilmuwan bidang klimatologi. Karena punya dananya, tentu saja mereka bisa membiayai ‘perang’ dalam skala besar. Perangnya seperti apa? Menurut Mann, saking sudah lamanya ia menghadapi serangan ini, sampai hafal segala taktik mereka: disinformation, deceit, divisiveness, deflection, delay, despair-mongering, and doomism.
Mann menceritakan perang informasi ini secara detail, dan tak segan menyebut nama-nama ‘musuh’nya, termasuk di dalamnya orang-orang pintar yang ‘bisa dibeli’, institusi-institusi bernama mentereng berkesan ilmiah, belum lagi media-media yang mengaku netral (kalau yang bias sudah jelas) tapi sebenarnya didanai oleh raja-raja minyak. Ternyata ungkapan ‘follow the money’, benar adanya.
Mann menyayangkan taktik mereka ini banyak yang berhasil, terutama sekali taktik deflection (yang mengalihkan fokus pertanggungjawaban mitigasi perubahan iklim dari perusahaan-perusahaan bahan bakar fosil ke individu), dan divisiveness (yang mengadu domba sesama pejuang lingkungan, misalnya pendukung tenaga nuklir diadu dengan pendukung tenaga angin dan surya). Menurut Mann, paling tidak seharusnya sesama pejuang lingkungan tidak saling bertengkar untuk hal detail (mana yang lebih baik, tenaga surya atau nuklir, misalnya), karena saat ini tidak ada waktu lagi untuk urusan itu. Kita harus maju bersama, jangan saling menjatuhkan.
Menurut Mann, untuk melawan hal ini strateginya adalah:
1. Jangan pedulikan para doomsayers yang pesimis dan negatif. Mann meyakinkan, kita masih punya jalan untuk menyelamatkan bumi.
2. Dukung para remaja aktivis lingkungan yang saat ini berjuang menyelamatkan masa depan mereka.
3. Educate yourself and others. Mann merekomendasikan beberapa situs dan akun yang terpercaya dalam hal perubahan iklim.
4. Perjuangkan perubahan sistemik dengan melobi pemerintah dan pengambil kebijakan (pilih politikus pro lingkungan!), mendesak divestasi dari bahan bakar fosil, dan juga masing-masing berusaha mengurangi jejak karbon sedapat mungkin.
Anda bisa follow @MichaelEMann di Twitter.