Membaca buku terjemahan
Masalah terjemahan buku ilmiah populer ke Bahasa Indonesia memang kadang bikin nyesel udah beli bukunya. Bukan hanya masalah kesalahan penerjemahan istilah ilmiah, tapi juga kesalahan penerjemahan anekdot dan jokes lucu. Ada buku yang aslinya kocak banget, ketika diterjemahkan ke Bahasa Indonesia jadi garing seperti kerupuk. Mana bisa lucu kalau guyonan bahasa asing diterjemahkan dengan setia, kata per kata, ke dalam bahasa Indonesia. Apalagi kalau salah konteks.
Soal penerjemahan istilah, memang itu jadi salah satu kelemahan besar penggunaan bahasa Indonesia. Contohnya kata ‘effective and efficient’ diterjemahkan menjadi ‘sangkil dan mangkus’. Kalau dicek ke KBBI, pilihan terjemahannya benar. Tapi apakah tepat? Apakah pembaca terbiasa dengan kata ‘sangkil dan mangkus’? Yang ada malah horor. Buku ilmiah populer ditulis supaya bisa dibaca dengan santai, seperti baca novel. Tapi malah harus buka KBBI buat cek ulang kata-kata yang dipilih sama penerjemah.
Mungkin penerjemah buku ilmiah populer harus juga memahami bahasa gaul yang sedang trend saat proses penerjemahan, walau hanya digunakan terbatas saja pada beberapa bagian.
Dalam menerjemahkan buku ilmiah populer, tentu saja penerjemah harus paham topiknya. Tapi ternyata nggak cukup. Ada buku ilmiah populer yang diterjemahkan oleh pakar di bidangnya, tapi ternyata terjemahannya salah. Bukan salah di topiknya, tapi salah menerjemahkan kata-kata tertentu dalam konteks yang benar.
Ini contoh ya. Kira-kira gimana kata “quality” harus diterjemahkan? Kualitas? Bisa jadi. Tapi dalam kalimat “That thing has a certain quality which…” ‘quality’ di sini berarti ciri atau karakteristik.
Pakar topik ilmiah tersebut, ternyata kurang menguasai konteks bahasa asingnya, sehingga terjemahannya salah.
Ya jangankan topik ilmiah, istilah merajut saja salah diterjemahkan di buku Agatha Christie. Purl diterjemahkan menjadi ‘setik balik’, padahal keduanya beda jauh.
Jadi sepertinya menerjemahkan buku ilmiah populer, perlu minimal dua pakar: pakar topik, dan pakar bahasa.
Solusinya gimana? Mungkin nggak ya, ada semacam forum crowdsourcing penerjemahan ilmiah populer antara penerbit dan sukarelawan ilmuwan? Misalnya penerjemah kesulitan dengan sebuah paragraf, lemparkan di forum “Yang mengerti fisika kuantum, coba tolong jelaskan apa maksud kalimat/paragraf ini. Kalau boleh dengan analogi”. Nanti hasil diskusinya setelah dicek bolak balik, dua-duanya sepakat bentuk penerjemahannya, baru diterapkan di terjemahan bukunya.
Atau mungkin teman-teman punya saran bagaimana seharusnya menerjemahkan buku ilmiah populer? Tulis di komen ya.