Cart

Your Cart Is Empty

When Breath Becomes Air

When Breath Becomes Air

image

Author

Ani

Published

Februari 4, 2024

When Breath Becomes Air

Paul Kalanithi
Random House (2016)
228 hal

Buku When Breath Becomes Air menjadi pembicaraan luas ketika terbit tahun 2016. Tapi karena genrenya memoar, dan saya nggak begitu suka baca genre ini, jadi belum pernah baca. Beberapa hari yang lalu nemu ebooknya di perpus, karena penasaran langsung pinjam aja.

Saya baru selesai baca tadi malam, dan speechless. Kalau ada buku yang bisa bikin saya mau baca genre memoar, ya, ini bukunya. Buku yang pendek, tapi sangat dalam dan menyentuh. Kalau kata Bill Gates, “This book left me in tears”.

Bukunya pendek pun sangat beralasan: karena penulisnya meninggal sebelum bukunya selesai. Buku ini terbit setahun setelah penulisnya meninggal.

Paul Kalanithi adalah dokter bedah syaraf yang sangat pintar, berprestasi, dan pekerja keras. Namun ketika hampir mencapai puncak karirnya, ia didiagnosa kanker paru-paru stadium IV. Sebelum mengambil studi kedokteran, ia kuliah di jurusan sastra dan awalnya ingin menjadi penulis, itu sebabnya buku ini ditulis dengan bahasa yang indah (meskipun juga penuh dengan istilah-istilah kedokteran), dan sangat menyentuh. Mengingatkan saya pada buku Lab Girl, yang mana penulisnya, Hope Jahren, adalah juga ilmuwan yang juga sastrawan.

Isinya berisi renungan Paul yang berusaha memahami arti hidup manusia dan kematian. “What makes human life meaningful?” tanyanya, pertanyaan yang membawanya mempelajari sastra, biologi, kedokteran dan neurosains.

Buku ini juga mencerminkan kebrilyanan penulisnya, dalam sains, kedokteran, kesusastraan, dan filsafat.

Highly recommended.

**

Film dokumenter pendek tentang Paul Kalanithi mendapat nominasi Emmy kategori News & Documentary. Bisa dilihat di sini https://youtu.be/d5u753wQeyM

Join Us

Book

O Latte

Follow IG untuk membaca review kami

Join Us on Spotify

Our Location

My Place

The place I like the most

Get Direction