Dapat info buku The Cat Who Saved Books ini dari postingan di IG dan tertarik baca karena ‘cat’ & ‘books’ . Eh ternyata setelah googling, cover versi Amriknya familiar. Ooooh buku itu, yang covernya dibikin sama Yuko Shimizu, salah satu ilustrator favorit saya, yang style gambarnya (brush&ink) saya suka banget.
Buku ini bercerita tentang Rintaro Natsuki, anak SMA penyendiri yang baru saja ditinggal kakeknya, pemilik toko buku bekas Natsuki Books. Tiba-tiba muncul seekor kucing ajaib yang meminta Rintaro menolongnya menyelamatkan sejumlah buku di beberapa labirin. Tokoh lainnya adalah Sayo (gadis tetangga Rintaro dan juga ketua kelasnya), dan Akiba (kakak kelas populer kutu buku yang sering beli buku di tokonya).
Buku ini bergenre fantasi, ceritanya petualangan ajaib tapi berisi kritik perilaku-perilaku tertentu terhadap buku, dan mengangkat pesan bahwa buku bernilai lebih dari sekadar kata-kata di atas kertas.
Sejujurnya kritik si penulis juga persis yang ada di pikiran saya heheh. Recommended buat para pecinta buku.
Oya, di buku versi Amerika ada halaman tambahan berisi penjelasan dari penerjemahnya dan illustratornya. Yuko Shimizu menjelaskan kenapa ia menerapkan unsur old Japanese painting style ‘ukiyo-e’. Menurutnya ilustrasi buku aslinya yang ala manga membuat orang mengira ini buku genre young adult padahal sebenarnya untuk orang dewasa juga (meskipun tokohnya anak SMA), jadi perlu dibuat cover baru yang menunjukkan hal itu.
Sambil baca ini saya jadi teringat buku lain: The Phantom Tollbooth, buku anak klasik terbitan 1961 karya Norton Juster. Ini juga buku fantasi, yang berisi perjalanan seorang anak yang biasanya menghabiskan waktu doing nothing, wasting time dan tidak pernah memperhatikan sekelilingnya, menganggap segala hal ga menarik dan ga berguna. Lalu muncul pintu yang membawanya ke negeri ajaib yang membuatnya mengerti kalau segala hal yg selama ini dia anggap biasa dan tidak berguna itu justru sangat berharga.
Kalau saya sebut nama-nama di negri ajaib itu pasti kebayang deh maksud ceritanya:
Kingdom of Wisdom, Sea of Knowledge, Mountains of Ignorance yang penuh dengan monster-monster seperti Gorgons of Hate and Malice, Overbearing Know-It-All, Threadbare Excuse, kota Dictionopolis dengan rajanya AZAZ yg mengagungkan huruf dan kata, Digitopolis dengan rajanya Mathemagician yang mementingkan angka, Forest of Sight di mana warna-warna dimainkan sebagai sebuah orkestra dengan dirigennya Chroma, Valley of Sound yang kehilangan suara karena Soundmaker marah orang-orang mulai tidak mau mendengar, pulau Conclusion yang hanya bisa dicapai dengan cara melompat ke sana (jump to conclusion.. hahaha jenius).
Recommended juga buat anak-anaknya ya, bapak dan ibu.