Dalam buku The Artist and the Mathematician, Amir Aczel bercerita tentang kota Paris pasca Perang Dunia I yang menjadi pusat pemikiran dan kreasi yang dinamis, tempat bertemunya para ilmuwan, filsuf, penulis, dan seniman kelas dunia. Saya selalu penasaran dengan tempat-tempat seperti ini, ‘apa ya resepnya suatu tempat bisa kreatif seperti ini?’.
Rupanya ada juga buku yang membahas pertanyaan ini:
The Geography of Genius: A Search for the World’s Most Creative Places, From Ancient Athens to Silicon Valley
Eric Weiner
Simon&Schuster (2016)
353 hal
Eric Weiner adalah jurnalis dan pernah bekerja sebagai wartawan di New York Times dan koresponden luar negeri untuk NPR di Asia dan Timur Tengah.
“Apa yang membuat suatu tempat, pada suatu masa, penuh dengan orang-orang jenius dan kreatif?” tanya Weiner.
Tempat seperti apakah Athena, yang melahirkan Socrates, Plato, dan Aristoteles? Atau Firenze, di mana Leonardo da Vinci dan Michelangelo menghasilkan mahakarya mereka?
Dalam buku ini, Weiner menelusuri jejak geografis tempat-tempat kreatif ini, untuk mencari ‘rahasia’nya.
Weiner memulai penjelajahannya di Athena, Yunani. Lalu Hangzhou, ibukota China pada masa dinasti Song; Florence/Firenze, Italia; Edinburgh, Skotlandia; Kolkatta, India; Vienna, Austria (yang istimewa karena mengalami 2 kali ‘golden age’); dan Silicon Valley.
Dari pencarian ini, apa yang ditemukan oleh Weiner? Meskipun setiap tempat memiliki karakter berbeda, tetapi ada benang merahnya:
– tempat-tempat tersebut biasanya baru saja bangkit dari chaos (perang, wabah, dll)
– mereka terbuka terhadap pendatang, terhadap aliran ide dan budaya dari luar.
– masyarakatnya (relatif) toleran terhadap perbedaan, ke’nyentrik’an, dan hal-hal baru.
Kondisi seperti ini subur untuk menyemai benih kreativitas.
Lalu bagaimana dengan karakter para jenius/kreatif itu sendiri? Beberapa waktu lalu saya sempat berteori kalau orang jenius itu sensitif menangkap pola. Ternyata disebut-sebut juga di buku ini: mereka adalah orang-orang yang melihat keteraturan di antara chaos, mampu melihat hubungan antara hal-hal dan pemikiran-pemikiran yang tampaknya nggak nyambung: mampu menangkap relasi tersembunyi. “Most of us look, the genius sees.”
Membaca buku ini seperti menonton acara-acara travel tematik yang dibawakan oleh host yang menarik. Seperti No Reservations atau Parts Unknown dari Anthony Bourdain, Believers dari Reza Aslan, atau Good Eats-nya Alton Brown. Juga mengingatkan saya sama buku-buku Mary Roach: isinya gabungan seimbang antara curiosity, informasi faktual, dan humor.
Setahu saya buku ini sudah diterjemahkan di Indonesia oleh Mizan. Silakan dicari.