Cart

Your Cart Is Empty

BiblioTech: Why Libraries Matter More Than Ever in the Age of Google

BiblioTech: Why Libraries Matter More Than Ever in the Age of Google

image

Author

Ani

Published

Februari 12, 2024

Perpustakaan umum yang gratis bagi kita jaman sekarang adalah sesuatu yang biasa, tapi dulu tidak begitu.

Sistem perpustakaan umum yang gratis bagi semua kalangan masyarakat dimulai di Boston, oleh seorang ‘crazy rich’ pada masanya (tahun 1852). Joshua Bates, seorang pengusaha & bankir, memberikan 50ribu dolar (setara hampir 2 juta dolar saat ini) bagi kota Boston untuk mendirikan perpustakaan umum yang “perfectly free to all”.

Ini merupakan hal yang radikal. Sebelumnya perpustakaan dan koleksi buku biasanya hanya bisa diakses oleh kalangan orang kaya.

Frasa bersejarah “Free to all” tertulis di atas pintu utama Boston Public Library, sebagai pengingat fungsi penting perpustakaan bagi masyarakat berdemokrasi.
(Jadi ingat di masa yang sama Frederick Law Olmsted memiliki visi demokratis tentang taman publik seperti Central Park yang terbuka bagi semua lapisan masyarakat)

Sejak itu sistem perpustakaan umum yang ‘free to all’ mulai muncul di berbagai tempat. Andrew Carnegie, seorang ‘crazy rich’ lain, juga berjasa besar mendirikan ribuan perpustakaan serupa di berbagai belahan dunia di akhir abad 19 – awal abad 20.

BiblioTech: Why Libraries Matter More Than Ever in the Age of Google

John Palfrey
Basic Books (2015)
199 hal

John Palfrey adalah profesor hukum di Harvard yang sekarang menjabat sebagai presiden MacArthur Foundation (yayasan filantropi yang setiap tahun menganugerahkan “genius grant”). Ia pernah mengepalai pusat riset Harvard yang fokus meneliti cyberspace (pemakaiannya oleh masyarakat, dll), dan meskipun latar belakangnya bukan dari jurusan ilmu perpustakaan, ia pernah mengepalai perpustakaan Harvard Law School.

Semua pengalamannya ini membawanya menjadi tokoh yang vokal memperjuangkan peran perpustakaan umum sebagai bagian penting dari negara demokrasi, sejalan dengan visi yang diajukan oleh Joshua Bates.

Buku BiblioTech (cerdas sekali pemilihan judulnya ya, terdengar seperti ‘bibliotheque’= perpustakaan dlm bhs Prancis) berisi argumen Palfrey tentang bagaimana peran perpustakaan agar bisa tetap relevan di era digital.

Ia membahas berbagai tantangan yang dihadapi perpustakaan di era Google dan Amazon, ketika masyarakat mudah sekali mencari informasi dari Internet. Banyak yang berpendapat perpustakaan tidak lagi relevan dengan kondisi seperti ini. Tetapi menurut Palfrey, relevansi perpustakaan perlu diperjuangkan demi kepentingan publik yang berhak mendapatkan informasi berkualitas (tidak sembarangan) yang gratis. Perpustakaan dan pustakawan profesional memiliki kemampuan itu (membedakan informasi yang kredibel atau tidak, sebagai kurator informasi yang satu tema, dll).

Beberapa hal yang ditekankan berulang-ulang oleh Palfrey adalah pentingnya kolaborasi antar perpustakaan, tidak bekerja sendiri-sendiri. Bahkan di era digital kolaborasi dan networking sangatlah penting agar pengguna perpustakaan (terutama untuk urusan riset dan pendidikan) dapat mendapatkan informasi di manapun dia berada tanpa terhalang jarak.

Palfrey adalah aktivis open source, ia membantu terbentuknya Digital Public Library of America (DPLA), perpustakaan digital berisi koleksi file arsip sejarah dan budaya (non-copyrighted) dari berbagai perpustakaan di penjuru AS. Perpustakaan semacam ini juga ada di Eropa dan Korea Selatan, dengan tujuan memudahkan akses bagi pendidikan dan riset.

Perpustakaan di era digital juga perlu beradaptasi. Dibutuhkan mindset terbuka dan progresif dari para pustakawan untuk mengakomodasi kebutuhan komunitas penggunanya yang berubah seiring jaman. Dicontohkan beberapa inisiatif pustakawan di beberapa kota berbeda yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat setempat (jadi inget review buku The Great Neighborhood Book kemarin ya, tentang prinsip placemaking #1). Dicontohkan perpustakaan yang menyediakan game room dan maker space di beberapa kota besar.

Hal yang sangat diperlukan di era digital adalah proses peminjaman ebook. Sayangnya menurut Palfrey hal ini masih terganjal hukum copyright dan biaya licensing. Palfrey mengajak siapapun yang peduli dengan perpustakaan dan demokrasi perlu bersama-sama mencari solusi yang menguntungkan bagi semua pihak, karena pada akhirnya kemudahan akses informasi bagi masyarakat adalah unsur penting dalam demokrasi. Kalau perpustakaan gratis tidak survive, literasi nantinya hanya bisa diakses oleh segelintir yang mampu saja, dan hal ini tidak sehat bagi demokrasi.

Semoga muncul Joshua Bates atau Andrew Carnegie baru yang dapat mendorong riset pengembangan perpustakaan era digital.

***

Buku ini ditulis tahun 2015, jadi mungkin sekarang sudah ada perkembangan lebih lanjut tentang topik relevansi perpustakaan di era digital. Kalau tidak salah American Library Association juga sedang mengekplorasi bagaimana teknologi blockchain dapat digunakan dalam sistem perpustakaan.

Kalau untuk Indonesia, saya pikir tidak bisa disamakan karena konteksnya berbeda. Jangankan urusan digital networking, soal pengadaan dan distribusi buku di daerah saja mungkin masih banyak hambatan. Gap literasi antara kota besar dan daerah, bahkan antar kelurahan saja mungkin sangat besar. Tapi semoga siapapun yang peduli akan literasi dan keberlangsungan hidup perpustakaan, dapat sama-sama mencari solusinya.

Join Us

Book

O Latte

Follow IG untuk membaca review kami

Join Us on Spotify

Our Location

My Place

The place I like the most

Get Direction