Dalam buku Love & Math, selain menjelaskan tentang Langlands Program Edward Frenkel juga bercerita tentang perjalanan hidupnya berkaitan dengan kecintaannya pada matematika.
Frenkel lahir di Uni Soviet di masa kekuasaan partai Komunis. Pada masa itu sudah dimahfumi bahwa orang-orang dari ras tertentu tidak punya hak yang sama dengan ‘pribumi’, dan dihalangi dari posisi dan institusi tertentu, termasuk pendidikan.
Frenkel jatuh hati pada matematika sejak usia SMP, dan ia ingin belajar matematika murni dari sekolah terbaik di Soviet, yaitu Moscow State University (MGU dalam bahasa Rusia) di departemen Mechanics & Mathematics (Mekh-Mat). Ia tahu kansnya sulit karena ia setengah Yahudi, tapi ia tetap mencoba karena yakin dengan kemampuannya.
Di hari ujian ia menjawab semua soal dengan benar, tapi giliran ujian lisan, penguji seolah-olah tidak melihat Frenkel yang mengangkat tangan karena sudah siap menjawab dari awal. Ia menguji anak-anak lain dan mengabaikan Frenkel. Tiba-tiba datang penguji baru senior yang khusus datang untuk Frenkel. Ia memberi pertanyaan-pertanyaan sulit untuk anak seusia Frenkel (15 tahun saat itu). Frenkel berhasil menjawab semua karena ia sudah dilatih matematika tingkat tinggi sejak SMP oleh seorang profesor teman ibunya. Tapi semua jawabannya dianggap salah. Setiap kali menjawab kata-katanya dipotong penguji, diberi soal lebih sulit, dijawab, dipotong lagi, terus begitu hingga berjam-jam dan kelas sudah kosong.
Akhirnya Frenkel menyerah, tidak ada gunanya berusaha masuk ke sekolah yang jelas-jelas tidak mau dia ada di situ. Ia mendaftar ke tempat lain, satu dari sangat sedikit institusi pendidikan tinggi yang menerima orang Yahudi.
Keluarga Frenkel sudah berkali-kali mengalaminya. Jaman Stalin, kakeknya dibuang kerja paksa di gulag lewat tuduhan bodong. Ayahnya, murid pintar yang ingin melanjutkan belajar fisika teori, ditolak masuk Gorky University dan terpaksa masuk sekolah teknik. Sekarang Frenkel pun mengalaminya.
Seperti Jerman di awal jaman Nazi ya.
Beruntung ada ilmuwan-ilmuwan pribumi yang diam-diam menyediakan sekolah untuk anak-anak pintar yang tertolak ini supaya mendapatkan pendidikan matematika berkualitas. Tapi kalau ketahuan, tahu-tahu besoknya mati ‘kecelakaan’.
Frenkel termasuk salah satu yang beruntung mendapatkan kebaikan dari orang-orang seperti ini, sehingga memungkinkan dia mendapatkan pendidikan matematika berkualitas sehingga ia bisa membuktikan suatu problem matematika di usia 19, dan papernya diterima komunitas matematika internasional yang memungkinkan ia diundang menjadi visiting professor di Harvard di usia 21.
====
Membaca tentang hal-hal seperti ini selalu bikin darah mendidih. Membaca buku atau menonton film tentang Nazi Germany, holocaust, segregasi kulit hitam di Selatan, perbudakan, lynching, dll selalu bikin mood berantakan.
Kebodohan-kebodohan manusia akibat ideologi yang mereka percayai. Kepercayaan yang menghalangi kemajuan dan perdamaian.
Kebetulan saya juga sedang membaca buku yang ditulis profesor computer science dan statistik Judea Pearl. Ia juga korban kebencian terhadap Yahudi. Anaknya, Daniel Pearl, adalah wartawan Wall Street Journal yang pada tahun 2002 diculik dan dipenggal AlQaeda di Pakistan.
Namun Judea tidak berbalik membenci, malah ia bekerja untuk rekonsiliasi antara Yahudi dan Muslim. Ketika ditanya kenapa, jawabnya “Hate killed my son. Therefore I am determined to fight hate.”
Semoga kita termasuk orang-orang yang bekerja melawan kebencian.
(keterangan gambar: Bertrand Russel, filsuf, logikawan, matematikawan. Diambil dari komik Logicomix)