Sayangnya, ternyata buku Pak Sumarsam mengenai wayang dan gamelan hanya sedikit bercerita mengenai pola musik gamelan. Tapi ada bagian yang lebih menarik di buku ini, yaitu keterkaitan antara wayang dengan dakwah Islam.
Judul buku: Memaknai Wayang dan Gamelan: Temu Silang Jawa, Islam, dan Global
Pengarang: Sumarsam
Penerbit: Gading, 2018
Tebal: 345 halaman
Pak Sumarsam adalah profesor bidang musik yang mengajar di Universitas Wesleyan, Amerika. Buku ini dibuka dengan kisah masa kecilnya, sebagai bocah ingusan, yang tertarik dengan gamelan. Tanpa dinyana, dia diajak ikut dalam rombongan pentas wayang, dan dibayar. Kesenangannya lalu berlanjut sampai dewasa, sehingga mengambil sekolah untuk mendalami ilmu wayang serta gamelan. Ketika akhirnya mendapat kesempatan mengajar di Amerika, Pak Sumarsam pindah dan mengajar di Universitas Wesleyan sampai sekarang. Kisah hidupnya ditulis juga di bab terakhir buku ini.
Buku ini dibagi 6 bab.
Bab Pendahuluan: Hal menarik dari bab ini adalah cerita mengenai munculnya gamelan pada Pameran Internasional Paris tahun 1889, dibawa oleh pemerintah kolonial Belanda sebagai pertunjukan hiburan untuk menyemarakkan pameran hasil-hasil bumi dari tanah jajahan. Ini adalah salah satu titik penting dikenalnya gamelan di Eropa, dan pertunjukkan ini juga mempengaruhi maestro musik klasik Debussy. Debussy lalu dikenal karena telah menggubah musik klasik dengan gaya gamelan yang kuat.
Bab 1: Gamelan dan Etnomusikologi. Membahas sejarah gamelan di nusantara, dan lika-liku pembelajaran gamelan baik di Indonesia maupun di Amerika, tempat Pak Sumarsam mengajar.
Bab2: Islam dan Wayang. Bab ini sangat menarik, membahas jalinan antara dakwah Islam dengan wayang. Pak Sumarsam menjelaskan bahwa setelah kedatangan Islam, Wayang telah dimodifikasi sedemikian rupa sehingga bisa menjadi media dakwah Islam. Misalnya, stilasi bentuk wayang (kulit) yang semakin abstrak sehingga tidak menggambarkan sosok manusia secara utuh. Kisah-kisah yang berasal dari khazanah Hindu dimodifikasi sehingga menyerap nilai-nilai kesufian Islam, misalnya kisah perjalanan Bima yang bertemu dengan Dewa Ruci. Senjata sakti milik Yudhistira, Kalimasada, diberi makna baru sebagai ‘dua kalimat syahadat’.
Hadirnya tokoh Semar dan punakawan juga mengubah kisah wayang yang tadinya sangat hirarkis, menjadi cair, khas rakyat jelata yang jenaka. Namun tersembunyi di balik kejenakaan Semar dan punakawan, tersimpan makna mistis ‘manunggaling kawula gusti’, dimana ‘rakyat jelata yang paling rendah sesungguhnya juga penguasa tertinggi’, ‘yang paling hina secara fisik sesungguhnya mulia hatinya’, dll.
Pak Sumarsam juga mencatat bahwa dalam pertunjukan wayang, menjadi lazim mendendangkan shalawat badar pada bagian adegan goro-goro, disertai mengirim doa untuk penonton yang ‘request’ shalawat tersebut. Dalang pun biasanya menyisipkan petuah-petuah agama dalam kisah yang dia bawakan. Dengan demikian, wayang merupakan bentuk dakwah yang sangat cair dan menarik perhatian masyarakat yang menontonnya.
Bab 3: Teori Gamelan dan Tatanan Sosial. Bab ini sebagian besar membahas teori musik gamelan, namun sayangnya saya tetap kurang memahami bentuk musik gamelan. Mungkin sambil membaca harus sambil mendengarkan, baru bisa paham. Nanti dicoba deh. Yang lebih menarik buat saya di bab ini adalah pembahasan tentang analogi wayang dan gamelan, dengan tata kerajaan. Menurut sejarahnya, Jawa terpengaruh dengan struktur hirarkis dalam agama Hindu, namun dalam bentuk yang lebih cair serta dinamis. Pak Sumarsam mencatat bahwa Slametan (selamatan) merupakan tradisi khas Jawa yang demokratis, karena diadakan setiap ada hal yang disyukuri, dan dihadiri oleh semua tetangga, tanpa memandang statusnya. Seperti yang tadi sudah dibahas, dalam wayang, sifat demokratis diwujudkan lewat hadirnya para punakawan. Selain itu, hubungan antara raja dengan kawula juga disimbolkan dalam interaksi gamelan, dimana tidak ada kepemimpinan yang tegas, asalkan sama-sama menaati pakem.
Bab 4: Gamelan, Wayang, dan Film. Bab ini membahas penggunaan gamelan dalam film-film nasional Indonesia, terutama yang bertema kepahlawanan. Pak Sumarsam mencatat perkembangan penggunaan gamelan sebagai musik latar film, yang tadinya hanya asal comot rekaman yang sudah ada, menjadi sebuah repertoar yang ditulis khusus untuk sebuah film.
Bab 5: Anugrah dan Kenangan. Bab ini sebagian besar berisi riwayat hidup Pak Sumarsam. Perjalanan hidupnya yang diabdikan untuk wayang dan gamelan bisa menginspirasi pembacanya.
Buku ini amat menarik, walau di beberapa bagian agak membosankan. Maklum, pak Sumarsam menulisnya dengan gaya akademis yang detil dan runtut. Yang jelas, buku ini membuat saya tidak terlalu merasa berdosa lagi karena sudah terputus dengan akar keJawaan. Setidaknya, sekarang kalau ada yang menanyakan soal gamelan dan wayang, saya bisa menjawab sedikit-sedikit, hehehe.