“What makes you, ‘you’? What is ‘self’?”
Begitu pertanyaan yang sering muncul dalam diskursus filsafat kesadaran.
Membaca buku ini saya jadi ingat buku Dalai Lama “The Universe In A Single Atom: The Convergence of Science and Spirituality” karena seperti sub judulnya, buku ini buku sains, tapi topik yang dibahas, dan argumen yang diajukan mirip bahasan filsafat dan spiritualitas.
Being You: A New Science of Consciousness
Anil Seth
Dutton (2021)
340 hal
Anil Seth adalah seorang profesor bidang neurosains kognitif dan komputasional di University of Sussex dan co-director Sackler Centre for Consciousness Science yang fokus meneliti basis biologis dari kesadaran.
Bagi Seth, ketertarikannya mengetahui apa itu ‘self’ dimulai sejak kecil, ketika suatu hari ia berdiri di depan cermin dan menyadari bahwa suatu saat ‘diri’ ini akan hilang bersama kematian. Selain itu fenomena hilangnya kesadaran ketika seseorang dibius total pun, membawanya pada kesimpulan bahwa kesadaran itu berkaitan dengan proses biologis.
“If my consciousness could end, then it must depend in some way on the stuff I was made of– on the physical materiality of my body and my brain.”
Buku ini menceritakan sudah sejauh mana penelitian tentang kesadaran yang dilakukan Seth dan kolega-koleganya, dan argumen yang dipegang Seth dalam ilmu ini.
Menurutnya alih-alih menganggap kesadaran itu sebagai sesuatu yang misterius dan sulit diteliti (the Hard Problem: bagaimana menjelaskan hubungan antara mekanisme fisik dengan pengalaman fisik), Seth beranggapan bahwa kesadaran perlu diruntuhkan dulu status ‘misterius’nya dengan meneliti bagian-bagiannya, seperti bagaimana ilmu pengetahuan meneliti alam semesta sedikit-sedikit sehingga banyak hal yang dulu misterius sekarang mudah dipahami.
Dalam topik kesadaran ada beberapa kubu filosofi:
Physicalism berpendapat bahwa kesadaran muncul dari physical stuff — dari apa semesta terbuat. Functionalism termasuk di dalamnya, tetapi lebih umum karena tidak melihat ‘dari apa suatu sistem itu terbuat’, hanya dilihat dari fungsinya, jadi tidak perlu sistem biologis, bisa juga buatan/artifisial seperti komputer dan robot.
Idealism berpendapat bahwa kesadaran adalah sumber realitas, bukan fisik atau materi. Kesadaran memunculkan materi, bukan sebaliknya.
Dualism berpendapat bahwa kesadaran dan materi itu terpisah (mind vs matter atau mind vs body).
Panpsychism berpendapat bahwa kesadaran adalah karakter fundamental dari semesta, seperti juga energi, dan ada di mana-mana (omnipresent) dalam derajat berbeda.
Mysterianism berpendapat bahwa ada penjelasan menyeluruh tentang kesadaran, hanya saja manusia tidak akan pernah mengetahuinya.
Seth mengambil posisi di physicalism, tapi bukan functionalism, karena menurutnya kesadaran muncul dari suatu sistem kompleks yang hidup. Ia juga tidak anti panpsychism tetapi menurutnya ini tidak berguna karena tidak menjelaskan apapun dan tidak bisa diuji.
Bagaimana menguji kesadaran? Menurutnya, anggap dulu bahwa kesadaran itu eksis, lalu diteliti lewat fenomenologinya. Jadikan ‘hard problem’ menjadi ‘real problem’, sesuatu yang bisa diuji satu persatu.
Ada 3 topik penting dalam penelitian kesadaran: level, content, dan konsep ‘self’.
Kita perlu bisa mengukur level kesadaran. Ini akan berguna misalnya untuk mengambil keputusan medis dalam operasi dan kasus-kasus seperti koma dan vegetative state.
Menurut Seth ‘consciousness’ harus dibedakan dengan ‘wakefulness’ karena pada saat tidur pun kita bisa conscious. Mimpi adalah satu bentuk consciousness tanpa wakefulness.
Mengenai content atau isi kesadaran, contohnya seperti ini.
Katakanlah kita melihat suatu kursi merah. Sains sudah kurang lebih mengerti bagaimana proses yang terjadi sehingga terbentuk visualisasi ‘kursi merah’ itu, tapi bagaimana seseorang mengalami fenomena ke-merah-an (redness) berawal dari dalam, bukan dari luar. Otak menerima sinyal dan berusaha menafsirkannya berdasarkan data yang dimiliki di awal, dan data ini terus menerus diupdate dengan arus data yang masuk setiap saatnya dari berbagai indera tubuh. Seth menyebutnya ‘prediction error minimization’ dan proses ini mengikuti prinsip Bayesian inference.
Menurut Seth pengalaman kita bisa dibilang ‘controlled hallucination’, semacam mimpi dalam keadaan sadar (waking dream).
–hmm..kok seperti yang disebut dalam spiritualitas ya.. bahwa dunia ini ilusi, mimpi–
Seth mengatakan, biasanya habis dia bilang begini pasti bakal banyak yang protes. Semacam “Coba kamu berdiri di tengah jalur bis, ketabrak nggak kamu tuh. Masih mau bilang dunia ini halusinasi?” Hehehe
Tapi halusinasi menurut Seth bukan seperti itu. Memang benar ada ‘sesuatu’ dengan materi dan energi yang membentuk ‘bis yang melaju di jalan’ itu, tetapi bagaimana otak kita mempersepsinya adalah ‘halusinasi’ karena berawal dari secuil data terbatas di dalam.
Saya menangkapnya seperti ini: kita ini sebenarnya buta terhadap ‘realitas apa adanya’, kita hanya bisa menangkap sepersekian dari realitas, tergantung ketersediaan material dan proses yang tersedia di dalam tubuh kita. Ini obvious dari misalnya kemampuan manusia yang umumnya hanya bisa menangkap spektrum visual, auditorial yang sangat kecil. Ada realitas yang tidak tertangkap mata dan telinga kita, tapi eksis.
(jadi inget kisah orang buta dengan gajah)
Bagaimana dengan konsep ‘diri’ atau ‘self’?
Menurut Seth, ini juga sama-sama halusinasi, tetapi sinyalnya bukan dari luar tubuh, melainkan dari dalam: dari berbagai proses yang terjadi di dalam organ, dalam sel. Karena itu kesadaran ‘diri’ baru bisa muncul dalam suatu sistem yang hidup, suatu sistem yang secara aktif membuat batas dengan lingkungannya, mempertahankan diri melawan entropi.
(baca bagian ini saya jadi inget konsep karma dan sanskara di Hindu, atau kalau di tasawuf itu seperti ‘secara aktif membangun dinding pembatas antara setitik air dengan samuderanya’)
Di bagian akhir Seth membahas tentang kesadaran binatang dan AI.
Karena Seth berpendapat bahwa kesadaran hanya bisa muncul dalam ‘living system’, jadi kesadaran buatan lebih mungkin muncul di bidang biotechnology (disebutkan misalnya ttg tim ilmuwan yang berhasil ‘menciptakan’ varian E.Coli sintetis) daripada AI.
Sekali lagi, ini pendapat pribadi Seth.
Buku ini bahasannya berat dan bahasanya juga relatif akademik, jadi buat saya agak susah dibaca, harus pelan-pelan. Tapi topiknya sangat menarik dan disampaikan secara runut dan jelas.
Catatan: buku lain yang kurang lebih berkesimpulan sama (realitas itu berasal dari dalam) adalah buku-buku dari Robert Lanza tentang teorinya Biocentrism (ada beberapa buku).
Buku-buku lain yang berkaitan dengan topik kesadaran:
What Is Life
Erwin Schrödinger
https://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=pfbid0ZDixK2nERxRrqH9SHcqDrWxpLSY5gd1nZ6mneekU5gyBEfQUhtXtDvfbGzr2hooEl&id=110094584722775
The Universe In A Single Atom: The Convergence of Science and Spirituality
Dalai Lama
https://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=pfbid02nXjFtU6ueM6SiqfYgmTcLcq32yAibgaUtQweDqp61AfUkZ99VHTwzLerEu18f1jLl&id=110094584722775