Kadang bacaan saya dipicu oleh mimpi, seperti kali ini. Beberapa hari yang lalu di mimpi ada seorang child prodigy, seorang matematikawan tua dengan rambut memutih, dan kata ‘combinatorics’. Saya tidak tahu apa itu ‘combinatorics’. Googling kata itu memunculkan Paul Erdős. Saya ingat punya buku tentang Paul Erdős ini sudah lama, tapi belum pernah dibaca. Dan saya senang pada akhirnya membaca buku ini, yang bercerita tentang seorang yang sangat unik.
The Man Who Loved Only Numbers: The Story of Paul Erdős and The Search For Mathematical Truth
Paul Hoffman
Hyperion (1998)
318 hal
Penulis buku ini, Paul Hoffman, bukanlah matematikawan. Ia jurnalis dan penulis biografi, yang menurut websitenya banyak menulis tentang “the relationship between genius, madness, obsession, and creativity.” Ia juga aktivis komunikasi sains dan sejak tahun 2011 mengepalai Liberty Science Center di Jersey City, New Jersey. Ia mulai mengenal Paul Erdős tahun 1986, dan mengikutinya ke berbagai tempat dalam rangka menulis biografi ini.
Paul Erdős (dalam bahasa Hungaria dibaca er-dish) adalah matematikawan asal Hungaria, seorang jenius yang sudah bermain dengan angka dan matematika sejak usia balita. Kehidupan di Hungaria sulit bagi orang Yahudi sepertinya. Banyak anggota keluarganya yang meninggal di masa perang, tetapi ibunya selamat. Erdős amat dekat dengan ibunya ini.
Erdős legendaris karena merupakan matematikawan yang paling produktif menerbitkan paper sepanjang sejarah (kira-kira 1500 paper, hasil kolaborasi dengan ratusan matematikawan berbeda) dan juga karena karakternya yang eksentrik. Ia tidak pernah tinggal lama di satu tempat, dan semua miliknya muat dalam dua buah koper yang keduanya setengah kosong. Seluruh hidup dan perhatian Erdős ditumpahkan untuk matematika, selain itu ia tidak terlalu peduli, bahkan ia tidak tahu bagaimana melakukan banyak hal yang bagi masyarakat dianggap ‘normal’.
Buku ini tidak hanya bercerita tentang kehidupan dan kisah kenyentrikan Paul Erdős yang diceritakan oleh teman dan kolega-koleganya, melainkan juga tentang Ronald Graham (dan istrinya, Fan Chung) orang terdekat dan yang paling banyak mengurus hidup Erdős. Selain itu juga banyak konsep dan problem matematika yang dijelaskan di sini, dengan bahasa yang mudah dimengerti. Misalnya tentang Fermat Last Theorem, bagaimana Andrew Wiles memecahkannya, tentang bilangan Fibonacci, teorema Ramsey, bilangan prima, dll, dan tentang matematikawan ternama seperti Hardy, Cantor, Gauss, dll.
Membaca buku ini saya langsung teringat buku The Pattern Seekers. Paul Erdős cocok dengan gambaran seorang Extreme Systemizer, mereka yang pikirannya “selalu fokus urusan presisi, detail, akurasi, senang mencari tahu bagaimana suatu hal bekerja, bagaimana membangun dan memperbaiki suatu sistem.” Di buku juga diceritakan beberapa ciri Erdős yang cocok dengan karakteristik autistik seperti ‘jumping up and down and flapping arms’ saat senewen.
Memang dalam urusan norma sosial yang diterima di masyarakat, apa yang dilakukan Erdős banyak yang ‘aneh’, bahkan bagi banyak orang bisa jadi dianggap tidak sopan, lancang, dan mengganggu. Tetapi membaca tentang begitu sayangnya Erdős pada ibunya, pada anak-anak, pada teman-temannya, dan kebaikan dan kemurahhatiannya pada banyak orang yang tidak dikenalnya, saya juga jadi ingat apa yang ditulis Simon Baron-Cohen di buku The Pattern Seekers “…even if you struggle with cognitive empathy, you are more moral than others, because you combine affective empathy with a strong love of logic and an overriding belief in fairness and justice.”
Beberapa cerita yang menarik di buku ini misalnya:
– semua uang yang diterima Erdős dari bayaran mengajar, hadiah penghargaan dll, hampir semuanya ia sumbangkan atau berikan pada mereka yang membutuhkan.
– ketika Erdős memberi pinjaman $1000 pada seorang anak SMA yang berbakat matematika dan sudah diterima di Harvard tapi uangnya tidak cukup untuk tuition. “Nanti bayar kalau kamu sudah mampu”. Setelah anak itu lulus dan mau membayar, Erdős bilang “Gunakan uang itu seperti ketika saya menolong kamu dulu.” Dengan kata lain, ‘pay it forward’. Anak itu, Glen Whitney, kemudian aktif dalam mempopulerkan matematika ke publik, dan mendirikan Museum of Mathematics.
– Erdős beranggapan bahwa matematika harus dilakukan secara kolaboratif, tidak diam-diam. Dia kurang suka dengan apa yang dilakukan oleh Andrew Wiles yang diam-diam mengerjakan solusi Fermat’s Last Theorem selama 8 tahun.
– Erdős selalu menantang matematikawan manapun, tua muda, level profesor ataupun anak-anak prodigy, untuk memecahkan problem matematika yang menurutnya ‘worthy of doing’ bagi mereka, sehingga mereka selalu tertantang untuk berpikir dan menjadi lebih baik. Bahkan ia tidak segan memberi soal-soal matematika bagi temannya yang baru operasi tumor otak, agar otaknya cepat pulih dan kuat.
Erdős ini di mata saya jadi seperti sufi dan guru yang datang untuk menantang dan membimbing orang-orang untuk mengeluarkan potensi terbaiknya, dan bersama-sama mencari kebenaran.
Berkaitan dengan kebiasaan Erdős yang senang menantang daya pikir ini, saya jadi teringat dengan kehebohan ChatGPT, language-based AI yang disebut-sebut mengalahkan Google. Di era Google saja, banyak orang yang sudah malas berpikir, hanya copy paste dan membaca selintas. Seperti diceritakan oleh Maryanne Wolf di buku “Reader, Come Home” kemampuan membaca di era digital semakin menurun, sehingga menurun pula kemampuan berpikir kritis. Bagaimana nanti di era AI? Otak manusia dipakai apa?
Homo Neanderthal dulu punah karena kalah dari Homo Sapiens yang mempunyai keistimewaan di otaknya, yaitu kemampuan bertanya dan memahami sebab akibat (alias kemampuan logika!). Kalau keistimewaan ini tidak dipakai, apa jadinya Homo Sapiens yang namanya berarti “manusia bijak” ini?
Ada sebuah kutipan menarik dari Erdős “Problems worthy of attack proves their worth by fighting back”. Saat ini Sapiens mendapat tantangan dari AI. How are we going to fight back to prove our worth?
Bagi saya jawabannya adalah dengan memperkuat daya pikir, dengan belajar logika matematika, deep reading, dan critical reading/writing.
Hmm… jadi ingat seringnya suruhan berpikir di Al Quran ya.
Tidakkah kamu berpikir?
The Pattern Seekers (Simon Baron-Cohen)
https://www.facebook.com/bookolatte/posts/pfbid05vRx635wmroyByGa14efT5twg8hzWyFPRSXsdaJTyAcGJugAMm4qcaiv8QWQMTHTl
Reader, Come Home (Maryanne Wolf)
https://www.facebook.com/bookolatte/posts/pfbid0yrSnQP34NH8MzTBxpi3RRtGSwwUrg868X1Fq277BYWLUVhxoG7iYzyWFBprY8yp6l