Selama bertahun-tahun pada peneliti Injil mencermati tata bahasa Injil. Mereka menandai kata-kata yang berpasangan (langit-bumi, hidup-mati, gelap-terang), dan kata-kata yang diulang-ulang. Setelah hampir 300 tahun penelitian dilakukan oleh banyak peneliti, muncullah kesimpulan bahwa Injil memiliki struktur sistematis berbentuk cincin. Penelitian lanjutan menemukan bahwa Struktur Cincin tidak hanya ditemukan dalam Injil, tapi juga berbagai naskah kuno dari berbagai budaya di dunia: Kisah Illiad (Yunani Kuno), Rig Veda (India Kuno), Puisi Rumi (Persia), kisah2 kuno Cina, dll. Penemuan Struktur Cincin mengubah persepsi peneliti modern yang tadinya menganggap naskah-naskah tersebut aneh dan sulit dimengerti, menjadi naskah-naskah yang ditulis dengan kerapian dan intelegensi tinggi.
Judul Buku: The Composition of The Qur’an: Rhetorical Analysis
Pengarang: Michel Cuypers
Penerbit: Bloomsbury, 2012
Tebal: 217 halaman
Michel Cuypers adalah salah satu peneliti yang tertarik untuk meneliti apakah Al-Qur’an memiliki Struktur Cincin, sama seperti naskah-naskah kuno lainnya. Dia menuliskan metode penelitiannya secara rinci dalam buku ini. Harapannya, orang dapat mencoba juga meneliti Al-Qur’an, langkah demi langkah, seperti yang dia lakukan. Cuypers menandai kata-kata yang berpasangan dalam Al-Qur’an, kata-kata yang berulang, kalimat-kalimat yang saling bersahutan dalam posisi simetri seperti cermin. Penelitian pertamanya dilakukan pada surat-surat pendek juz 30. Setelah melihat bahwa surat-surat pendek ini memang memiliki Struktur Cincin, dia mencoba meneliti surat Al-Ma’idah, surat panjang yang konon diturunkan terakhir. Penelitiannya mengenai surat Al-Ma’idah mendapat sambutan hangat. Pemerintah Iran memberinya penghargaan pada buku hasil penelitiannya sebagai salah satu buku paling inovatif dalam penelitian Al-Qur’an. Oh ya, buku soal Al-Ma’idah ini buku yang berbeda ya, judulnya The Banquet. Belum bisa aku review, sedang nunggu bukunya datang dari Amerika, hehe.
Apa yang ditemukan Cuypers mengenai Al-Qur’an? Ternyata Al-Qur’an, dalam bentuk finalnya seperti yang kita kenal sekarang, memiliki Struktur Cincin yang sangat rapi. Karena itu, Cuypers berkesimpulan bahwa Al-Qur’an sama sekali tidak pantas mendapat penilaian miring dari para peneliti orientalis generasi lama. Dulu Al-Qur’an dianggap sebagai naskah membingungkan yang alur logikanya melompat-lompat, diulang-ulang, dan seolah penuh ‘tambalan’ di sana sini. Padahal jika dibaca dengan memperhatikan Struktur Cincin, Al-Qur’an bukan hanya memiliki susunan yang rapi, tapi juga indah dan cerdas.
Cuypers juga membantah pendapat orientalis yang sering menuduh Al-Qur’an sebagai kopian dari kitab-kitab sebelumnya (Taurat dan Injil). Memang benar Al-Qur’an menceritakan kisah-kisah yang sama, tokoh-tokoh yang sama, juga menggunakan Struktur Cincin yang sama. Namun Al-Qur’an menulis ulang semuanya dengan narasi baru, sudut pandang baru, menawarkan nilai-nilai baru, dan kesemuanya itu dilakukan dengan tetap mempertahankan Struktur Cincinnya. Menurut Cuypers, Al-Qur’an bukan mencontek, tapi melakukan inovasi baru.
Satu hal lagi yang penting dari penelitian Cuypers, membaca Al-Qur’an lewat Struktur Cincin memunculkan bahwa ayat-ayat yang memiliki nilai universal memang terletak di pusat cincin. Hal ini berarti ayat-ayat tersebutlah yang seharusnya menjadi pedoman dalam menafsirkan ‘nada’ Al-Qur’an: ayat-ayat yang bicara mengenai kemanusiaan universal, kasih sayang dan toleransi antar manusia menjadi pondasi nilai-nilai Al-Qur’an. Sedangkan ayat lain yang tidak terletak di pusat selalu ayat yang diturunkan berdasarkan konteks zaman, tergantung pada situasi kondisi tertentu. Ayat-ayat ini seharusnya tidak menjadi prioritas dalam menarik hukum syariat, karena harus diteliti dulu konteksnya seperti apa.
Selain mengundang pujian, hasil penelitian Cuypers tentu saja mengundang kritik. Sebagian mengkritik metodenya yang dianggap kurang detil, kurang teliti. Sebagian mempertanyakan kompetensinya: mana bisa tafsir Al-Qur’an dari seorang non-muslim diterima?
Namun Cuypers selalu menegaskan bahwa karyanya adalah penelitian ilmiah. Karena itu dia menuliskan buku The Composition ini sebagai pedoman bagi siapapun yang ingin membuktikan hasil temuannya, untuk dipelajari dan dikembangkan bersama-sama.
Tertarik untuk meneliti juga? 🙂
Oh ya, satu hal yang menggetarkan waktu baca buku ini: simetri itu benar-benar ada dimana-mana, dan benar-benar jadi kunci pembuka misteri alam semesta ya ❤️