Bisakah memperhitungkan perbedaan genetik dalam penelitian sosial tanpa terjebak menjadi rasis dan diskriminatif? Menurut buku ini, bisa, bahkan peneliti harus memulainya dan justru merebutnya dari tangan-tangan rasis dan white supremacist, untuk menghasilkan kebijakan-kebijakan yang adil bagi semua kalangan.
The Genetic Lottery: Why DNA Matters for Social Equality
Kathryn Paige Harden
Princeton University Press (2021)
312 hal
Kathryn Paige Harden adalah profesor psikologi di University of Texas at Austin, peneliti behavioral genetics, kepala lab Developmental Behavior Genetics dan co-director Texas Twin Project.
Buku ini berisi argumen Harden untuk meyakinkan para akademik yang skeptis, bahkan menganggap berbahaya, usaha memperhitungkan perbedaan genetik dalam penelitian sosial. Hal ini disebabkan riwayat kelam eugenics dan rasisme yang menghantui sejarah manusia.
Soal ini sekilas sempat disebut-sebut oleh Sam Kean di buku Violinist’s Thumb, bahwa peneliti genetika sering diwanti-wanti untuk tidak mengait-ngaitkan genetik dengan ras. Tapi seperti diingatkan Paul Nurse di buku What Is Life, adanya perbedaan itu memang fakta, tapi “we must make sure these insights are never used as the basis for discrimination”. Melalui buku ini Harden menjelaskan dengan rinci apa yang dimaksud Nurse tadi, bahwa fakta perbedaan genetik yang mempengaruhi perilaku bisa diteliti dan dikembangkan tanpa terjebak ide-ide eugenics, hierarki, dan supremasi.
Sebelumnya perlu diketahui bahwa buku ini tampaknya bukan diperuntukkan bagi masyarakat umum, karena untuk memahaminya paling tidak pembaca perlu cukup familiar dengan topik genetika, statistik dan istilah-istilahnya, metodologi penelitian dalam ilmu psikologi dan sosiologi, permasalahan pendidikan serta situasi sosial politik dalam negeri Amerika.
Kok soal genetika aja nyambung sama politik? Kalau mengamati suasana politik Amerika satu dekade terakhir ini, dapat merasakan naiknya ideologi white supremacy, apalagi di masa pemerintahan Trump. Menurut Harden, mereka yang suka mengonsumsi temuan-temuan genetika di jurnal ilmiah itu selain sesama akademik adalah juga para white supremacist, dan menjadikan perbedaan genetik sebagai pembenaran ideologi mereka.
Selain itu juga ada perbedaan posisi politik antara konservatif dan liberal. Konservatif (diwakili partai Republikan) menjunjung tinggi kebebasan dan kepemilikan individu dan umumnya menolak memperluas program-program bantuan sosial (they don’t want to share the wealth) karena menganggap orang-orang miskin itu miskin karena pemalas, harusnya kerja bukan dikasih uang. Liberal progresif (diwakili partai Demokrat) biasanya rajin mendorong program-program bantuan sosial untuk orang miskin dengan cara menaikkan pajak (tax the rich!), dan hasilnya sering dituduh sosialis (dalam konotasi negatif). Kurang lebih seperti itu nuansa politik Amerika saat ini. Ekstrim!
“Jika kalangan akademik yang paham soal perbedaan genetik ini diam saja karena khawatir ‘menyinggung’ isu-isu progresif, nanti malah diambil alih oleh para white supremacist dan konservatif, lalu dijadikan alasan pembenaran ideologi dan perilaku mereka yang tidak adil,” begitu kira-kira argumen Harden.
Buku ini terbagi dua bagian besar: Taking Genetics Seriously dan Taking Equality Seriously. Bagian pertama terbagi bab-bab yang membahas bagaimana peneliti behavioral genetics memanfaatkan data gen untuk menemukan korelasi antara rangkaian gen tertentu (yang diekspresikan berupa angka polygenic index) dengan pencapaian seseorang dalam pendidikan, pekerjaan, pendapatan dll sehingga mempengaruhi posisi dan statusnya di masyarakat. Di bagian ini Harden menjelaskan tentang mekanisme pewarisan gen (yang seperti pernah saya tulis di review Herding Hemingway’s Cats, genetika modern tidak sesimpel teori Mendel yang kita pelajari di SMA), perbedaan antara ‘genealogical ancestor’ dan ‘genetical ancestor’, apa yang dimaksud dengan istilah-istilah tertentu seperti ‘cause(penyebab)’ dan ‘heritability’ yang sering menimbulkan kesalahpahaman antara peneliti dan akademik di luar bidang ilmu genetik, apalagi awam. Karena perdebatan yang basis pemahamannya tidak sama hanya akan menghabiskan energi sia-sia.
Beberapa poin penting misalnya: yang dimaksud dengan ‘genetik mempengaruhi suatu sifat’ itu bukan ‘satu gen tertentu secara langsung memunculkan sifat A’. Hanya sedikit sekali gen yang seperti itu, dan biasanya berkaitan dengan penyakit (seperti gen HTT dengan Huntington disease). Polygenic index berurusan dengan grup-grup gen (bisa berjumlah ribuan) yang berkorelasi dengan munculnya sifat tertentu.
Harden memberi analogi polygenic index seperti sistem rating restoran di Yelp. Unsur-unsur apa dari sebuah restoran yang berkorelasi dengan tinggi rendah ratingnya di Yelp? Daftarnya panjang, seperti juga banyaknya gen yang berkorelasi dengan ‘berapa lama seseorang menempuh pendidikan, kaitannya dengan pekerjaan dan income yang kemudian ia dapatkan’.
Penelitian terhadap orang kembar (identik dan fraternal) dan saudara sedarah banyak memunculkan insight mengenai hubungan genetik dengan karakteristik luar seseorang. Tidak hanya yang tampak jelas seperti tinggi badan, warna kulit, mata atau rambut, melainkan juga sifat-sifat seperti memori yang kuat, cepat menangkap pelajaran, fungsi-fungsi eksekutif seperti kontrol diri, fokus, kemampuan organisasi, interpersonal skill, dan bahkan juga kegigihan (grit), yang seringkali dikira independen terhadap genetik, ternyata juga dipengaruhi unsur genetik.
Harden mencontohkan polygenic index yang berkaitan dengan tinggi badan dan berujung kesuksesan dan kekayaan. Seseorang yang mewarisi banyak gen yang mempengaruhi tinggi badan, pengaruh masing-masingnya menjadi berlipat-lipat, menghasilkan tinggi badan menjulang. Dicontohkan Shawn Bradley, mantan pebasket NBA dengan tinggi lebih dari 2 meter, yang ternyata memang kebetulan mewarisi banyak gen ‘peninggi’. Karena tinggi menjulang, ia punya kelebihan dari rata-rata pemain lain yang memberinya kemudahan-kemudahan (privilege) tertentu dalam permainan basket (blocking bola, misalnya), dan membuatnya aset berharga bagi klubnya, sehingga bayaranannya besar.
Seperti inilah kira-kira yang dimaksud pengaruh genetik terhadap kesuksesan seseorang. Jalurnya panjang dan juga terkait sangat erat dengan lingkungan, asuhan, dan budaya (memiliki gen peninggi tidak banyak gunanya jika dia lahir di keluarga miskin bergizi buruk di negara yang tidak mementingkan olahraga basket, misalnya). Karena semuanya terjalin, perdebatan nature vs nurture menjadi sia-sia. Alih-alih dipertentangkan, bukankah lebih baik bersama-sama mencari solusi yang bisa memunculkan sisi positif keduanya?
Ini yang menjadi fokus bagian kedua, Taking Equality Seriously. Apa perbedaan prinsip Harden dan sesama ilmuwan genetik anti-eugenics pro-equality dengan eugenics dan ‘genome-blind’?
Eugenics beranggapan bahwa genetik itu deterministik dan tidak bisa diubah, dan mereka menggunakan data genetik untuk mengklasifikasi manusia ke dalam hierarki kelas yang rigid; ‘genome-blind’ menganggap perbedaan genetik itu tidak ada, semua bisa jika diberi kesempatan yang sama; anti-eugenics memanfaatkan data genetik untuk memaksimalkan kemampuan setiap orang (yang berbeda-beda secara alami) untuk mencapai potensi terbaiknya masing-masing.
Genetik tidak deterministik, maksudnya, kita bisa memanipulasi lingkungan untuk adaptasi sehingga pada akhirnya semua ada di level yang sama. Contohnya gen yang mengakibatkan gangguan penglihatan, bukankah bisa dibantu dengan menggunakan kacamata untuk mengoreksinya? Seperti ini pulalah seharusnya informasi data genetik digunakan dalam mengambil kebijakan sosial: yang kesulitan dibantu. Dan kesulitan-kesulitan itu memang berkaitan dengan pengaruh genetik, random dari sananya, di luar kontrol masing-masing.
Untuk mengetahui apa yang dibutuhkan untuk membantu komunitas yang berbeda, informasi genetik ini penting supaya penelitian yang membawa pada kebijakan yang diterapkan tidak salah sasaran. Banyak penelitian sosial dan psikologi yang mengabaikan informasi genetik sebagai variabel kontrol, sehingga menghasilkan kesimpulan yang meragukan, tapi overhyped sehingga mengeluarkan biaya besar untuk mendukungnya tapi tidak membawa perubahan (baca buku Science Fictions). Semakin banyak data akan membantu memperkuat dan mempertajam sebuah penelitian, sehingga menghasilkan kesimpulan dan kebijakan yang tepat guna.
Seperti yang saya tulis di refleksi bacaan 2022, tidak masuk akal mendiskriminasi berdasarkan sesuatu yang alami. Dan kesuksesan seseorang itu ya, memang sangat berkaitan dengan ‘luck’, random assignment by nature yang dimulai ketika sel telur dan sperma bertemu. Karena itulah, suatu masyarakat yang baik dan mencintai anggotanya, akan berusaha membantu ‘the most vulnerable’ dengan program-program sosial yang dibutuhkan masing-masing komunitas sehingga mereka dapat merasakan kemudahan yang sama dengan anggota masyarakat lain yang ‘least vulnerable’.
Begitulah seharusnya informasi genetika digunakan, untuk mengangkat, bukan merendahkan.