Apakah Agnostik itu? Kebanyakan orang mengira bahwa agnostik adalah suatu sikap acuh tak acuh, apatis, dan sok netral terhadap keributan antara beriman vs tidak beriman. Tapi di buku ini, Lesley Hazleton menjelaskan dengan jernih apa maknanya memilih sikap agnostik. Dan percaya atau tidak, justru itulah sikap yang dibutuhkan jika kita ingin beriman dengan sejati.
Ha? Agnostik tapi beriman? Seperti apa itu?
Agnostik: Sebuah Manifesto Penuh Gairah
Lesley Hazleton
Edisi bahasa Indonesia diterbitkan oleh Ircisod, 2023
200 halaman
Lesley Hazleton adalah sebuah nama besar yang malang melintang di bidang studi psikologi agama. Dengan latar belakang pendidikan psikologi serta menetap lama di Yerusalem sebagai jurnalis, Lesley mengatakan bahwa dirinya sudah terbiasa hidup dalam bayangan tradisi tiga agama besar: Yahudi, Katolik, dan Islam. Buku-bukunya selalu mengajak pembaca untuk berpikir kritis tentang agama, namun sekaligus juga ada kualitas misterius-ajaib yang kental dalam tiap tulisannya, cerminan dari perjalanan hidup Lesley yang unik. Membaca buku-bukunya, pasti tidak akan menyangka kalau Lesley sendiri menganggap dirinya agnostik. Dia sendiri sering bertanya-tanya jika diundang menjadi penceramah dalam forum agama. ‘Kok bisa mereka mengundang aku, seorang agnostik?’. Tentu saja, walaupun dirinya sendiri ragu mengenai kepakarannya, pengetahuan Lesley soal psikologi agama sangat mendalam sampai menyentuh kualitas mistikal. Dalam hal ini, dia bisa disamakan dengan penulis wanita lain yang punya kualitas sama: Karen Armstrong. Tapi, kenapa ya dua wanita hebat ini tidak memilih beragama secara jelas dan malah lebih suka menyebut diri agnostik?
Di bab pertama, Lesley menjelaskan bahwa sikap agnostik bukan berarti ‘tidak mau memilih’, melainkan ‘melampaui pilihan’. Baginya, harus memilih antara menganut satu agama atau jadi ateis, adalah sama-sama sikap hidup yang terlalu sempit. Kedua sikap tersebut menutup diri terhadap kemungkinan-kemungkinan, padahal alam semesta ini dipenuhi oleh kemungkinan tak terduga. Agnostik berarti merangkul petualangan, memelihara keterkejutan serta kekaguman, dan menjadi manusia seutuhnya di sini, sekarang ini, dengan penuh gairah kehidupan.
Pada bab dua, Lesley membahas konsep Tuhan. Menurutnya, konsep agama maupun non agama mengenai Tuhan, yang seringkali antropomorfis alias menggambarkan Tuhan seperti imaji manusia, terasa terlalu sempit. Mengapa harus memaksakan suatu ‘wadah’ untuk suatu hal yang misterius dan agung?
Sebagai muslim, saya tergetar membaca bab tiga, karena Lesley mencontohkan kondisi Nabi Muhammad sesaat setelah menerima wahyu, sebagai kondisi yang dia katakan ‘sebuah reaksi sangat manusiawi dari seseorang yang bersentuhan dengan keagungan ilahi: pada awalnya dia (Nabi) meragukan kewarasannya sendiri.’ Bagi Lesley, reaksi spontan Nabi justru merupakan bukti paling kuat bahwa dia benar-benar mendapatkan wahyu. Lesley sangat menyayangkan bahwa sebagian golongan konservatif berusaha menghapuskan riwayat bahwa Nabi sempat ragu, demi jargon bahwa Nabi adalah manusia sempurna yang tak mungkin salah dan ragu. Tanpa keraguan, iman sejati justru tidak bisa diraih. Yang ada adalah iman buta yang dipegang erat-erat, padahal rapuh. Gangguan sedikit saja membuat penggenggamnya marah. Agnostik merayakan keraguan sebagai sebuah petualangan untuk meraih kepastian yang lebih tinggi.
Bab-bab berikutnya bicara mengenai misteri pengalaman spiritual, bagaimana memaknai kehidupan, dan juga menghadapi kematian. Sangat menarik, tapi supaya review ini tidak terlalu panjang, saya fokus pada bab tujuh saja. Bab ini bicara mengenai Infinity. Cabang matematika infinity termasuk cabang matematika yang misterius, sama seperti fisika kuantum. Di sini, apapun yang ilmuwan anggap tahu tentang alam semesta, dijungkir balikkan. Seperti kata Lesley ‘angka-angka seperti memiliki kehidupannya sendiri, cerminan dari suatu realitas yang tidak kita ketahui selama ini.’ Lesley menganggap bahwa bahasa agama untuk membahas Tuhan sebenarnya sangat tidak memadai. Bahasa matematika justru dapat lebih memberi gambaran pada kita mengenai ketakhinggaan yang kita temukan di alam semesta ini. Tentunya, konsep Tuhan seharusnya jauh lebih tinggi dari itu. Tak heran, belakangan ini, bahasa para ilmuwan malah lebih spiritual daripada bahasa pemuka agama yang serba kaku dan dogmatis. Ilmuwan makin dekat pada ‘yang tak terbatas’, sedangkan pemuka agama sibuk dengan keributan politik dan sosial.
Akhir kata, buku ini sangat saya rekomendasikan bagi mereka yang ingin beriman lebih dalam. Karena menurut saya, apa yang diceritakan di buku ini justru adalah inti dari keimanan: bagaimana merayakan kehidupan, mengatasi segala tantangan, berbagi manfaat bagi semua orang, dan menghadapi kematian tanpa penyesalan karena telah hidup sehidup-hidupnya. Kok bisa agnostik adalah resep keimanan? Ah, kalau sudah baca buku ini, label-label agama, ateis, agnostik, itu semua ga ada artinya. Kita semua manusia, semua berjalan di jalan kita masing-masing. Salam petualangan 😊