Komunikasi sains penting untuk mencerdaskan masyarakat. Tinggal lihat sekeliling untuk setuju: kelompok-kelompok yang menganut paham anti sains, bahkan untuk hal-hal yang sudah dibuktikan ratusan tahun lalu seperti bentuk planet bumi.
Atau yang sedang jadi berita sekarang, betapa mudahnya kenaifan publik tentang crypto dimanfaatkan para influencer. Sedih nggak sih?
Apalagi saat ini planet kita sedang dalam krisis: perubahan iklim mengancam seluruh isi bumi. Tapi publik yang awam tidak paham apa yang terjadi -scientifically- sehingga mudah dimanipulasi oleh yang berkepentingan, menjadi climate change denier. Lebih parah lagi ketika yang antisains ini adalah para pengambil kebijakan. Hancurlah bumi kita.
Menurut buku ini, sebagai bagian dari demokrasi, ilmuwan perlu aktif mengomunikasikan ilmunya, menjadi ‘cahaya yang menerangi jalan’ publik agar tidak terjerumus sudut pandang yang salah dan membahayakan diri sendiri serta orang lain.
Am I Making Myself Clear? A Scientist’s Guide to Talking to the Public
Cornelia Dean
Harvard Univ.Press (2009)
288 hal
Cornelia Dean adalah jurnalis yang pernah bekerja sebagai science editor di New York Times. Ia juga mengajar komunikasi sains di kampus-kampus Ivy League, karenanya ia tahu persis masalah-masalah komunikasi yang terjadi antara ilmuwan, media, dan publik.
Salah satu yang bikin ilmuwan malas bicara ke media, adalah kecenderungan media untuk ‘overhype’ hal sekunder, bukannya menyoroti hal penting dari kerja ilmiahnya. Menurut Dean, karena itu ilmuwan juga perlu menyampaikan kerjanya dengan bahasa yang relatif mudah dimengerti oleh jurnalis. Tunjukkan mana yang penting disoroti, supaya jurnalisnya juga tahu.
Buku ini penuh dengan panduan penting yang praktis bagi ilmuwan untuk mengomunikasikan ilmunya. Sebagian sudah usang sih, karena ini buku lama. Jadi bab-bab seperti menulis di koran, wawancara radio dan TV agak kurang relevan sekarang di era medsos di mana ilmuwan bisa berinteraksi langsung dengan dengan publik. Tapi prinsip-prinsipnya tetap sama, misalnya:
– jauhi istilah2 rumit, jargon-jargon ilmiah (apalagi cuma supaya terlihat pintar, ya nggak?). Tidak berarti harus ‘dumbing down’, melainkan ‘pakailah bahasa yang berbeda, bukan bahasa akademik’. Ingat, tujuannya untuk mencerahkan, bukan bikin bingung.
– jangan menjelaskan secara bertele-tele.
– latih kemampuan komunikasi publik dengan cara berlatih menerangkan ilmu tsb kepada keluarga, teman, tetangga.
– baca/lihat cara ilmuwan lain mengomunikasikan ilmunya. Belajar dari mereka.
dll
Selain tips komunikasi lewat koran, radio, TV, buku, Dean memberi beberapa contoh lain yang juga bisa dicoba:
– forum dialog ilmuwan dan pengambil kebijakan
– mengadakan obrol-obrol santai ilmiah di suatu tempat ala Cafe Scientifique atau science cafe, kegiatan yang dimulai di Inggris (bisa dicek di sini http://cafescientifique.org/ )
– mengadakan kuliah umum gratis
dll
“I hope (this book) will convince researchers that communicating their work and the work of others to the lay public is important for society, and a valuable use of their time”
***
Catatan pribadi : dengan adanya medsos, komunikasi sains sekarang jauh lebih mudah, kalau ilmuwannya mau. Masalahnya adalah konten ilmiah dan berkualitas sulit bersaing dengan konten entertainment dan konten ‘sampah’ yang jauh lebih banyak.
Solusinya perlu dipikirkan bersama. Mungkin konten ilmiah juga perlu influencer.