Cart

Your Cart Is Empty

Being Mortal : Medicine and What Matters In the End

Being Mortal : Medicine and What Matters In the End

image

Author

Ani

Published

Januari 20, 2024

Being Mortal : Medicine and What Matters In the End

Atul Gawande
Picador (2014)
263 hal

Atul Gawande adalah seorang dokter spesialis bedah umum dan endokrin di Boston, dosen di Harvard, penulis dan peneliti bidang kesehatan masyarakat.

Sebagai dokter spesialis bedah, ia tidak banyak memikirkan soal pasien unit pelayanan lain, sampai suatu hari ia berjalan-jalan ke lantai geriatri (layanan kesehatan lansia), satu lantai di bawah lantai bedah di rumah sakit tempat ia bekerja. Ia ikut mengamati seorang dokter spesialis geriatri melayani pasiennya yang berumur 85 tahun. Ternyata fokus pengamatannya sebagai dokter bedah berbeda dengan pengamatan seorang spesialis geriatri, sehingga ia menyadari bahwa mungkin dalam soal melayani lansia dan orang-orang yang sedang mendekati ajal, dunia kedokteran harus memakai ‘kacamata’ berbeda.

Buku ini berusaha menganalisa peran kedokteran modern dalam perawatan pasien di akhir hidupnya (end of life care), baik itu pasien lansia maupun pasien dengan penyakit parah (terminally ill).

Dalam buku ini Gawande membandingkan beberapa jenis fasilitas perawatan lansia:
1. Nursing home (panti jompo) yang ‘standar’, yang menurutnya tidak jauh berbeda dengan rumah sakit. Para lansia terkungkung di tempat tidur, harus berbagi kamar dengan penghuni lain, harus mengikuti jadwal tertentu untuk mandi, makan, berkegiatan bersama dsb. Berdasarkan pengamatannya, lansia penghuni nursing home tipe ini rata-rata murung dan tidak bahagia.
2. Nursing home ‘alternatif’. Ia mengamati sebuah nursing home yang direkturnya berinisiatif memberi sentuhan berbeda, dengan cara ‘menyuntikkan kehidupan’. Suasana nursing home yang murung dan membosankan ‘dihidupkan’ dengan menambahkan tanaman hijau di setiap kamar, anjing dan kucing peliharaan bersama, dan burung-burung yang kicauannya akan terdengar setiap pagi.
Hasilnya, penghuni panti lebih bergairah menjalani hari-harinya karena ada ‘sesuatu’ yang membutuhkan mereka (menyiram tanaman, memberi makan anjing/kucing). Angka kematian di sana menurun.
3. Assited living facility, berupa sebuah komplek perumahan/apartemen di mana lansia bisa hidup mandiri, mereka punya kontrol penuh atas tempat tinggal dan ritme hidup masing-masing (tidak perlu mengikuti jadwal tertentu) namun terhubung dengan fasilitas yang bisa membantu mereka sewaktu-waktu.

Dalam proses penuaan, tubuh manusia mengalami degradasi yang memunculkan penyakit-penyakit tertentu. Namun menurut Gawande, seringkali dunia kedokteran memfokuskan pada ‘memperbaiki’ penyakitnya, padahal menurutnya haruslah juga dipikirkan apakah setelah ‘koreksi’ tersebut kondisi pasien menjadi lebih baik, atau malah memperpanjang penderitaan di sisa hidupnya yang tidak lama itu. Ia memberi contoh seorang pasien kanker lansia yang umurnya diprediksi tidak lama lagi, setelah melalui operasi pengangkatan tumor, malah mengalami gagal organ-organ lainnya dan meninggal di rumah sakit tanpa sempat sadar untuk ‘menikmati’ akhir hidup dikelilingi orang-orang tercintanya.

“Kita terlalu menghindari pembicaraan tentang kematian,” kata Gawande. Padahal hal itu sangat penting, meskipun tidak mengenakkan. Kadang dokter memberi harapan terlalu besar dan tidak benar-benar jujur tentang kondisi pasien yang sebenarnya, bahkan menghindari topik tersebut.

Dalam melakukan konsultasi, alih-alih berlaku paternalistik (merasa lebih tahu) atau sebaliknya, (memberi kebebasan pada pasien untuk memilih sendiri perawatannya), dokter perlu memposisikan diri sebagai pakar yang akan menjelaskan pilihan DAN membimbing pasiennya untuk memilihkan perawatan yang tepat, sesuai dengan prioritas masing-masing pasien (yang bisa jadi berbeda).
Dokter perlu bertanya: “If time becomes short, what is most important to you?”

Pasien lansia dan terminally ill perlu diajak diskusi secara mendalam, apa yang benar-benar diinginkan oleh mereka di akhir hidupnya: tindakan medis yang mungkin hanya memperpanjang usia secara jangka pendek saja, tapi mengakibatkan akhir hayat yang menyiksa (rasa sakit karena luka operasi, kemoterapi dll), atau hospice/perawatan paliatif yang tujuannya bukan ‘mengoreksi’ melainkan memberi kenyamanan bagi pasien di akhir hidupnya.
Sebuah penelitian tahun 2010 membuktikan bahwa pasien kanker tahap lanjut yang mendapat tambahan perawatan paliatif bersamaan dengan perawatan medis (kemoterapi dll), lebih cepat lepas dari kemoterapi, dan di akhir hidupnya tidak semenderita mereka yang hanya menjalani perawatan medis.

Gawande juga membahas topik end-of-life care dari sudut pandang pengalaman pribadi, melalui kisah-kisah keluarganya sendiri: kakeknya di India, yang hidup sampai 100 tahun lebih dan menjalani keseharian bersama keluarga sampai akhir hayatnya; nenek mertuanya yang hidup mandiri sampai suatu saat mulai mengalami kecelakaan-kecelakaan kecil dan terpaksa masuk nursing home; ayahnya yang didiagnosa tumor yang tumbuh mencengkeram sumsum tulang belakangnya, dan bagaimana ayahnya (yang juga dokter bedah) memilih untuk menjalani akhir hidupnya menjalankan kegiatan yang ia senangi bersama keluarga sambil memonitor kankernya, alih-alih mengambil langkah operasi yang hampir pasti akan membuatnya lumpuh.

Buku ini mengajak untuk ‘berdamai’ dengan akhir hidup, dan membuka wawasan tentang perawatan lansia dan para pasien yang peluang sembuhnya kecil, bagaimana supaya mereka nyaman menjalani akhir hidup dengan tenang dan bahagia meskipun lemah fisik dan/atau fikir.

Join Us

Book

O Latte

Follow IG untuk membaca review kami

Join Us on Spotify

Our Location

My Place

The place I like the most

Get Direction