Cart

Your Cart Is Empty

Don’t Be Such A Scientist: Talking Substance In An Age of Style

Don’t Be Such A Scientist: Talking Substance In An Age of Style

image

Author

Ani

Published

Februari 13, 2024

Benar nggak sih kalau terlalu lama berkecimpung di dunia akademik, ilmuwan jadi ‘out of touch’ cara berkomunikasi ke publik? Bahasa yang dipakai jadi mengawang-awang, penuh istilah yang tidak dimengerti oleh kebanyakan orang?

Paling tidak, begitulah menurut Randy Olson, seorang ilmuwan, doktor dan periset biologi kelautan yang banting setir menjadi filmmaker di Hollywood.

Don’t Be Such A Scientist: Talking Substance In An Age of Style

Randy Olson
Island Press (2009)
206 hal

Pertama kali saya membaca buku Randy Olson adalah bukunya yang berjudul Houston, We Have A Narrative: Why Science Needs Story (2015) (*), yang berisi tips penerapan storytelling dalam komunikasi ilmu ke publik. Saya sangat tertarik akan topik komunikasi sains, jadi saya pikir buku yang ditulis orang yang berpengalaman di kedua bidang ini (akademik dan komunikasi) tentu saja berisi banyak insight. Dan memang benar, buku itu berisi strategi mengemas cara menyajikan ilmu agar orang lain tertarik, mau mendengarkan, sehingga akan mengerti pentingnya.

Begitu tahu kalau ada buku lain yang ditulis Olson, saya pikir “Wah ada lagi buku tentang komunikasi sains dari Randy Olson, mungkin banyak tips bagus lagi.” Well, ternyata buku ini tidak sesuai harapan.

Mending saya bahas dulu isinya, habis itu saya kritik hehehe.

Olson menulis buku ini terinspirasi dari pengalamannya yang unik: puluhan tahun sebagai periset dan profesor bidang biologi laut yang bergelut di berbagai kegiatan akademik (mengajar di kelas, presentasi, seminar, mencari sponsor untuk kegiatan akademik dll) kemudian banting setir ke Hollywood untuk belajar membuat film. Topik film-filmnya sendiri adalah tentang sains, tapi di Hollywood ia belajar teknik-teknik komunikasi massa supaya suatu produk (film) menarik untuk konsumsi publik.

Ketika Olson kembali menghadiri suatu acara akademik di almamaternya setelah belasan tahun di Hollywood, dia jadi melihat bahwa bagaimana cara para akademisi ini menyampaikan ilmunya sangatlah membosankan! “Cuma memperlihatkan slide-slide data, lalu menerangkannya dengan monoton, yang kadang meleber ke mana-mana nggak jelas apa yang diomongin sampai waktunya keburu habis dan nggak ada kesimpulan,” omelnya.
“Don’t be such a scientist!”

Buku ini terbagi 5 bab yaitu:

1. Don’t Be So Cerebral,
membahas strategi komunikasi yang tujuannya tidak cuma untuk menarik untuk ‘kepala’ (ilmiah, akademik) tapi juga untuk ‘hati’ (emotional appeal), ‘insting’ (exciting, menantang, bikin penasaran), atau bahkan ‘sex appeal’. Yang terakhir ini dia mencontohkan salah satu filmnya yang membahas makhluk laut tapi yang diangkat adalah seputar mating processnya.

2. Don’t Be So Literal Minded
membahas bagaimana menurut Olson rata-rata akademisi tidak kreatif, pemikirannya terlalu literal, to the point tanpa mempertimbangkan apakah pemirsanya tertarik atau tidak. Di sini dibahas strategi bagaimana menangkap perhatian dulu, sebelum masuk ke isi topik yang ingin disampaikan. Ini penting misalnya dalam usaha mencari sponsor atau pemberi dana, bagaimana cara menarik mereka supaya setuju bahwa riset A perlu dilakukan dan karenanya perlu mereka danai.

3. Don’t Be Such a Poor Storyteller
membahas cara menyampaikan topik ilmiah lewat narasi yang terstruktur, yang jelas alurnya, mana awal, isi, dan akhir. Ini dibahas lebih mendalam di buku Houston, We Have A Narrative: Why Science Needs Story.

4. Don’t Be So Unlikable
membahas sikap-sikap ilmuwan yang membuat orang tidak mau mendengarkan apa yang disampaikan, bahkan meskipun mereka tahu itu hal penting. Misalnya disampaikan dengan cara meremehkan dan merendahkan, dengan cara marah-marah, atau arogansi akademisi yang menganggap masyarakat tidak akan mampu memahami apa yang mereka sampaikan dll.

5. Be the Voice of Science!
di sini Olson mengajak para ilmuwan untuk lebih aktif dan efektif mengomunikasikan ilmunya ke masyarakat, dengan mencontoh para komunikator sains seperti Carl Sagan, Stephen Jay Gould, Richard Feynman, Neil deGrasse Tyson, dll.

Beberapa tips yang bagus di buku ini yaitu:
1. Tips komunikasi massa dari seorang profesor komunikasi: “When it comes to communication, it’s as simple as two things: arouse and fulfill. You need to first arouse your audience and get them interested in what you have to say; then you need to fulfill their expectation.”
Buat pemirsa tertarik dulu, kemudian sampaikan substansinya.
2. Jaman sekarang, ketika attention span semakin pendek dan pilihan semakin banyak, persaingannya sangat ketat untuk menarik dan mempertahankan perhatian pemirsa. “In this ‘attention economy’, your message means nothing if it isn’t noticed.”. Ilmuwan perlu aktif berusaha ‘put the message out there’.

====

Pada intinya, saya sangat setuju dengan apa yang disampaikan oleh Olson di buku ini: ilmuwan perlu mengomunikasikan ilmunya dengan lebih baik kepada masyarakat, karena ini untuk kebaikan bersama.

Tapi cara penyampaian buku ini nggak bagus. Saya tidak tahu Olson sadar atau tidak, tapi he’s so full of himself in this book, dan dia sendiri tidak menerapkan apa yang disarankannya di buku ini: don’t be so unlikable!

Ia mengeritik bahasa merendahkan yang sering dipakai oleh science bloggers. Katanya kalau orang udah keburu kesel dibilang bodoh, mereka nggak akan mau mendengarkan lebih lanjut. Tapi bahasa yang dipakai di buku ini juga menurut saya cenderung kasar.
Ia mengritik para ilmuwan dan akademisi yang menurutnya suka merendahkan masyarakat umum non-akademisi, menganggap diri mereka lebih tahu dan ‘kalian nggak akan ngerti’. Tapi Olson juga di buku ini menganggap caranya lebih benar dan semacam ‘you should do like I do’.
Buku ini juga bolak-balik mengangkat film-filmnya sendiri, terutama film Flock of Dodos: The Evolution-Intelligent Design Circus, sebuah film dokumenter yang mengeksplorasi kontroversi pengajaran evolusi vs intelligent design di Kansas. Self-promotion gone too far? Tapi ya mungkin juga ini strateginya menarik perhatian, who knows.

Selain itu, meskipun buku ini jelas ditujukan untuk meyakinkan para ilmuwan dan akademisi, tapi sumber argumen-argumen Olson cuma dari pengalamannya sendiri. Nggak bisa dong menyamaratakan karakter orang. Olson mungkin memang cenderung ekstrovert, jadi tips-tips yang dia sarankan di buku ini relatif cocok diterapkan olehnya. Tapi tidak semua oke dengan cara yang sama. Untuk orang dengan karakter lain, perlu cara lain (baca buku Pattern Seekers(**) tentang neurodiversity. Because literal mindedness for some people really IS genetic, nggak bisa cuma dibilang ‘don’t BE like that’).

Saya menduga hal-hal ini muncul karena ini buku pertamanya. Bukunya “Houston, We Have A Narrative” jauh lebih bagus dari segi struktur, isi, dan bahasanya. Mungkin Olson juga menyadari kekurangannya di buku pertama dan memperbaikinya.

Kalau menurut saya, ilmuwan tentu harus tahu dan belajar bagaimana cara mengomunikasikan ilmunya dengan lebih efektif. Tapi tidak semua harus dilakukan sendiri, karena setiap orang punya bakat dan kecenderungan berbeda-beda. Kerja cerdaslah dengan berkolaborasi antar bidang keahlian. Ingin membuat buku ilmiah populer tapi nggak pintar nulis? Kolaborasi dengan penulis. Ingin bikin channel Youtube ilmiah tapi bingung kemasannya? Kolaborasi dengan pekerja kreatif.

Perlu kreatif mencari solusi untuk kekurangan-kekurangan yang dimiliki. Demi mencerdaskan masyarakat, bukan?

Saya jadi ingat apa yang dibahas Dyo (Dyotami Febriani, komikus & ilustrator) di IG Live Book-o-Latte tentang komik ilmiah bulan lalu. Dyo cerita waktu WWF (World Wide Fund for Nature) memintanya bikin promotional product untuk edukasi masyarakat tentang perubahan iklim. Alih-alih sekadar pamflet dan brosur yang berpotensi langsung dibuang sama penerimanya, Dyo menyarankan membuat komik dengan tokoh karakter Panda logo WWF, dengan cerita tentang perubahan iklim. Hasilnya adalah sebuah komik edukatif dengan kemasan menarik, yang nggak akan langsung dibuang sama penerimanya, malah lebih mungkin disimpan dan dikoleksi. Beginilah hasilnya kalau literal mind mendapat masukan dari creative mind. Good collaboration, and definitely good advice, Dyo!

Ayo para ilmuwan, berkolaborasi menyebarkan ilmu. Be the voice of science, the world needs it.

(*) Houston We Have A Narrative
https://www.facebook.com/bookolatte/posts/pfbid0fPFhK3cmwJq3xNvG4yyp9Z1DttLsRS5iEDqsivPVLpi7nA9kj9jkXYZjJu61XbKl

(**) Pattern Seekers
https://www.facebook.com/bookolatte/posts/pfbid029wucZpypAnrJJSeHfwGRA8ppZ4sBHx92ncu1qTrRvYTfvTjrLrRYspr4PNpW9W9Ll

Join Us

Book

O Latte

Follow IG untuk membaca review kami

Join Us on Spotify

Our Location

My Place

The place I like the most

Get Direction