Cart

Your Cart Is Empty

Don’t Knock The Hustle: Young Creatives, Tech Ingenuity, and The Making of A New Innovation Economy

Don’t Knock The Hustle: Young Creatives, Tech Ingenuity, and The Making of A New Innovation Economy

image

Author

Ani

Published

Februari 13, 2024

Tema inovasi dan proses kreatif out of the box selalu menarik buat saya, dan buku ini menyoroti hal-hal tersebut, dijalin dengan fenomena dan persoalan sosial ekonomi di Amerika Serikat.

Don’t Knock The Hustle: Young Creatives, Tech Ingenuity, and The Making of A New Innovation Economy

S.Craig Watkins
Beacon Press (2019)
238 hal

S.Craig Watkins adalah profesor bidang media dan jurnalisme di Austin, Texas, dengan fokus studi perilaku anak muda dalam berinteraksi dengan teknologi dan media digital.

Menurut Watkins, buku ini berawal dari studi yang ia lakukan bersama mahasiswa-mahasiswa pascasarjananya, mengekplorasi isu-isu yang berkaitan dengan anak-anak muda milenial menghadapi jaman yang penuh perubahan norma sosial dan teknologi yang berlangsung secara cepat.

Watkins dan timnya juga lebih fokus membahas kelompok sosial yang relatif lebih terpinggirkan, misalnya non kulit putih, perempuan, dan ekonomi menengah ke bawah. Karena berinovasi dan berkreasi jauh lebih mudah ketika kita punya banyak privilese yang memudahkan, tentu akan lebih menarik mempelajari apa yang terjadi dalam proses tersebut ketika kita dibatasi oleh berbagai situasi dan keadaan.

Buku ini dibuka dengan cerita kesuksesan mengejutkan Alexandria Ocasio-Cortez (AOC), yang pada usia 29 memenangkan pemilu di distrik 14 New York, mengalahkan petahana yang sudah menjabat selama 20 tahun dan didukung kuat oleh partai Demokrat (plus dana berlimpah). Apa yang memungkinkannya terjadi? Ternyata selain memang adanya perubahan sosial dan demografi, AOC menjalankan kampanye dengan cara-cara ‘baru’. Meskipun dana terbatas, tidak didukung partai, AOC dan timnya memanfaatkan sebaik-baiknya jaringan sosial dan media serta teknologi terkini, didukung tenaga sukarelawan yang terampil dalam bidang media dan komunikasi. Mungkin seperti ketika Obama mengalahkan Hillary Clinton lalu John McCain.

(Buat yang tidak tinggal di AS, fyi, AOC adalah politikus berkualitas dan berdedikasi untuk kepentingan rakyat yang diwakilinya).

Banyak contoh lain yang diberikan dalam buku ini tentang mereka yang berhasil mengatasi berbagai keterbatasan situasi sosial dan ekonomi, dengan bantuan teknologi:
– Issa Rae, aktris kulit hitam yang memulai kesuksesannya dengan membuat serial web “Awkward Black Girl” di YouTube.
– bermunculannya co-working space yang sangat bermanfaat bagi anak-anak muda yang penuh semangat dan ide kreatif namun kesulitan dana untuk menyewa tempat kerja khusus. Tempat-tempat seperti ini kemudian menjadi semacam ‘innovation labs’ di mana anak-anak muda saling berinteraksi, bertukar ide, dan belajar antar mereka.
– pemanfaatan crowdfunding untuk mendanai proyek-proyek yang tidak dilirik investor besar.
– jenis-jenis teknologi baru (seperti movie streaming platforms) yang memungkinkan publikasi film tema-tema tertentu yang ‘kurang menjual’ di Hollywood. Dicontohkan serial “Dear White People” dari Justin Simien dan bagaimana ia mengembangkannya dari ide (berdasarkan pengalaman pribadi sebagai minoritas kulit hitam di kampus mayoritas kulit putih), crowdfunding, crowdsourcing di Twitter, sampai produksi dan publikasi.
– software open source yang memungkinkan anak-anak muda berkreasi di berbagai bidang tanpa perlu banyak dana.
– pemanfaatan media sosial untuk memperjuangkan isu-isu keadilan sosial.

Saya ingin membahas lebih khusus tentang bab 7 “STEM Girls”, bab 8 “Code for Change”, dan bab 9 “Hacking While Black” yang membahas krisis keragaman di bidang tech & engineering, baik keragaman ras maupun gender. Menurut Watkins ada beberapa hal penyebabnya:
1. Bias sosial kultural dalam proses rekrutmen perusahaan bidang tech
2. Proses rekrutmen (talent search) seringkali dilakukan di kampus-kampus yang memang kurang beragam isinya. Solusinya, coba adakan talent search di kampus-kampus yang isinya black/latino/other minorities, pasti bakal dapet banyak talents dengan latar belakang lebih beragam.
3. Sistem pendidikan dan budayanya sendiri yang membuat minimnya partisipasi perempuan dan minoritas lain di bidang STEM. Tepatnya kurang dukungan terhadap mereka untuk memilih STEM sebagai bidang studi dan karir.
Bahkan ketika pun mereka ini terjun ke bidang STEM di sekolah, mereka merasa sendirian. (Hmm jadi inget jumlah mahasiswi di jurusan-jurusan seperti Mesin, Elektro, Informatika, Sipil, Geologi, & Pertambangan di ITB. Sambil nulis ini teringat teman SMA/kuliah yang sekarang pakar teknologi penerbangan kelas dunia. She’s amazing).

Jadi intinya bukan karena perempuan nggak mampu, tapi seringkali kurang didukung dan diberi kesempatan di keluarga, masyarakat secara umum, budaya, tradisi, dan industrinya sendiri.

Tentu saja banyak perempuan yang punya bakat dan minat di bidang STEM (kalau ingat obrolan ttg buku Pattern Seekers, mereka adalah orang-orang yang fisik luarnya perempuan tapi otaknya strong/very strong systemizer). Dukunglah mereka dan beri kesempatan, sehingga mereka juga dapat berkontribusi aktif di dunia sains dan teknologi.

Keragaman ras dan gender di dunia saintek akan memberi manfaat besar bagi semua, karena akan ada sudut pandang – sudut pandang baru yang sebelumnya tidak terpikirkan.

Pesan dari buku ini adalah, meskipun benar jaman sekarang banyak kesulitan dan perubahan yang terjadi sangat cepat, tetapi kemajuan teknologi membuka berbagai peluang baru yang tidak pernah ada sebelumnya. Jadikan ini kesempatan bereksplorasi dan mencari solusi kreatif untuk mencapai tujuan.
Bukankah manusia maju karena kreatif beradaptasi?

Join Us

Book

O Latte

Follow IG untuk membaca review kami

Join Us on Spotify

Our Location

My Place

The place I like the most

Get Direction