Cart

Your Cart Is Empty

Ex Libris: 100+ Books to Read and Reread

Ex Libris: 100+ Books to Read and Reread

image

Author

Ani

Published

Februari 13, 2024

Beberapa minggu yang lalu saya terpikir “Ada nggak sih buku yang isinya review buku? Terus copyrightnya gimana?”. Ternyata banyak ya, masuknya ke genre literary criticism. Soal copyrightnya saya masih harus cari tahu, tapi kalau sampai ada genre tersendiri seperti ini, tentunya soal copyright juga sudah diurus oleh penerbit.

Setelah browsing katalog NYPL, saya memutuskan pinjam buku ini

Ex Libris: 100+ Books to Read and Reread

Michiko Kakutani

Clarkson Potter (2020)

306 hal

Michiko Kakutani adalah penulis dan kritikus sastra, pemenang Pulitzer Prize for Criticism, dan penulis review buku untuk New York Times selama puluhan tahun. Konon ia terkenal dengan kritiknya yang pedas.

Seperti judulnya, buku ini mengulas lebih dari 100 buku yang disusun sesuai abjad nama belakang penulisnya, mulai dari Americanah dari Chimamanda Ngozi Adichie hingga The World of Yesterday dari Stefan Zweig, masing-masing sepanjang 2-3 halaman.

Genrenya macam-macam, fiksi dan nonfiksi, memoar, biografi, analisis politik, filsafat, kumpulan puisi, kumpulan cerpen, surat-surat korespondensi, sosiologi, hubungan internasional, teknologi, fantasi, sci-fi, bahkan buku anak dan remaja seperti buku-buku Dr.Seuss dan Maurice Sendak serta seri Harry Potter.

Banyak dari buku-buku ini yang dipilih Kakutani karena paralel dengan situasi dunia yang semakin terpolarisasi, demokrasi yang semakin terancam oleh pemimpin-pemimpin otoriter. Berkali-kali ia mengangkat kondisi ekstrim politik Amerika di bawah pemerintahan Trump, bagaimana retorika kebencian dan ‘fake news’ dikoar-koarkan olehnya, serupa dengan kondisi yang dibahas di buku-buku seperti 1984, The Origins of Totalitarianism, The Paranoid Style in American Politics, dll.

Salah satu yang paling menarik di buku ini adalah review buku-buku Dr.Seuss, yang menurut Kakutani adalah buku yang dipakainya belajar membaca sewaktu kecil, dan membuatnya jatuh cinta pada buku. Mengapa menarik? Karena reviewnya ditulis dengan gaya tulisan Dr. Seuss!

 

What was the name of your first

book?

The book that taught you how to

read,

And made you love words on a page,

The book that made reading a need.

 

For me, it was Seuss–Dr.,that is.

 

Habis selesai bacanya saya mikir “Bu Kakutani ini wawasannya luas banget, karena buku yang dia baca juga dari berbagai macam genre, dan dia membacanya secara kritis.

Seperti yang ditulisnya di pengantar, “Buku adalah mesin waktu yang bisa membawa kita ke masa lalu dan belajar dari sejarah dan kebijaksanaan generasi sebelumnya. Mereka mengajari kita berbagai ilmu, memperkenalkan berbagai ide dan kepercayaan yang berbeda dari kita. Buku membuat kita mengapresiasi pemikiran-pemikiran baru yang penuh warna dan konteks, dan mengajari kita untuk berempati.”

Buku Ex Libris ditulis setelah Kakutani pensiun dari New York Times, dan menurutnya di buku ini ia menulis lebih sebagai pecinta buku alih-alih sebagai kritikus.

“Saya tidak sedang berusaha menganalisa mereka; saya mencoba mengajak Anda sekalian membaca dan membaca lagi buku-buku ini, karena mereka selayaknya mendapat perhatian seluas-luasnya. Karena mereka menyentuh, atau pas momennya dengan apa yang sedang terjadi sekarang, atau ditulis dengan indah. Karena mereka mengajarkan kita tentang dunia dan emosi manusia. Atau sekadar mengingatkan kita mengapa kita jatuh cinta pada kegiatan membaca.”

Join Us

Book

O Latte

Follow IG untuk membaca review kami

Join Us on Spotify

Our Location

My Place

The place I like the most

Get Direction