Cart

Your Cart Is Empty

Galileo and the Science Deniers

Galileo and the Science Deniers

image

Author

Ani

Published

September 24, 2024

Kisah Galileo seringkali dijadikan sebagai contoh kasus ‘sains vs agama’, dan bagi orang-orang tertentu, menjadi bahan untuk membodoh-bodohkan agama. Mario Livio, seorang astrofisikawan yang banyak menulis tentang sejarah sains dan matematika, mencoba menggalinya lebih dalam dari berbagai catatan sejarah untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi antara Galileo dan Gereja Katolik pada masa itu, dan pelajaran apa yang dapat dipetik bagi kita di masa kini.

(hint: ceritanya nggak sesimple sains vs agama lho, baca deh bukunya, jangan cuma berhenti di wikipedia atau meme ya)

Galileo and the Science Deniers

Mario Livio
Simon & Schuster (2020)
286 hal

Buat apa menulis biografi Galileo yang sudah banyak ditulis dan dianalisa oleh penulis lainnya? Menurut Mario Livio, ada 3 alasan utamanya: pertama, karena hanya sedikit biografi Galileo yang ditulis oleh astrofisikawan, dan menurutnya sudut pandang seseorang yang paham ilmu astronomi dan astrofisika masa kini akan menambah wawasan baru dalam penyampaian kisah Galileo. Kedua, ia ingin mengikuti jejak Galileo sebagai ‘penulis ilmiah populer’ pada jamannya. Ya, Galileo adalah komunikator sains juga, dengan menuliskan penemuan-penemuannya dalam bahasa Italia yang populer untuk awam, alih-alih dalam bahasa Latin untuk para akademik. Jadi dalam buku ini Livio mencoba menuliskan biografi Galileo dalam bahasa yang mudah dipahami, tidak terlalu teknis, detil, ataupun berbelit-belit bahasanya. Ketiga, dan ini menurutnya adalah alasan paling penting, karena menurutnya jika kita menelaah konteksnya, kisah Galileo sangatlah relevan dengan kondisi masa kini, dan banyak hikmah yang dapat diambil darinya, baik itu tentang sikap anti-sains dari penguasa, jurang yang semakin jauh antara sains dan humaniora, keributan tak perlu antara sains dan agama, serta pentingnya kebebasan berpikir.

Yang pertama-tama dibahas dan ditekankan oleh Livio, adalah konteks. Apa yang terjadi pada Galileo, tidak bisa dilepaskan dari konteks di mana dan kapan dia hidup, arus pemikiran seperti apa yang ada di Eropa masa itu, kondisi seperti apa yang melahirkan tarik-tarikan antara dogma dan pemberontakan kebebasan berpikir, perkembangan ilmu pengetahuan seperti apa yang mencuatkan Galileo ke panggung akademik, dll dsb. Intinya, jangan sembarang dicabut dari konteksnya. “All of Galileo’s impressive insights could not have happened in a vacuum,” tulisnya.

Hingga Abad Pertengahan, kaum intelektual Eropa berpegang pada filsafat alam Aristoteles yang menganggap unsur-unsur alam terbagi dalam hierarki tertentu. Pihak gereja mengadopsinya karena cocok dengan dogma agama yang dipahami pada masa itu di mana Bumi dan manusia menjadi pusat alam semesta, sementara langit adalah daerah kekuasaan Tuhan yang kekal dan tidak berubah. Di masa Renaissance, mindset itu mulai berubah. Dengan mempelajari teks-teks klasik dalam bentuk originalnya dan kemudian ditafsirkan ulang, bermunculanlah pemikiran-pemikiran dan karya-karya baru baik di filsafat, sastra, seni, dan ilmu alam. Pada masa ini, ilmu alam atau sains dipelajari melalui observasi dan eksperimen tidak hanya teori, seperti Copernicus yang mencatat data pergerakan planet-planet untuk memformulasikan teori heliosentrisnya, dan ilmu anatomi Andreas Vesalius yang menggantikan teori anatomi Galen. Mindset kebebasan berpikir, menolak otoritas terpusat, dan terbukanya cakrawala pengetahuan dan dunia baru (melalui berbagai ekspedisi maritim dll), menjadi ciri-ciri masa Renaissance.

Galileo, dalam banyak hal adalah ‘produk’ periode Renaissance akhir: seorang humanis yang mencoba mengenalkan ide-ide sains baru melalui metoda pengamatan dan percobaan, alih-alih ‘mengikuti pemikiran ahli terdahulu’ seperti sebelumnya. Dalam konteks inilah konflik Galileo dan Gereja perlu dipandang: bukan sebagai konflik ‘sains vs agama’, melainkan antara ‘keterbukaan yang fleksibel vs dogmatik yang rigid’. Mengapa? Meskipun kisah Galileo secara garis besar semua sudah tahu, namun ada beberapa fakta penting yang baru saya tahu dari buku ini:
1. Ketika Galileo menerbitkan penemuannya, yang menolaknya bukan hanya agamawan, melainkan juga para filsuf akademikus yang berpegang kuat pada doktrin Aristotelian. Di buku ini diceritakan bagaimana Cesare Cremonini, sesama profesor di universitas Padua, seorang atheis dan filsuf Aristotelian, menolak mentah-mentah temuan Galileo karena ‘bertentangan dengan Aristoteles’. Ia bahkan menolak melihat sendiri melalui teleskop.
2. Banyak intelektual dan kalangan akademik masa itu yang beranggapan bahwa bidang ilmu pengetahuan itu harus dipisah-pisah. Galileo, yang adalah matematikawan, menggunakan matematika untuk mendukung pandangan Copernicus. Diceritakan ttg Vincenzo di Grazia, seorang filsuf dan profesor di Pisa, yang mengkritik Galileo yang ‘mencampuradukkan matematika dan ilmu alam’. Katanya “we are not allowed to use the principles of one science to prove the properties of another”.
3. Pemahaman bahwa teks agama tidak berkaitan dengan sains sebenarnya sudah dicuatkan oleh pemuka agama sebelumnya, seperti misalnya St.Augustine di abad ke-5 yang mengatakan bahwa teks suci tidak dimaksudkan untuk mengajarkan sains karena “such knowledge was of no use to salvation”. Selain itu, teks agama pada awalnya tidak dipahami secara literal. Banyak hal di dalam teks agama yang dipahami secara alegorikal oleh masyarakat Kristen awal.
4. Pada masa itu, di antara para pemuka agama sendiri tidak sepakat soal bagaimana menghadapi urusan Galileo. Banyak juga yang mendukungnya, namun sayangnya Galileo tinggal di area yang dikuasai mereka yang menentangnya. Oh well.
5. Lebih sempit lagi, subjektivitas masing-masing agamawan juga berkontribusi terhadap keputusan yang diambil atas kasus Galileo. Diceritakan bahwa Paus yg menjadi otoritas tertinggi gereja Katolik masa itu, Paus Paulus V sangat anti-intelektual, dan Paus Urban VIII yg sebenarnya lebih bersahabat, sedang menghadapi persoalan politik yang mempengaruhi emosi dan keputusannya soal Galileo. Bandingkan dengan Paus Yohanes Paulus II atau Paus Fransiskus yang scientifically & intellectually friendly.
6. Selain itu, para agamawan yang diminta pertimbangan soal penemuan Galileo sama sekali tidak punya latar belakang sains (pada masa itu banyak agamawan yang juga mendalami astronomi dan/atau ilmu alam lain). Ya bayangkan aja seperti sastrawan disuruh menilai benar tidaknya fisika kuantum?

Jadi sebenarnya terlalu naif jika kasus Galileo dianggap sebagai konflik ‘sains vs agama’ karena ada banyak faktor yang mempengaruhinya. Permasalahan intinya adalah kebebasan berpikir vs dogmatik, penyensoran karya pemikiran, intervensi penguasa atas sesuatu yang tidak mereka kuasai ilmunya, sikap anti-sains dan tidak mau mendengarkan ahlinya. Dan kalau diperhatikan, memang hal-hal ini juga terjadi saat ini, bukan? Paling tidak di Amerika, sering terjadi penyensoran buku topik-topik tertentu (bisa dibaca di review buku The Secret Lives of Booksellers and Librarians); penolakan terhadap evolusi dan isu perubahan iklim; para politisi dan penguasa menentukan kebijakan tanpa berkonsultasi pada ahlinya (Amerika di bawah Trump sempat keluar dari Paris climate agreement), dll.

Selain itu, masalah ‘dogmatik’ dan ‘tidak open mind’ ini juga dialami kok oleh para ilmuwan dan atheis. Kebetulan saya sedang membaca buku “The Island of Knowledge” dari Marcelo Gleiser yang di antaranya mengritik ilmuwan materialis yang menolak mempertimbangkan bahwa sains tidak mengetahui segala sesuatu, atau fisikawan yang menolak aspek metafisika dari fisika kuantum.

Di akhir buku Livio menekankan pentingnya (dan urgensinya) science literacy, critical thinking, dan dialog antara science dan humanities. Sementara dalam hal sains dan agama, menurutnya tidak perlu ada konflik.”As long as the conclusions of science concerning physical reality are accepted, with no intervention of religious beliefs and no denouncing of provable facts, no conflict between the two realms can exist.”

“We should allow for the coexistence of many ideas and ideals and the freedom to debate those, and disallow only intolerance.”

 

-dydy-

Join Us

Book

O Latte

Follow IG untuk membaca review kami

Join Us on Spotify

Our Location

My Place

The place I like the most

Get Direction