Cart

Your Cart Is Empty

How To Read Nonfiction Like A Professor

How To Read Nonfiction Like A Professor

image

Author

Ani

Published

Februari 14, 2024

Saya sering bilang bahwa ‘(kegiatan) membaca itu bagus, tapi tergantung baca apa’. Mungkin ada yang nggak setuju dan menganggap pendapat saya cenderung bookshaming. Tapi concern saya bukan soal selera genre, melainkan karena melihat banyak buku dan artikel nonfiksi yang malah menyebarkan ‘fiksi’, dalam artian isinya abal-abal, hoax, ‘sampah’, atau opini pribadi yang dikemas sebagai fakta.
Buku ini menyuarakan keprihatinan saya dan menunjukkan solusinya.

How To Read Nonfiction Like A Professor

Thomas C. Foster
Harper Perennial (2020)
310 hal

Thomas Foster adalah profesor Bahasa Inggris di University of Michigan, Flint, di mana ia mengajar mengenai karya tulis fiksi kontemporer, drama, puisi, juga creative writing dan komposisi. Ia menulis buku-buku best seller tentang apresiasi karya tulis, seperti How to Read Literature Like a Professor (terbitan 2003, yang kemudian dijadikan bacaan wajib kelas Advanced Placement English di banyak SMA seAmerika) dan How to Read Novels Like a Professor.

Kali ini ia menulis tentang membaca buku nonfiksi. Membaca kata pengantarnya, sangat jelas alasannya menulis buku ini: ia prihatin dengan kondisi perbukuan (dan bentuk tulisan lainnya) genre nonfiksi, karena banyak ‘racun’ berupa hoax, konspirasi, pelintiran fakta, dan kebohongan nyata, tapi ditelan mentah-mentah karena kita tidak membaca secara kritis.

“Saya menduga ini akibat kita selama ini beranggapan bahwa yang namanya non-fiksi berarti bukan fiksi dan, seperti textbook jaman kita sekolah, maka harus diterima tanpa banyak tanya. Ini anggapan yang salah besar,” ungkap Foster.

“The same form that can unmask a hoax can also perpetrate one.” (Form di sini maksudnya bentuk karya tulis, dalam hal ini nonfiksi). Bentuk tulisan yang sama bisa membuka topeng kebohongan, tapi juga bisa dipakai menyebarkan kebohongan. Bisa mengupas lika-liku suatu penyakit dan cara mengobatinya, namun bisa juga digunakan menyebarkan pengobatan abal-abal tanpa bukti. “Jika kita hanya membaca permukaan, kita tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang bengkok.”

Apa solusinya? “Belajarlah membaca apa yang ada di balik permukaan. Pahami motif penulisnya, evaluasi bukti-buktinya, analisa argumentasi dalam tulisannya, dengan begitu kita tidak mudah diperdaya,” tambah Foster. Melalui buku ini ia ingin mengajarkan critical reading, bagaimana membaca karya tulis nonfiksi secara aktif, baik itu biografi, sejarah, jurnalisme, blog, dan lain-lain.

Foster membagi buku ini menjadi beberapa bagian. Bagian pertama tentang unsur teknis dalam karya tulis nonfiksi seperti struktur, argumen, dll. Bagian kedua membahas beberapa genre nonfiksi dalam bentuk tradisional (buku dan suratkabar) sambil menganalisa dari segi unsur-unsur yang sudah dibahas di bab-bab sebelumnya. Bagian ketiga membahas tulisan-tulisan di media online termasuk medsos, dan bagian terakhir membahas ‘unsur kriminal dalam nonfiksi’ seperti hoax.

Tidak seperti umumnya buku tipe “how to”, buku ini tidak berupa instruksi yang formal dan kaku, dengan daftar poin-poin tertentu. Foster menuliskannya dengan mengalir dan dinamis, dengan bahasa yang enak dibaca, santai tapi serius. Buku ini seolah-olah mengajak pembaca mengikuti alur berpikirnya ketika membaca karya tulis tertentu, dan mengikuti bagaimana seorang profesor bahasa menganalisa, berdialog, dan meng’interogasi’ karya tulis tersebut dari berbagai aspek. Pada dasarnya buku ini mengajarkan critical reading dengan menunjukkan alur berpikirnya, tidak hanya ‘poin-poin yang harus dilakukan’. Show, not tell.

Saya pikir ini metode yang bagus banget. Seringkali kita tahu daftar hal-hal yang harus dilakukan, tapi kadang bingung bagaimana menerapkannya. Nggak heran buku pertamanya banyak dipakai di kelas AP English.

Beberapa hal menarik yang ingin saya angkat dari buku ini:

1. Salah satu trik mengenali bias penulis adalah lihat siapa yang dikutipnya, dan siapa narasumber klaim-klaimnya. Kalau di Amerika info ini cukup spesifik, karena partai politik yang besar cuma 2: Demokrat dan Republikan. Tokoh-tokohnya sudah ‘standar’.

2. Di bab yang membahas genre buku politik, Foster banyak mengulas tentang ‘fake news’ pemerintahan Trump, termasuk membahas 3 buku topik ini dari penulis berbeda dan menganalisa mereka dari berbagai aspek. “Buku A ditulis oleh penulis yang biasa menulis gosip (latar belakangnya), pernyataan-pernyataan yang dikutipnya hanya dari orang kedua atau ketiga, bukan orangnya langsung (masalah narasumber), bahkan Trump sendiri cuma diwawancara selama beberapa jam, dll dsb” atau “Buku B ditulis oleh jurnalis senior kawakan yang tercatat dalam sejarah sebagai yang membuka skandal presiden Nixon, disegani sebagai jurnalis yang memegang teguh kode etik, dll dsb”.
Saya menduga buku pak Foster yang ini tidak populer di negara-negara bagian tertentu… hehehe…

3. Di bab yang membahas buku sains, Foster bilang “Sekarang ini ‘the great age of science writing’, tapi sekaligus juga begitu antiscientific”. Ada 3 topik utama yang seringkali ditolak mentah-mentah oleh sebagian publik Amerika: evolusi, ilmu bumi (berkaitan dengan flat-earthism dan umur bumi), dan astrofisika (big bang). Lucunya pak Foster bilang kalau “di luar Amerika penolakannya nggak sebesar di sini”. Hadeuuh dalam hati saya bilang, ah si bapak nggak tau Indonesia sihhh… sama paaakk!!! Malah saya pikir Indonesia lebih parah: situasi antisainsnya sama, tapi science writing-nya minim, nggak kayak di Amrik.

Kembali ke soal cara membaca nonfiksi, jadi bagaimana supaya kita kritis dalam membaca? Menurut Foster, jangan menjadi pembaca yang pasif, jadilah pembaca yang aktif. Bagaimana maksudnya? Perkenankan, bahkan haruskan diri untuk bertanya dan ‘interrogate the text’. Tentang penulisnya, tentang topiknya, tentang klaim-klaim yang diajukannya, tentang argumen-argumen yang dibuatnya.

Siapa penulisnya? Apa latar belakangnya? Bagaimana biasnya? Bagaimana kecenderungan sudut pandang politiknya? Apakah ybs mendapat keuntungan jika isi tulisannya memuji/menjatuhkan pihak tertentu? Apakah klaim yang diajukan di buku ini bisa dipertanggungjawabkan? Bagaimana argumennya, apakah logis? Siapa yang menjadi narasumbernya? Bagaimana datanya? Dan lain-lain sebagainya.

Ya, memang perlu usaha lebih besar dan waktu lebih lama untuk membaca kritis. Tapi coba pikir lagi, bukankah dengan membaca tulisan nonfiksi abal-abal, lebih besar lagi usaha dan waktu yang sia-sia karenanya?

Ayo, mulai praktekkan membaca kritis. Jadilah pembaca cerdas.

Join Us

Book

O Latte

Follow IG untuk membaca review kami

Join Us on Spotify

Our Location

My Place

The place I like the most

Get Direction