Cart

Your Cart Is Empty

How To Tell A Story: The Essential Guide to Memorable Storytelling from The Moth

How To Tell A Story: The Essential Guide to Memorable Storytelling from The Moth

image

Author

Ani

Published

Februari 12, 2024

Sejujurnya saya nggak tahu The Moth itu apa/siapa, sampai baca newsletter Pelantang dari Paberik Soeara Rakjat yang mengadakan workshop podcast yang saya ikuti beberapa bulan yang lalu. Katanya The Moth ini ‘salah satu jagoannya podcast storytelling, yang sudah konsisten hadir ke pendengarnya selama 25 tahun terakhir’. Wah udah lama juga ya, and I don’t even know who they are . Kebetulan juga beberapa waktu sebelumnya iklan buku ini muncul beberapa kali di feed. Jadi saya putuskan untuk pinjem, karena penasaran.

How To Tell A Story: The Essential Guide to Memorable Storytelling from The Moth

Meg Bowles, Catherine Burns, Jenifer Hixson, Sarah Austin Jenness, Kate Tellers
Crown (2022)
336 hal

The Moth adalah event live storytelling, yang diinisiasi oleh George Dawes Green, seorang novelis, dan dimulai di ruang tamu apartemennya di New York City tahun 1997. Nama The Moth diambil berdasarkan pengalaman masa kecilnya, dari laron-laron (moths) yang mengelilingi lampu yang ia lihat ketika mendengarkan neneknya bercerita kepada cucu-cucunya di teras rumah.

Syarat storytelling The Moth adalah harus kisah nyata, pengalaman pribadi, dan disampaikan langsung secara lisan di hadapan penonton selama kira-kira 10 menit.
Tidak mudah, ya? Tapi The Moth menyediakan sutradara dan mentor untuk membimbing para calon storyteller ini menyusunnya, mulai dari memilih ide dengan menggali memori, mengembangkan strukturnya, membangun emosi, sampai menemukan kalimat pembuka dan penutup yang pas, supaya hasilnya menjadi suatu cerita yang mengguggah dan tak terlupakan.

Nah, buku ini berisi panduan dari para mentor itu, supaya siapa saja yang baca bisa belajar menyampaikan cerita yang menggugah. Jadi ini buku how-to, dengan banyak contoh yang diambil dari para storyteller yang pernah tampil di panggung The Moth.

Jadi kurang lebih seperti workshop membuat narrative nonfiction genre memoir ya. Soal menggali ide, struktur dllnya, kurang lebih sama dengan buku-buku how to write lainnya. Yang membedakan mungkin soal pembatasan waktu (jadi ceritanya singkat dan padat), dan bab mempersiapkan diri ke panggung.

Ada satu saran The Moth yang menarik. Katanya, banyak orang yang ingin menceritakan kisah yang membuat mereka tampak baik/hebat, “Tapi bagi hadirin, hal itu terdengar sombong, bragging,” katanya.
“Telling people about all the big wins in your life is a very easy way to lose your listener.”

Saya jadi ingat yang ditulis Lee Gutkind, pendiri dan editor majalah sastra “Creative Nonfiction”, dalam buku “Keep It Real: Everything You Need to Know About Researching and Writing Creative Nonfiction”. Katanya setiap bulan majalah CN menolak banyak naskah memoir, rata-rata karena ‘overwhelming egocentrism’.
“…writers write too much about themselves and what they think, without seeking a universal focus so that readers are properly and firmly engaged…The overal objective of a writer should be to make the reader tune in, not out,” tulisnya.

Itu juga yang saya tangkap dari buku How to Tell A Story ini. Bagaimana menyampaikan suatu memoir yang membuat pembaca/pendengar ikut hanyut di dalamnya karena keterikatan emosi, dan bukan sekadar cerita narsis.

Join Us

Book

O Latte

Follow IG untuk membaca review kami

Join Us on Spotify

Our Location

My Place

The place I like the most

Get Direction