Cart

Your Cart Is Empty

How To Write Like A Writer

How To Write Like A Writer

image

Author

Ani

Published

Februari 15, 2024

Buku ini adalah buku terbaru dari Thomas Foster, profesor Sastra Inggris yang sudah mengajar topik-topik kepenulisan dan kritik sastra selama puluhan tahun di University of Michigan, Flint, dan menelurkan buku-buku best seller tentang critical reading, baik atas karya sastra, novel, puisi, dan nonfiksi.

Seperti juga buku Foster yang sebelumnya saya review, buku ini pun tidak berupa instruksi yang formal dan kaku dengan daftar poin-poin tertentu seperti umumnya buku-buku ‘how-to’. Kalau berharap aturan menulis yang rigid, this book is not for you. Tapi jika ingin wawasan mendalam seorang profesor bahasa tentang eksplorasi karya tulis, ini buku yang tepat.

How To Write Like A Writer

Thomas C. Foster
Harper Perennial (2022)
242 hal

Sebagai pengajar senior, Foster sangat paham bahwa cara kerja (dalam hal ini menulis) setiap orang itu berbeda-beda. Cara ‘freewriting’ mungkin cocok untuk si A, tapi tidak untuk si B yang butuh memulai dari struktur yang jelas poin-poinnya, dan seterusnya. Karena itu yang dia sampaikan di buku ini lebih ke prinsip-prinsipnya. Oya, buku ini juga lebih cenderung ke penulisan nonfiksi (cocok banget sama selera saya hehehe) meskipun di sana-sini juga menjadikan karya fiksi dan puisi sebagai contoh.

Buku ini dibagi 3 bagian besar: “Why Write”, “What to Write and How”, dan “Soaring Practice”.

Buat apa sih menulis? Menurut Foster, manfaat menulis yang utama adalah untuk mengenal diri sendiri. Setiap orang itu unik, maka setiap karya tulis pun (seharusnya) unik. “Your writing can be as distinctive as you are.” Inilah salah satu manfaat praktek menulis: menemukan karakter unik diri sendiri yang akan terbaca dalam karya tulis masing-masing. Inilah yang dimaksud ‘find your own voice’ dalam berbagai tips menulis. Setiap orang punya cara tertentu untuk menyampaikan sesuatu, yang berbeda dengan cara orang lain. Temukanlah itu dan terapkan dalam tulisan. Proses menemukan ini tidak akan terjadi tanpa praktek, jadi mulailah praktek, dan lakukan berulang-ulang sampai menemukannya.

“Sound like yourself, not a thesaurus.”

Memang ya, kalau membaca buku-buku nonfiksi, bisa tertangkap ‘suara’ penulisnya. Pak Foster ini ‘suara’nya mirip Sam Kean yang nulis buku Violinist’s Thumb, sama-sama santai dan lugas, dengan humor di sana-sini, juga wawasannya luas. Kalau Mario Livio yg nulis buku simetri itu, ‘suara’nya mirip Max Tegmark yg nulis Mathematical Universe, passionate, curious, dan bahasan teknisnya mendalam.
Saya kurang banyak baca fiksi selain buku anak/remaja jadul, jadi nggak begitu tahu ‘suara’ para penulisnya. Tapi pak Foster banyak ngasih contoh karya Ernest Hemingway yang katanya khas. Hmm..kapan-kapan saya baca buku Hemingway deh.

Kembali lagi tentang menulis, selain untuk mengenal diri sendiri, menulis juga berfungsi untuk mengeksplorasi suatu topik, mengenalnya lebih dalam. Ini juga inti dari buku William Zinsser “Writing to Learn”, dan salah satu tips belajar dari fisikawan Richard Feynman (step 1 Feynman Technique untuk mempelajari suatu topik adalah dengan menuliskannya!).

Yang juga tidak kalah penting dalam menulis adalah mempertimbangkan pembacanya. “Writing is a conversation between two people, a writer and a reader,” tulis Foster. Pertimbangkan untuk siapa kita menulis. Semua bentuk komunikasi ada konteksnya: apa yang mau disampaikan dan bagaimana menyampaikannya, tergantung siapa yang (saling) berkomunikasi. Kalau seorang ilmuwan menulis untuk orang awam, janganlah banyak-banyak pakai istilah level akademik yang membingungkan. Tentu saja topik ilmu tertentu tidak bisa lepas dari istilah ilmiah, tapi bukan berarti ditulis begitu saja tanpa menjelaskannya dengan bahasa yang lebih sederhana. Niat jelasin nggak sih? Buat awam gitu lho!

Salah satu latihan menulis yang disarankan oleh pak Foster adalah…menulis review! Review apa saja, mau buku, film, restoran, makanan, apapun. TAPI reviewnya tidak cukup dengan “Menurutku buku ini jelek!” melainkan kita harus bisa menjelaskan apa yang membuatnya jelek. Suatu review mestilah terdiri dari respon/opini penulis dan uraian tentang apa yang memunculkan respon/opini tadi. Dengan begini kita berlatih menyusun argumentasi yang teratur.

Bagi saya, salah satu yang menarik dari bahasan buku ini adalah tentang bagaimana membuat bagian ‘body’ atau ‘middle’ sebuah karya tulis tetap menarik bagi pembaca. Foster menganalogikannya dengan pesawat terbang. Bagian pembuka itu seperti ‘take off’, dan penutup seperti ‘landing’. Keduanya relatif pendek. Namun proses ‘staying afloat in the sky’ itu bukan perkara simpel, karena justru itulah proses paling panjang yang harus dipertahankan. Kenapa ini menarik, karena pada saat yang sama saya juga sedang membaca-baca tentang musik klasik, dan soal ‘middle’ ini mirip sekali dengan bagaimana komposer musik klasik abad 18-19 membuat karyanya ‘stay afloat’ selama 30 – 75 menit: dengan menerapkan variasi dan dynamics agar pemirsa (kalau dalam hal karya tulis, pembaca) tetap setia mendengarkan dan menyimak.

Yang saya tangkap dari buku ini adalah, Thomas Foster memperlakukan kegiatan menulis sebagai sarana pembelajaran, untuk mengenal diri, eksplorasi topik, ekspresi kreatif, serta melatih alur berpikir dan logika. Semua ini adalah kualitas yang penting dalam diri seorang manusia. Untuk para pengajar, ia menyarankan memperbanyak latihan menulis di sekolah, karena manfaatnya sangat besar untuk pengembangan diri. Cukup bentuk esai pendek, 1-2 paragraf, bisa review atau opini tentang apapun. “The beauty of the quick essay is that it moves from ‘knowledge of its source’ to ‘ideas about it’ swiftly,” tulisnya. Menulis membawa perubahan dari sekadar ‘pengetahuan’ menjadi ‘pemikiran tentangnya’. Sesuatu yang lebih dalam.

Foster juga lebih mementingkan kebebasan berekspresi daripada aturan yang ketat. Ia menganalogikannya seperti orang yang mau mulai main basket, tapi alih-alih mulai dribble dan melempar bola ke keranjang, ia diharuskan belajar dulu fisika dan kalkulus untuk memperhitungkan lengkungan yang tepat agar bolanya masuk. Karenanya di bagian ‘how to write’ ia lebih banyak mengajarkan prinsip. Struktur beginning-middle-ending, dan tata bahasa dasar. “Yang penting ada pelaku, yang dilakukan, dan objek terhadap apa sesuatu itu dilakukan. Everything else is embellishments.” Kemudian proses selanjutnya adalah langsung membuat draft. Draft tidak perlu bagus, bahkan boleh kacau. Tapi tanpa draft, “We don’t have anything to work on”. Itulah gunanya draft, supaya bisa direvisi, dibentuk, diperbaiki, menjadi karya tulis yang selesai.

Jika buku ini terkesan philosophical, meskipun bahasanya ringan dan diselingi humor di sana-sini, wajar sih, karena ternyata pak Foster ini jaman kuliah juga ngambil kelas-kelas filsafat. Nggak aneh kalau dia sangat menekankan kontinuitas logika dan kekuatan argumen dalam menulis, selain juga kekritisan dalam membaca. “Jangan coba-coba bikin argumen yang nggak kuat kalau menulis esai tentang David Hume,” candanya. (FYI, David Hume adalah filsuf Skotlandia abad 18)

Oya, meskipun prinsip-prinsip penulisannya universal, buku ini nggak cocok diterjemahkan ke Indonesia, karena kontennya kontekstual sastra Inggris-Amerika dan juga ada bab khusus membahas tata bahasa Inggris. Buku ini lebih pas dibaca dalam versi aslinya. Untuk pasar Indonesia lebih baik ada buku semacam ini dari pakar bahasa, sastra, atau jurnalistik Indonesia supaya isinya kontekstual dengan muatan lokal.

Terkait:
Writing to Learn dari William Zinsser
https://www.facebook.com/bookolatte/posts/pfbid02AUz3571sFJ7ASoNNA4an93mFqUcYv6fXH2oexMtJPEzAtnQeeCE9jq8saQhd6RdMl

Join Us

Book

O Latte

Follow IG untuk membaca review kami

Join Us on Spotify

Our Location

My Place

The place I like the most

Get Direction