JENIUS: MENANGKAP POLA TERSEMBUNYI
(Tambahan review buku The Geography of Genius)
(Kenapa fotonya 3 buku? Karena semua ada hubungannya)
Ada yang ketinggalan dari review buku The Geography of Genius kemarin.
Di akhir buku, setelah mengeksplorasi berbagai tempat dari Athena sampai Silicon Valley, Weiner membahas bagaimana resepnya jika kita mau membangun suatu tempat atau lingkungan yang menyuburkan kreativitas dan memunculkan para jenius.
Dia mengatakan bahwa seorang ‘popular urbanist’ (nggak disebutkan siapa, tapi saya tau maksudnya Richard Florida) berpendapat bahwa prinsip ‘creative city’ adalah “3Ts: Technology, Talent, Tolerance”. Tapi menurut Weiner, technology & talent justru adalah produk dari tempat kreatif, bukan penyebabnya.
Weiner sendiri menyimpulkan bahwa resep tempat kreatif adalah “3Ds: Disorder, Diversity, Discernment”.
Disorder atau chaos, dibutuhkan untuk menggoyahkan status quo (seperti comfort zone, tempat nyaman di mana mereka yang ada di dalamnya nggak tertarik untuk berubah). Dengan goyahnya status quo, sesuatu yang baru dan orisinal bisa muncul.
Diversity, baik orangnya maupun ide/budaya/sudut pandang. Saya melihat ini seperti data: semakin beragam input, semakin ‘pintar’ outputnya.
Discernment, adalah kemampuan lingkungannya membedakan mana yang bagus dan mana yang tidak. Tidak semua ide bagus. Tidak semua karya bagus. Di bab Florence dan Vienna, diceritakan bahwa munculnya mahakarya2 seni di sana dipengaruhi tuntutan selera masyarakatnya juga. Kalau hasilnya menurut mereka nggak bagus, mereka protes. Selera masyarakat Florence & Vienna ikut berkontribusi menghasilkan kluster karya-karya indah yang terkonsentrasi di kota-kota itu dan bukan di kota tetangga.
“What is honored in a country will be cultivated there” – Plato.
(hmmm…ironisnya, saya malah jadi inget sinetron-sinetron Indonesia)
“Tentu, kita semua senang diberitahu oleh buku-buku self-help bahwa ‘we all have a little genius inside of us'”, kata Weiner, “tapi faktanya jika semua orang jenius, then nobody is”.
It’s not a popular opinion, tapi saya setuju. Ya, semua punya potensinya, tapi nggak semua bisa disebut ‘jenius’. Mereka punya ‘that special thing’.
Nyambung dengan ini, saya sedang membaca buku “The Age of A.I”, dan di bab pertama diceritakan tentang AlphaZero, program catur A.I yang dikembangkan oleh Google DeepMind. AlphaZero diberi input aturan catur, dan diprogram mencari strategi yang memaksimalkan kemenangan. Kemudian dia dibiarkan ‘belajar sendiri’ dengan ‘playing against itself for four hours’. Hasilnya? AlphaZero berhasil mengalahkan Stockfish, program catur terkuat pada saat itu (2017).
Yang menarik dari cerita ini adalah bahwa AlphaZero menerapkan strategi catur yang unorthodox, original, sesuatu yang baru, yang tidak biasa diterapkan oleh pecatur manusia.
“AlphaZero tidak punya ‘strategi’ seperti yang dipahami manusia, namun ia menerapkan logika berdasarkan kemampuannya MENGENALI POLA gerakan buah catur”
(…tuh kan, pola lagi deh…)
Bagaimana AlphaZero sampai ke kesimpulan itu? Sulit dijelaskan, saking banyaknya relasi antar data yang diproses.
Saya membayangkan jenius seperti itu: dengan ingredients yang sama, dia mengolah data yang beragam dan tampak random (disorder & diversity) lalu dengan KEMAMPUAN MENGENAL POLA TERSEMBUNYI, dia mengolahnya dan bisa membedakan yang bagus dan tidak (discernment) sehingga menghasilkan keluaran yang mencengangkan.
Tapi kalau ditanya gimana bisa sampai kesimpulan itu, mereka susah menjelaskannya. Seperti AlphaZero.
Jadi menurut saya jenius punya kemampuan intrinsik bawah sadar, intuisi di level yang lebih tinggi, heightened sense, yang membuat mereka berbeda.
Dulu ada yang tanya di review buku Genius of Place, apakah sama isinya dengan The Geography of Genius? Waktu itu saya belum baca TGoG jadi belum bisa jawab dengan pasti, tapi sekarang bisa saya jawab: beda, karena GoP isinya biografi Frederick Law Olmsted. Tapi Olmsted adalah seorang yang sensitif terhadap ‘genius loci’ atau ‘the spirit of the place’.
Bisakah Olmsted disebut jenius? Meskipun secara akademik dia tidak pintar, tapi dalam hal landscaping, ya, saya pikir dia jenius. Dia bisa menangkap pola keindahan suatu area dan mengolahnya ke dalam suatu visi masa depan, meskipun pada saat itu si area tersebut misalnya kotor dan terbengkalai. Tapi lihatlah Central Park New York, Back Bay and The Fens Boston, atau Biltmore Estate. What a genius of place.
Banyak banget yang pengen saya bahas dari buku TGoG tapi segini cukup lah.
Yang penting, mau jenius/kreatif atau tidak, jangan dijadikan masalah. Tetaplah berkarya (tapi juga nggak usah ngaku2 jenius/kreatif dan marah kalau orang-orang nggak setuju hehehe).
Dan kalau mau membantu menghasilkan generasi kreatif dan ‘jenius'(dikasih tanda kutip ya, karena jenius tetaplah punya special ingredient), sediakan lingkungan yang mendukungnya: beri input yang beragam, yang berkualitas, dan beri ruang berpikir dan berdiskusi untuk mengolah segala input itu.
Demi generasi yang lebih baik.