Cart

Your Cart Is Empty

Karma: A Yogi’s Guide to Crafting Your Destiny

Karma: A Yogi’s Guide to Crafting Your Destiny

image

Author

Ani

Published

Februari 6, 2024

Kita mungkin sering mendengar kata ‘karma’ bahkan memakainya juga dalam percakapan, tapi tidak tahu atau hanya menduga-duga artinya. Dalam buku ini Sadhguru menjelaskan secara lengkap tentang apa itu Karma yang sebenarnya.

Karma: A Yogi’s Guide to Crafting Your Destiny

Sadhguru
Harmony (2021)
288 hal

Sadhguru adalah yogi/mystic/guru spiritual dari India yang selain mengadakan program spirtualitas bagi publik juga aktif berpartisipasi dalam diskusi di forum-forum internasional (termasuk PBB) bidang ekonomi, perdamaian, dll. Ia juga aktivis lingkungan, dengan kegiatan menanam jutaan pohon, kampanye menyelamatkan sungai, dan sekarang sedang menyusuri Eropa sampai India menjalankan kampanye Save Soil demi menyelamatkan kesuburan tanah.
Menurut saya sih beliau ini salah satu tokoh spiritual (bukan agama ya) yang paling media savvy, followernya ada jutaan di seluruh dunia.

Yang menurut saya menarik dari buku Sadhguru adalah, kalau seringkali buku-buku spiritualitas dan sufistik itu ditulis secara puitis, lemah lembut, hati-hati, dengan pesan yang implisit, buku(-buku) Sadhguru bahasanya lugas dan to the point seperti buku teknik, dan diselingi humor anekdot si Shankaran Pillai (semacam Abunawas) untuk menjelaskan suatu konsep.

Buku ini terbagi 3 bagian. Bagian I membahas apa itu Karma dan bagaimana mekanismenya, bagian II membahas cara apa saja yang bisa dilakukan untuk mulai keluar dari belitan Karma dan menuju kebebasan hakiki (mukti atau enlightenment). Bagian III berisi tanya jawab berkaitan dengan isu Karma.

Bagi yang suka baca-baca atau mempelajari tasawuf dan spiritualitas Timur, akan familiar dengan hal-hal yang dibahas di sini, meskipun istilah-istilahnya berbeda (pakai istilah Sansekerta soalnya).
Tapi kalaupun tidak, banyak konsep yang bisa ditemukan padanannya dalam tradisi agama, dan ini yang akan saya coba tuliskan di review ini.

Sebelumnya di awal buku dijelaskan apa arti “sadhguru”. Sadhguru berarti ‘uneducated guru’. Apakah artinya ‘guru yang bodoh’?. Bukan! Artinya ilmu yang didapatnya bukan hasil mempelajari kitab suci, melainkan ‘inner knowing’.
Reza Aslan dalam buku No God But God pernah menuliskan hal yang sama tentang arti an-nabi-al-ummi (the unlettered Prophet). Nabi yang ‘ummi’ itu bukan berarti dia buta huruf dan tidak bisa membaca, melainkan ilmunya ‘scriptureless’, berdasarkan inner knowing. (Jadi Nabi Muhammad itu SadhNabi dong ya).

Jadi, apa itu Karma?

Secara literal karma berarti perbuatan (action). Perbuatan di sini termasuk pikiran dan energi ya, tidak hanya perbuatan fisik. Sayangnya arti karma yang dipahami masyarakat bergeser menjadi sistem reward and punishment, baik dan buruk. Padahal, menurut Sadhguru, karma itu ‘netral’ secara nilai, hanya berupa perbuatan dan konsekuensinya. Baik dan buruknya tergantung konteks, dan juga sangat tergantung ‘volition’ atau niat (nah, familiar kan dengan konsep ‘tergantung niat’).

Dicontohkan misalnya orang yang membunuh, tapi cara dan niatnya berbeda-beda. Ternyata orang yang tidak secara fisik melukai tetapi di dalam hatinya penuh benci dan berimajinasi ‘membunuh’ pun, karmanya sangat besar, bahkan lebih besar dari orang yang secara fisik membunuh tetapi tidak sengaja. Begitu besarnya efek ‘niat’.

Saya jadi ingat kisah istri Nabi (‘Aisyah?) yang diminta menyimpan air di mulut supaya tidak berbicara, tapi pikirannya masih ‘passing judgements’ terhadap banyak yang dilihatnya seharian. Ketika airnya dikeluarkan, warnanya merah darah, ternoda pikiran-pikiran judgmental. (Saya lupa baca di mana, tapi ini saya dapat waktu dulu masih rajin baca buku-buku hadits).

Di bagian II dibahas tentang ‘cara melampaui batas-batas karma’ melalui yoga. Dijelaskan bahwa yoga itu bukan sekadar olah tubuh. Secara literal yoga berarti ‘penyatuan’ (union), tapi intinya yoga adalah ilmu atau teknologi transformasi untuk mengubah (transform) manusia supaya lebih selaras dengan semesta, lebih mudah berjalan menuju Kesatuan.

Yoga “bukan sekadar jungkir balik melipat-lipat tubuh” katanya. Yoga terkait tidak hanya di level tubuh (body), tetapi juga mind & energy. Jadi latihan-latihan mengontrol pikiran dan meditasi itu juga termasuk yoga.
Prakteknya tentu tidak dijelaskan di buku ini, dan menurut Sadghuru untuk menjalankan yoga dengan benar perlu guru yang benar juga.

**

Sebetulnya selama baca buku ini saya agak susah mencari padanan ‘karma’ dalam tradisi tasawuf Islam, tetapi ternyata di akhir buku ada jawabannya ketika Sadhguru membahas atma dan paramatma.
Atma (soul, jiwa) itu seperti gelembung di samudera Paramatma (Oversoul, The Source of Creation, Tuhan) ==> konsep yang familiar ya di tasawuf.

Karma adalah dinding gelembungnya.

Ya ampun, di sini saya baru nyadar arti Karma.
Karma adalah hijab antara makhluk dan Khalik!
Pantesan kesannya karma itu seperti sesuatu yang mencengkeram sangat kuat dan sulit dilepaskan.

Setiap perbuatan, pikiran, dan energi kita bisa menebalkan hijab (menjauhkan dari Tuhan) atau menipiskan hijab (mendekatkan kepada Tuhan). Ketika hijab itu hilang (the karma dissolves) makhluk menyatu dengan Khalik, buih kembali menjadi samudera.

Ternyata Karma itu konsep yang sudah familiar di tradisi Islam juga, cuma beda nama.

Pantas saja, tips-tips cara mengikis karma di buku ini banyak kesamaannya dengan perintah agama. Misalnya:
– jangan berkumpul dengan orang-orang yang suka berbuat buruk (energi negatif bisa menular dan meninggalkan jejak di diri kita, nambah-nambah karma = menebalkan hijab)
– jangan menyimpan amarah, benci, dan dengki pada siapapun (karena karmanya besar = hijab dengan Tuhan jadi tebal)
– latihan mengontrol impuls (seperti puasa, misalnya, atau sekadar menunda reaksi agar kita tidak kompulsif/dikontrol impuls)
– jangan terlalu suka atau tidak suka pada sesuatu (“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu”)
– libatkan diri sepenuhnya dalam segala hal yang dikerjakan (menurut saya ini sama dengan khusyu)
– acceptance (ikhlas!)
– dll, bahkan soal asketisme dan monogami pun ada penjelasan dari segi karma-nya lho.

Dan yang juga penting, katanya semakin kuat kita berpegangan pada identitas (aku adalah A,B,C,D, dst) semakin tebal hijab kita dengan Tuhan, karena hal itu menguatkan keterpisahan (separateness), alih-alih Oneness.

“Karma is not a creed, a scripture, an ideology, a philosophy, or a theory.
It is simply the way things are.”

Buat yang tertarik tema spiritualitas, silakan dibaca ya. Menarik sekali.

Join Us

Book

O Latte

Follow IG untuk membaca review kami

Join Us on Spotify

Our Location

My Place

The place I like the most

Get Direction