Umumnya buku-buku matematika populer berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan semacam “Matematika itu gunanya untuk apa sih?” atau “Ngapain sih kita belajar matematika di sekolah?” dengan memberikan beragam contoh aplikasi dan penggunaan matematika dalam kehidupan. Tapi buku ini beda. Menurut Francis Su, manfaat matematika adalah untuk mengembangkan kualitas diri, memupuk karakter positif manusia, dan membantu orang lain berkembang bersama.
Mathematics for Human Flourishing
Francis Su (with reflections by Christopher Jackson)
Yale University Press (2020)
274 hal
Francis Su adalah profesor matematika di Harvey Mudd College, California, yang sempat menjabat menjadi presiden Mathematical Association of America dam wakil presiden American Mathematical Society. Selain mengajar dan berorganisasi, ia juga aktif mempopulerkan matematika lewat tulisan-tulisannya di New York Times, Quanta Magazine, dan Wired.
Buku ini dikembangkan dari pidato perpisahan Su ketika melepas jabatan presiden MAA tahun 2017. Ia membuka pidato itu dengan bercerita tentang Christopher Jackson, seorang narapidana kulit hitam yang dipenjara sejak usia remaja karena merampok. Ia tidak lulus SMA, dan masa remajanya bermasalah, terlibat pergaulan tidak baik bahkan kecanduan obat-obatan. Di dalam penjara, Jackson mulai tertarik belajar filsafat dan matematika dari buku-buku yang ada di sana. Ia belajar sendiri Aljabar, Geometri, Trigonometri, dan Kalkulus I&II. Karena ingin belajar lebih jauh, pada tahun 2013 ia lalu menulis surat kepada Su, yang namanya disebut-sebut dalam sebuah buku yang dibacanya, untuk menanyakan apakah kampusnya menyediakan kuliah matematika program korespondensi jarak jauh. Sayangnya, kampus Su tidak menyediakan program seperti itu, tapi Su terus melayani korespondensi matematika dengan Jackson selama bertahun-tahun, yang menjadi inspirasi pidatonya dan buku ini.
Dengan pengalamannya berkorespondensi dengan Jackson, Su jadi berpikir tentang akses pendidikan matematika. “Kalau membayangkan orang-orang yang menekuni matematika, terpikirkah oleh anda orang seperti Christopher?” tanya Su. Banyak orang yang sebenarnya memiliki bakat dan ketertarikan akan matematika, tapi terhambat, bahkan kadang terhalang sama sekali oleh berbagai macam keadaan.
Ada yang seperti Jackson, karena kemiskinan dan pergaulan, tidak mendapat pendidikan matematika yang baik. Ada yang seperti Simone Weil, yang merasa tidak percaya diri karena membandingkan dengan kakaknya Andre Weil yang jenius matematika, dan lalu memilih mendalami filsafat. Ada yang terhalang (atau dihalangi?) menekuni matematika karena ras atau jenis kelaminnya. Ada yang kesulitan bersaing di program doktoral karena teman-teman sejawatnya berasal dari sekolah elit, sementara ia dari ‘pinggiran’. Ada yang kehilangan ketertarikan pada matematika karena pengajaran matematika yang tidak menarik, atau sikap guru/dosen yang tidak suportif, dan lain-lain hal yang membuat mereka lalu meninggalkan dunia matematika, bahkan membenci dan mempertanyakan “Buat apa belajar matematika? Nggak ada gunanya!”
Menurut Su, disadari atau tidak, kita semua adalah ‘guru’ matematika, dalam artian kita mengomunikasikan image/kesan tertentu tentang matematika. Kita bisa mengomunikasikan kesan negatif dengan komentar-komentar seperti “Ah saya bodo matematik” “Matematika itu pelajaran cowok” “Jangan main sama cewek itu lah, dia nerd” “Nak, bapakmu ini nggak pinter matematik, dan kayaknya kamu dapat gen bapak” dll. Tapi kita juga bisa mengomunikasikan kesan positif, seperti “Matematika adalah petualangan!” “Kamu bisa kok meningkatkan kemampuan matematikamu” atau “Matematika adalah kemampuan melihat pola tersembunyi” dan “Semua orang punya potensi bermatematika”. Jika kita mengubah cara pandang kita terhadap matematika, maka akses mempelajarinya pun akan lebih terbuka, dan lebih banyak yang mendapatkan manfaatnya.
Jadi untuk apa bermatematika? “Mathematics is for human flourishing,” jawab Su. Apa yang dimaksud ‘human flourishing’ di sini? Maksudnya adalah keutuhan diri seseorang, dalam menjalani hidup dan bertindak, menyadari potensi diri dan menolong orang lain melakukan hal yang sama, berperilaku terhormat dan memperlakukan orang lain dengan baik, tetap berlaku jujur meskipun menghadapi kesulitan.
Eh, apa hubungannya matematika dengan hal-hal ini? Menurut Su, selama ini matematika hanya dilihat nilai kegunaannya sebagai alat, karena orang belum tahu nilai-nilai lain yang dikandungnya ketika seseorang bermatematika. Apa saja misalnya? Su memberikan banyak contoh:
1. Eksplorasi.
Seperti menjelajah ruang angkasa dan kosmos, matematika pun bereksplorasi, yaitu menjelajah ide-ide. Tidak perlu banyak alat, yang diperlukan hanya pikiran kita. Eksplorasi matematika diawali dengan bertanya: mengapa? bagaimana? apa yang terjadi jika…?. Sayangnya pengajaran matematika yang kering dan monoton di sekolah tidak memunculkan nilai itu. Su memberikan contoh-contoh jenis soal atau pertanyaan matematika yang memicu eksplorasi, seperti misalnya game strategi (catur, tic-tac-toe, dll).
2. Bermain.
Dalam ‘bermain’ matematika, pikiran menjadi taman bermain bagi berbagai ide, soal, dan pertanyaan-pertanyaan. Kita bebas memainkannya, mengutak-atiknya, melihat dan memutar-mutarnya dari berbagai sisi. Bermain matematika membuat kita bisa melihat berbagai perspektif baru.
3. Keindahan.
Ini salah satu yang sering nggak kebayang oleh yang awam matematika: apa yang disebut ‘indah’ di matematika? Mengutip Maryam Mirzakhani, pemenang Fields Medal 2014, “The beauty of mathematics only shows itself to more patient followers.” Hanya orang-orang yang sabar menekuni matematika yang bisa melihat keindahannya.
Bagi Su, ada macam-macam keindahan dalam matematika. Ada yang bisa ditangkap oleh indera, seperti pola-pola geometris baik alami (pola fraktal bunga kol Romanesco, belang zebra) maupun buatan (Islamic art, pola quilt). Ada keindahan yang tertangkap ketika matematikawan bisa melihat efisiensi relasi antar ide yang direpresentasikan oleh suatu persamaan, seperti E=mc^2. Ada keindahan yang tertangkap ketika matematikawan memahami logika pemikiran suatu pembuktian. Ada keindahan yang mendalam dan transenden, yang muncul ketika melalui matematika, seseorang jadi memahami skenario yang lebih besar (seperti ketika matematika Emmy Noether ternyata ‘berwujud’ hukum kekekalan di fisika).
4.Kebenaran.
Matematika mengasah skill kita untuk mencari tahu, secara teliti, setepat-tepatnya (rigorous), dengan logika dan penalaran yang benar. Berpikir matematika membuat kita selalu berusaha untuk mencari kebenaran, dan tidak menerima sesuatu begitu saja. Dan bukankah sikap ini sangat baik dimiliki seseorang dalam hidup?
5.Perjuangan.
Tentu saja dalam memecahkan suatu persoalan dalam matematika, seseorang perlu berjuang. Dalam pendidikan matematika, istilah ‘productive struggle’ menggambarkan keadaan bergelut secara aktif memecahkan soal, gigih mencoba berbagai strategi, mengambil resiko, tidak takut salah, dan terus maju mencoba memahami soal meskipun sedikit-sedikit. Keadaan ini melatih daya tahan dan kekuatan seseorang menghadapi masalah.
Bagi Christopher Jackson sendiri, matematika telah membuatnya menyadari banyak kesalahan masa lalunya, dan di penjara ia menjadi guru matematika bagi teman-teman narapidana yang ingin mengambil ijasah setara SMA (GED).
Masih ada beberapa nilai kebaikan lain yang dibahas oleh Su, dijalin dengan cerita-cerita pengalaman pribadinya baik sebagai anak imigran minoritas, pendidik, dan pengamat sosial, juga disandingkan dengan refleksi-refleksi Christopher Jackson melalui surat-surat korespondensinya dari penjara. Melalui buku ini, Su menyoroti betapa banyak manfaat yang didapat dari belajar matematika, termasuk imajinasi dan creative power, yang dalam pandangan masyarakat awam, jarang sekali dikaitkan dengan matematika. Harapannya, dengan apa yang sudah dijabarkannya dalam buku ini, pembaca bisa melihat matematika secara berbeda, dan mudah-mudahan tidak lagi melihat diri sebagai “I’m not a math person”, karena menurutnya “doing math is tightly bound to being human”, and you are human.
Catatan: text pidato Francis Su “Mathematics for Human Flourishing” bisa dibaca di sini https://mathyawp.wordpress.com/2017/01/08/mathematics-for-human-flourishing/
-dydy-