Manusia, di berbagai budaya, secara umum terlahir dengan ‘musicophilia’ atau kecenderungan pada musik. Kita memiliki kemampuan intrinsik untuk bereaksi terhadap, dan mengapreasiasi musik dalam berbagai bentuknya. Mungkin saja dipengaruhi lingkungan atau pengalaman, namun hal ini tertanam sangat dalam pada spesies kita. Dari sudut pandang evolusi sebenarnya membingungkan: memangnya apa gunanya musik dalam proses adaptasi evolusi suatu spesies? Darwin menganggapnya misterius, Steven Pinker menganggapnya sebagai produk sampingan yang muncul dari sistem adaptasi lainnya.
Di buku ini Oliver Sacks bercerita tentang kasus-kasus para pasien serta kenalannya yang berkaitan dengan musik (juga pengalamannya sendiri) dan membahasnya dari sudut pandang neurosains.
Musicophilia: Tales of Music and the Brain (Revised and Expanded)
Oliver Sacks
Vintage Books (2008)
425 hal
Oliver Sacks mulai tertarik menulis tentang musik pada tahun 1966, setelah melihat pengaruhnya yang besar pada pasien-pasien Parkinson. Selanjutnya dalam profesinya ia juga menemukan banyak kasus neurologi yang berkaitan dengan musik. Pada masa itu, bahasan tentang musik dalam textbook neurologi dan fisiologi masih sangat langka, dan baru muncul pada akhir 70an. Namun seiring perkembangan jaman, dengan adanya teknologi brain imaging yang memungkinkan untuk mengamati bagaimana otak bereaksi terhadap musik, studi tentang musik dan otak telah banyak dilakukan dan terus berkembang.
Buku ini dibagi menjadi 4 bagian besar yaitu:
Haunted by Music, menceritakan kasus-kasus di mana seseorang ‘dihantui’ oleh musik tertentu, oleh sebab yang berbeda-beda.
A Range of Musicality, membahas kasus-kasus di mana seseorang mencerap musik secara berbeda-beda
Memory, Movement, and Music, bercerita tentang kasus-kasus bagaimana musik sangat berkaitan dengan gerakan tubuh.
Emotion, Identity, and Music, membahas bagaimana musik dan emosi berkaitan di dalam otak.
Cerita pertama di bagian Haunted by Music sangat menarik, mengisahkan seorang dokter bedah tulang yang tersambar petir ketika sedang pakai telpon umum, sempat ‘keluar dari tubuhnya’ juga, tapi akhirnya baik-baik saja. Dicek ke dokter pun tidak tampak ada masalah dengan jantung maupun otaknya. Namun beberapa minggu kemudian, dia tiba-tiba ‘ngidam’ ingin mendengarkan dan memainkan musik piano klasik, padahal selera musiknya selama ini cenderung ke musik rock. Ngidamnya sangat kuat, dia beli album-album Chopin dan mulai belajar memainkan piano lagi setelah puluhan tahun berlalu (ia pernah belajar piano dasar waktu anak-anak). Lalu ia mulai ‘mendengar’ satu komposisi musik di kepalanya, juga dalam mimpinya, yang ‘minta dikeluarkan’. Dengan belajar keras bermain piano dan menulis notasi, akhirnya ia berhasil ‘menumpahkan’ musik di kepala itu menjadi sesuatu yang nyata, dan memainkannya di hadapan publik. Bisa digoogle “Tony Cicoria” dan Lightning Sonata-nya.
Dalam sejarah neurosains tercatat beberapa kasus ‘sudden musicophilia’ seperti yang dialami dr Cicoria (meskipun tanpa harus tersambar petir dulu!). Biasanya berkaitan dengan epilepsi atau tumor. Namun karena otak dr Cicoria tampak tidak terganggu, Sacks jadi bertanya-tanya apa kira-kira yang terjadi. Seandainya otak dr Cicoria diperiksa lagi dengan alat brain scan yang lebih canggih saat ini, mungkin jawabannya bisa ketahuan.
Di bagian kedua, A Range of Musicality, saya baru tahu bahwa kemampuan orang menangkap musik itu memang bisa sangat berbeda. Ternyata ada orang-orang yang ‘amusia’ alias tidak punya ‘musicality’ sama sekali. Sesuatu yang kita dengar sebagai musik, bagi mereka hanya terdengar sebagai ‘noise’ atau bunyi yang ribut saja, tanpa makna apapun. Seolah antara bunyi satu dan lainnya itu tidak saling berkaitan. Amusia juga bisa terjadi sementara, misalnya ketika seseorang mengalami migrain. Pak Sacks sendiri pernah mengalaminya ketika suatu saat ia mendadak migrain saat sedang bermain piano. Nada-nada yang sedang dimainkannya untuk beberapa saat terdengar hanya sebagai bunyi logam yang diketuk-ketuk saja.
Menurut sebuah temuan neurosains yang dibahas di bab ini, persepsi musik di otak secara umum terbagi menjadi dua kategori yang mempengaruhi 2 area berbeda. Persepsi akan melodi ada di area otak kanan, sementara persepsi akan ritme dan ketukan areanya lebih luas, meliputi area otak yang besar. Tapi tergantung komposisi otak masing-masing, maka bentuk amusia bisa macam-macam, misalnya ada yang tidak bisa mengenali nada sumbang (/dissonance), ada yang tidak bisa mengenal melodi (amelodia), dll. Rachael, seorang komposer dan pemain musik, menjadi amusia setelah kecelakaan. Musik seolah-olah terpisah-pisah antara melodi, ritme, chords, dan tidak bisa disatukan. Suatu pengalaman tragis bagi seorang pemusik.
Sebaliknya dari amusia, di bab “Papa Blows His Nose in G” diceritakan tentang orang-orang yang sangat sensitif dengan nada, mampu mengenali absolute pitch. Bahkan bunyi bersin ataupun dengingan di telinga bisa dikenali nadanya. Disebutkan studi-studi neurosains yang menemukan bahwa pada mereka yang punya absolute pitch, terdapat asimetri volume di struktur otak yang penting bagi persepsi bahasa dan musik. Selain itu kemampuan ini juga terkait dengan area otak yang bertanggung jawab menghubungkan ‘bunyi’ dengan ‘label’nya.
Superpower musik lainnya yang diceritakan di buku ini misalnya Martin yang perkembangan kecerdasan dan juga visualnya terhambat, namun memori musiknya sangat kuat sehingga hafal ribuan opera. Martin memang lahir di keluarga yang musikal jadi sudah terekspos dengan musik klasik dan opera sejak kecil. Menurut Sacks, kemampuan bermusik seringkali genetik, dan musical savants juga seringkali terlahir dengan kekurangan dari segi visual.
Banyak sekali topik menarik yang dibahas di buku ini, seperti musical dreams, synesthesia (ketika informasi indera yang berbeda tergabung, seperti ‘melihat warna bunyi’ atau ‘mendengar bunyi warna’), aphasia (kondisi di mana seseorang kehilangan kemampuan memahami bahasa, seperti yang sekarang dialami oleh Bruce Willis), dan bagaimana terapi musik sangat bermanfaat bagi pasien-pasien aphasia dan Parkinson.
Oya, seperti buku-buku pak Sacks lainnya, buku ini juga penuh dengan istilah ilmiah terutama tentang area-area otak (planum temporale, frontal lobe, frontal cortex, dll dsb). Maklum lah ya.. namanya juga buku neurosains. Tapi karena ada konteks ceritanya, jadi mudah diikuti. Buku-buku neurosains pak Oliver Sacks ini bagus-bagus semua, layak dikoleksi.
-dydy-