Cart

Your Cart Is Empty

Naming Infinity: A True Story of Religious Mysticism and Mathematical Creativity

Naming Infinity: A True Story of Religious Mysticism and Mathematical Creativity

image

Author

Ani

Published

Februari 18, 2024

Buku ini, yang saya baca 12 tahun yang lalu, adalah buku yang memicu kesukaan saya membaca buku sains populer. Sebelumnya saya sudah mulai sedikit-sedikit baca genre ini, tapi ya biasa aja, dan jarang selesai pula hehe. Tapi buku ini, yang bercerita tentang satu segmen dalam sejarah perkembangan matematika di Rusia awal abad 20, disampaikan oleh para penulisnya dengan (menurut saya) dramatis, jadi asik bacanya, sehingga mengubah pandangan saya tentang buku-buku topik ilmiah yang terkesan berat karena ‘terlalu akademik’.

Topiknya pun tidak kalah menarik: ketika beberapa matematikawan Rusia mengambil inspirasi dari suatu konsep sebuah aliran religius untuk mengembangkan cabang matematika set theory (teori himpunan), dan membangun grup studi matematika yang kuat dan produktif yang menelurkan ilmuwan-ilmuwan matematika top Rusia di tengah kekacauan sosial politik Soviet awal abad 20.

Naming Infinity: A True Story of Religious Mysticism and Mathematical Creativity

Loren Graham & Jean-Michel Kantor
Belknap Harvard (2009)
239 hal

Loren Graham adalah profesor sejarah yang fokusnya tentang sejarah sains terutama di Rusia. Ia pernah mengajar di beberapa kampus ternama seperti Harvard, MIT, dan Columbia, dan meraih banyak penghargaan di bidangnya. Jean-Michel Kantor adalah matematikawan Prancis yang juga memiliki ketertarikan pada sejarah, filsafat, dan sastra. Keduanya bekerjasama menelusuri sejarah berdirinya Moscow School of Mathematics, yang mana para pendirinya mengambil alih studi tentang infinity dari tangan para matematikawan Prancis, dan mengembangkannya lebih jauh.

Buku ini dibuka dengan adegan penggerebekan sebuah biara Kristen Ortodox di semenanjung Athos, Yunani, di musim panas 1913. Tentara Tsar Nicholas II menangkapi biarawan-biarawan Rusia yang menganut aliran “Name Worshippers” yang dianggap sesat oleh pemimpin Gereja Ortodoks Rusia saat itu. Kejadian ini sangat berkaitan dengan keruwetan situasi geopolitik Rusia saat itu, jadi bukan sekadar masalah agama. Intinya, sejak saat itu Name Worshipper dianggap sesat.

Apa itu Name Worshipper? Mereka menganut kepercayaan bahwa dengan menyebut nama Tuhan berulang-ulang tanpa henti mereka akan mencapai kondisi trance di mana mereka menyatu dengan Tuhan karena bagi mereka nama Tuhan sama dengan Tuhan itu sendiri.

Penganut Name Worshipping ini tidak hanya para biarawan, namun menyebar juga ke kalangan terpelajar di Rusia, di antaranya adalah matematikawan Dmitri Egorov dan Pavel Florensky yang mengajar di Moscow University.

Sekira masa yang sama dengan kericuhan politik dan gereja Ortodoks Rusia, di dunia matematika pun sedang ada krisis, yang dipicu oleh perkembangan cabang matematika set theory yang dibangun oleh Georg Cantor di Jerman. Krisis ini berkaitan dengan konsep ketakterhinggaan atau infinity. Cantor membuktikan bahwa infinity itu ada tingkatannya. Infinity bilangan real (R/Continuum, infinitynya disebut aleph-1) lebih besar daripada infinity bilangan asli (N, infinitynya disebut aleph-0). Dari sini Cantor mengajukan problem Continuum Hypothesis yang berusaha membuktikan bahwa tidak ada infinity lain antara aleph-0 dan aleph-1. Continuum Hypothesis inilah yang menjadi fokus krisis dunia matematika saat itu.

Awal abad 20, Prancis adalah pusat dunia matematika. Tidak heran jika persoalan Continuum Hypothesis menjadi bahan pemikiran matematikawan-matematikawan top Prancis. Emile Borel, Rene Baire, dan Henri Lebesgue, adalah trio matematikawan yang berusaha memecahkan persoalan infinity ini. Satu konsep yang muncul dari Lebesgue adalah bahwa mendefinisikan atau memberi nama bagi suatu himpunan/set, sama dengan memberi eksistensi bagi suatu objek matematika.

Namun budaya suatu tempat bisa mempengaruhi cara berpikir warganya, termasuk kalangan intelektualnya. Konsep infinity mau tidak mau sangat berkaitan dengan konsep keTuhanan, metafisika dan agama. Kalangan intelektual Prancis termasuk ultra-rasionalis, mereka tidak mau menghubung-hubungkan matematika dengan metafisika. Karena itu perkembangan infinity di Prancis mandek. Sebaliknya, matematikawan Rusia banyak yang relijius dan karenanya malah semakin tertarik dengan persoalan infinity. Termasuk Dmitri Egorov, Pavel Florensky, dan murid serta teman mereka, Nikolai Luzin.

Egorov dan Florensky adalah penganut Name Worshipping, bahkan Florensky adalah matematikawan yang sekaligus juga pendeta dan teolog. Ide ‘menamai objek matematik’ dari Lebesgue sangat dekat dengan apa yang dilakukan Name Worshipper.
“To name something was to give birth to a new entity. Florensky was convinced that mathematics was a product of the free creativity of human beings and that it had a religious significance. Human could exercise free will and put mathematics and philosophy in perspective…Mathematicians could create beings — sets — just by naming them.”
“The naming of sets was a mathematical act, just as, according to the Name Worshippers, the naming of God was a religious one — and the operation was performed in the same way.”

Egorov dan Luzin bersama mengadakan suatu kelas/grup seminar matematik untuk mahasiswa s1 di Moscow University. Egorov yang berwibawa dan Luzin yang kharismatik, membuat banyak mahasiswanya semangat melakukan riset-riset matematika tingkat lanjut, termasuk set theory. Bahkan untuk topik ini, Luzin dan muridnya menciptakan cabang baru yaitu Descriptive Set Theory, yang mempelajari infinity bilangan real. Grup ini, yang dikenal dengan nama Lusitania, merupakan cikal bakal Moscow School of Mathematics yang menelurkan para ilmuwan matematik ternama kelas dunia seperti Pavel Alexandrov dan Andrey Kolmogorov.

Namun seiring dengan krisis sosial politik Rusia, perang Bolshevik, kejatuhan Imperium Rusia, berkuasanya partai Komunis dan lahirnya Uni Soviet, grup Lusitania pun mengalami gonjang-ganjing. Para mahasiswa kadang datang ke kelas yang beku tanpa pemanas dalam keadaan kelaparan, dan tidak punya uang untuk membeli makanan. Ilmuwan dan akademisi pra-Soviet dianggap sebagai pro-Tsar, dan karenanya disensor, dipersekusi, ditangkapi, dipenjara, dibunuh. Apalagi para ilmuwan yang relijius seperti Egorov dan Florensky. Nasib mereka di era Soviet sangat tragis, difitnah lalu dibuang ke pengasingan. Egorov mati kelaparan, Florensky ditembak mati.

Bagaimana dengan Luzin? Di era Soviet ia berusaha cari aman, tidak terang-terangan mengaku beragama supaya tetap bisa menjalankan riset matematika bersama murid-muridnya. Matematika termasuk cabang ilmu yang bisa bertahan karena tidak memerlukan alat apapun kecuali daya pikir. Selain itu matematika juga abstrak dan ‘bahasa’nya khusus, sehingga petugas partai Komunis pun tidak mengerti apa yang dibicarakan. Matematikawan bisa berekspresi secara bebas di era Soviet, tidak seperti ilmu-ilmu lain.

Namun begitu akhirnya Luzin ‘kena’ juga. Dijebak dan difitnah petinggi partai yang ingin mengambil alih jabatannya, Luzin hampir saja mengalami nasib yang sama dengan Egorov dan Florensky. Bahkan murid-muridnya sendiri pun bersaksi melawannya (meskipun bisa jadi ini keterpaksaan di bawah ancaman penguasa). Ia diselamatkan oleh seorang ilmuwan yang mendesak Stalin supaya mengampuni Luzin yang “pengetahuannya dapat digunakan untuk memajukan Soviet”.

Buku ini bercerita tentang dunia matematik di satu waktu dan tempat dengan mengangkat manusia-manusia yang terkait, lengkap dengan segala sifat manusiawinya, kekurangan dan kelebihannya, menjadikan cerita di buku ini dramatis dan menggugah emosi. Ini kali kedua saya membaca buku Naming Infinity, dan efeknya tetap sama dengan waktu pertama kali membacanya 12 tahun yang lalu.

Di akhir buku, penulis mengatakan kira-kira seperti ini: “Tentang sains dan agama, memang dalam sejarah banyak contoh konflik di antara mereka. Tapi terlalu simplistik jika dikatakan agama dan sains itu berkonflik, ataupun sejalan. Kita harus melihat konteks dan detail masing-masing kasus, tanpa prasangka sebelumnya. Meskipun kami sekular, melihat sejarah di buku ini, bisa dilihat bahwa kadang agama juga bisa memajukan ilmu pengetahuan.”

Join Us

Book

O Latte

Follow IG untuk membaca review kami

Join Us on Spotify

Our Location

My Place

The place I like the most

Get Direction