Cart

Your Cart Is Empty

Origins: Fourteen Billion Years of Cosmic Evolution

Origins: Fourteen Billion Years of Cosmic Evolution

image

Author

Ani

Published

Juni 9, 2024

Gimana sih asal mula munculnya alam semesta? Berapa umurnya? Ada lho kepercayaan yang bersikeras menganggap alam semesta berumur sekian ribu tahun saja. Tapi observasi sains mencatat bahwa alam semesta berusia (hampir) 14 milyar tahun. Buku ini, dari astrofisikawan Neil deGrasse Tyson dan Donald Goldsmith, bercerita tentang bagaimana alam semesta berevolusi dari sudut pandang sains.

Origins: Fourteen Billion Years of Cosmic Evolution

Neil deGrasse Tyson & Donald Goldsmith
W.W.Norton & Co (revised & updated version 2022)
350 hal

Neil deGrasse Tyson mungkin adalah astrofisikawan yang paling terkenal saat ini. Ia merupakan salah satu ilmuwan yang paling aktif mempopulerkan sains, khususnya kosmologi dan astrofisika, di berbagai media. Ia membawakan berbagai acara sains di TV seperti NOVA ScienceNow, Cosmos, dan sudah sejak lama mengasuh podcast StarTalk. Melalui tulisan, ia juga menulis banyak artikel (ilmiah dan populer) serta sudah menerbitkan belasan buku.

Buku Origins ditulisnya bersama Donald Goldsmith, sesama astrofisikawan, penulis dan komunikator sains. Pertama kali terbit tahun 2004, lalu diterbitkan ulang tahun 2014, dan terakhir direvisi dan diperbarui tahun 2022. Edisi 2022 berisi banyak tambahan konten berkaitan dengan temuan-temuan baru pasca dioperasikannya James Webb Space Telescope bulan Desember 2021. Buku terbaru ini juga melampirkan banyak foto berwarna ‘karya’ JWST dan teleskop Hubble.

Seperti digambarkan oleh judulnya, buku ini bercerita tentang Origins, asal mula banyak hal dalam konteksnya dengan alam fisika.
Buku ini terbagi menjadi 4 bagian besar:
Bagian I bercerita tentang asal mula alam semesta, di sini diceritakan skenario bagaimana kemunculan materi dan antimateri dari fluktuasi kuantum, kemunculan cahaya, dark matter, dark energy, dan bagaimana cara astrofisika menyimpulkan keberadaan mereka dari fenomena-fenomena yang diobservasi dll.
Bagian II asal mula galaksi dan struktur-struktur kosmik. Bagian III asal mula bintang dan planet.
Bagian IV asal mula kehidupan. Bagian ini seru juga (bagian lain juga seru sebetulnya), mengeksplorasi bagaimana kehidupan muncul di bumi, dan bagaimana ilmuwan astrofisika dan astrobiologi mencari kemungkinan-kemungkinan kehidupan di luar Bumi.

Satu yang cukup kentara saya tangkap dari buku ini adalah, Tyson & Goldsmith sedang berargumen mematahkan kepercayaan asal-usul semesta dan kehidupan versi agama. Bahkan judul-judul babnya pun mengambil dan memainkan frasa-frasa yang dikenal di kitab suci seperti “In The Beginning” (yang menurutnya ‘in the beginning there was physics’), “Let the Light Shine” “Let There Be Dark” untuk bercerita tentang photon, dark matter, dark energy.

Ya saya sih ok aja, saya paham sudut pandang ini. Cuma ada beberapa yang mengganjal:
Pertama, pernyataan “in the beginning there was physics”. Sepertinya Tyson & Goldsmith ada di kubu ilmuwan yang beranggapan bahwa matematika hanyalah ‘alat’ yang diciptakan manusia untuk membantu fisika, jadi tidak lebih fundamental dari fisika. Bahkan buku ini sedikit sekali menyebut matematika. Padahal, ketika ‘fisika’ muncul lewat big bang itu, bukankah materi-antimateri dllnya beraksi mengikuti aturan matematika? Berarti matematika sudah ada sebelumnya. Banyak ilmuwan lain, terutama yang lebih memahami matematika secara mendalam, beranggapan bahwa matematika lebih fundamental daripada fisika. Contohnya fisikawan-matematikawan Inggris, Sir Roger Penrose.

Kedua, di buku ini 2 kali disebutkan bahwa “milyaran orang saat ini, mungkin mayoritas, beranggapan bahwa Bumi diam dan langit bergerak mengitarinya (seperti jaman pre-Copernicus)”. Saya ga tau dapet angka ini dari mana, atau mungkin dianggap semua orang beragama beranggapan seperti ini. Mungkin. Menurut saya nggak segitunya sih. Kalau berpendapat bahwa manusia dan Bumi adalah spesial di semesta, bisa jadi, tapi ‘the Earth is immobile’ mungkin enggak ya…orang beragama juga belajar fisika kan? Oh well, bisa jadi saya yang terlalu optimis juga dengan dunia pendidikan fisika di seluruh dunia. Atau mungkin baik Tyson dkk dan mereka yang masih punya pandangan pre-Copernican sama-sama membaca kitab suci secara literal, bukan metaphorical, yang punya arti berlapis-lapis.

Anyway, secara informasi, buku ini super padat, jadi agak sulit buat saya untuk menuliskan reviewnya selain gambaran besarnya, karena infonya sangat banyak dan detail sekali. Seru sih, dan saya belajar banyak sekali hal baru. Selain itu, kalau suka nonton Neil Tyson di StarTalk, tau lah gimana dia ngomong. Dramatik, sering pakai macam-macam figure of speech (majas?), perumpamaan, perbandingan dengan pop culture dll, dan juga banyak bercanda. Cocok memang di StarTalk dia berpasangan dengan komedian Chuck Nice. Nah, jadi buku ini juga kira-kira seperti itu, penuh dengan istilah astrofisika dan kosmologi, dan juga banyak ‘drama’ bahasanya, yang kadang konteksnya sangat lokal, juga sindiran-sindiran dan becandaan yang entah bisa ditangkap pembaca atau engga. Setahu saya bukunya sudah diterjemahkan di Indonesia. Saya jadi penasaran gimana ‘permainan bahasa’ yang banyak banget sepanjang buku ini diterjemahkan.

Ini baru kedua kalinya saya baca buku Neil deGrasse Tyson. Yang pertama buku Astrophysics for People in a Hurry yang saya baca 4 tahun lalu, buku yang sangat pendek, yang menjelaskan secara singkat konsep-konsep utama dalam astrofisika untuk umum. Nah waktu baca buku yang ini, yang lebih tebal, saya jadi nyadar kalau struktur tulisannya loncat-loncat (mungkin lebih tepat belak-belok atau swerving). Memang saya pernah baca satu review yang mengeluhkan hal yang sama, tapi lalu dibelain sama penggemar Tyson. Tapi pas saya baca sendiri, eh ternyata memang begitu. Jadi seperti information dump oleh orang yang heboh bercerita detail tentang macam-macam hal yang dikuasainya, tapi belum tentu orang lain paham.
Kekhawatiran saya cuma satu kalo bentuknya fast paced info dump kayak gini: orang yang awam fisika ikut excited dengan segala infonya, tapi tidak punya basis ilmu atau akses yang cukup untuk lalu mencari info lebih jauh dan memikirkannya sendiri. Seperti efek science facts yang disampaikan lewat meme atau video super pendek ala Tiktok/reels Instagram, jadinya menghasilkan “illusion of knowledge”.

Pembelaan penggemar Tyson juga ada benernya sih, dia bilang kalau suka dengerin Tyson di StarTalk, memang dia kalo cerita begitu, ngobrolnya kesana kemari (rame sih, dan becanda melulu). Tapi dalam bentuk tulisan jadi memusingkan (sori buat para penggemar Tyson ya hehe). Nah, ini jadi satu trik untuk membaca buku ini: sambil membaca, bayangkan Neil Tyson lagi ngejelasin di acara StarTalk, lengkap dengan haha hihi becandaannya. Lumayan, jadi bisa lebih menikmati loncat-loncatnya.

Saya pribadi memang lebih suka yang disampaikan dengan relatif pelan dan hati-hati dengan alur yang lancar. Kalau bidang kosmologi, saya suka tulisan Martin Rees (kosmolog & astrofisikawan top Inggris). Buku Stephen Hawking juga enak dibaca. Jim al-Khalili juga. Tulisan Einstein aja juga lumayan kalau bahasanya nggak terlalu archaic. Carlo Rovelli aga-aga terlalu puitis buat selera saya, hehe… (I can’t help it, I’m Italian, kata Rovelli). Paling enak itu kalo disampaikan dengan kalem, jelas, to the point, dan simpatik (nggak merendahkan sudut pandang lain, misalnya).

Oya, buku terjemahannya yang berjudul Asal Mula (terbitan Gramedia) adalah salah satu koleksi Bookolatte nih, dan bisa dibaca di The Room 19 – Library Space
jl DipatiUkur 66c Bandung.

-dydy-

Join Us

Book

O Latte

Follow IG untuk membaca review kami

Join Us on Spotify

Our Location

My Place

The place I like the most

Get Direction