Cart

Your Cart Is Empty

Pathfinders: The Golden Age of Arabic Science

Pathfinders: The Golden Age of Arabic Science

image

Author

Ani

Published

Juli 11, 2024
Banyak muslim saat ini membangga-banggakan suatu era yang disebut Islamic Golden Age, era saat para ilmuwan muslim begitu aktif menyumbangkan pemikirannya pada peradaban dunia. Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Al-Khawarizmi, Ibnu Haytam, semua dibanggakan sebagai orang-orang yang mendirikan pondasi untuk kemajuan dunia modern, karena lewat merekalah pemikiran-pemikiran serta teknologi Yunani Kuno diterjemahkan dan dikembangkan, lalu pada waktunya diadopsi Eropa dan mendorong terjadinya era Renaissans. Tapi mengapa saat ini muslim sangat jauh dari semangat para ilmuwan muslim awal? Mengapa nama-nama besar mereka diabadikan sebagai nama sekolah, namun sedikit sekali yang pernah membaca kitab-kitab mereka?
Pathfinders: The Golden Age of Arabic Science
Jim Al-Khalili
Penerbit Green Penguin, London, 2010
302 halaman
Jim Al-Khalili terkenal sebagai ilmuwan dalam bidang fisika kuantum yang gemar menulis buku untuk kalangan awam. Di buku Pathfinders, dia memilih untuk mengurai suatu era yang disebutnya sebagai Golden Age of Arabic Science. Khalili memilih topik ini bukan karena dia muslim (saat ini dia mengaku ateis), melainkan karena topik ini berkaitan erat dengan tanah kelahirannya di Baghdad, Irak. Dia menggambarkan bahwa saat kecil dia terbiasa bermain di reruntuhan istana Baghdad. Karena itu, dia sangat sedih melihat betapa istana yang dulu menjadi mercusuar ilmu pengetahuan, kini hanya menjadi puing terlupakan, apalagi setelah invasi Amerika ke Irak.
Khalili menulis buku ini dalam rangka nostalgia, sekaligus meneliti secara kritis apa yang sebenarnya terjadi di era tersebut. Mengapa Golden Age bisa terjadi? Mengapa era ini akhirnya hilang tanpa bisa dibangkitkan lagi? Buku ini cukup detil mengajukan fakta-fakta, sehingga jauh dari semangat glorifikasi masa lalu yang biasa dilakukan oleh buku sejenis karya penulis muslim. Khalili, misalnya, mengkritisi klaim muslim modern bahwa Al-Khawarizmi adalah Bapak Aljabar. Yang tepat adalah Peletak Dasar Algoritma, karena Aljabar sudah ada sejak zaman kuno. Matematikawan Yunani, Mesir, Sumeria dan India, sudah sangat maju dalam menggunakan aljabar. Hanya saja Al-Kawarizmi merupakan orang pertama yang mengulik aljabar secara sistematis, murni untuk memecahkan soal matematika, bukan untuk keperluan praktis sehari-hari. Jika kita diajari untuk mengerjakan soal cerita, itulah yang dilakukan Al-Khawarizmi, menggunakan matematika ‘just for fun’ untuk mengeksplorasi jawaban secara step-by-step. Ini mendorong Aljabar jadi suatu ilmu abstrak yang berlaku secara umum, dimana para ahli matematika akhirnya biasa bereksplorasi menemukan ‘hukum-hukum matematika’. Buku Al-Khawarizmi, ‘Al-kitāb al-mukhtasar fīhisāb al-jabr wal-muqābala’ lalu populer disebut ‘Al-Jabar’, sehingga Al-Khawarizmi dikira sebagai pendiri seluruh disiplin ilmu Aljabar.
Demikianlah di sepanjang buku, Khalili menyelidiki berbagai klaim yang disematkan pada ilmuwan muslim. Sebagian ditolak dan diperbaiki, sebagian lagi diterima. Dasar penerimaan Khalili adalah jika pada karya ilmuwan yang bersangkutan ditemukan: upaya penelitian yang sistematis, pengambilan kesimpulan yang didasarkan pada metode penelitian yang ketat, dan memberi sumbangan inovasi pada ilmu-ilmu yang sudah ada sebelumnya. Ilmuwan semacam itu dianggap berhak atas sebutan ‘ilmuwan modern’ karena melakukan hal yang sama dengan para ilmuwan saat ini. Secara keseluruhan, Khalili mengakui bahwa Golden Age yang berlangsung 700 tahun memang betul-betul suatu era yang menjadi pondasi sains modern dengan semangat penyelidikan dan inovasi, tidak sekadar menerjemahkan buku-buku dari peradaban tua seperti Yunani, Mesir, dan India. Astronomi adalah bidang yang paling cemerlang saat itu, didorong oleh kebutuhan praktis muslim untuk menentukan waktu sholat, waktu mulai ramadhan, serta arah kiblat. Kebutuhan ini mendorong astronomer muslim meneliti pergerakan benda langit dan mengoreksi catatan astronomi bangsa lain. Hal yang sama terjadi di berbagai bidang lain, mulai dari kimia sampai teknik pertanian. Semangat penyelidikan yang kritis, inovatif dan dilakukan secara massif, inilah yang membuat Golden Age berhak untuk diklaim sebagai pondasi sains dunia modern.
Hal menarik lain dari Golden Age adalah banyaknya ilmuwan yang menguasai sangat banyak bidang ilmu. Seorang Ibnu Sina bukan hanya dokter jempolan, dia juga logikawan, filsuf, ahli bahasa, ahli kimia, ahli biologi. Al-Kindi, yang dijuluki sebagai Bapak Filsafat Islam, juga menguasai kriptologi dan teori musik. Ini menunjukkan betapa ilmuwan masa lalu sangat haus dengan ilmu, segala macam ilmu, sehingga keahliannya meluas ke berbagai bidang.
Lalu, mengapa Golden Age akhirnya hilang? Khalili mengajukan beberapa penyebab, mulai dari hilangnya dukungan politik akibat konflik antar fraksi, tekanan kaum konservatif yang lebih mementingkan teologi daripada sains, sampai pada peperangan antar bangsa. Namun Khalili mengakhiri bukunya dengan nada optimis bahwa dunia Islam bisa bangkit mengejar ketertinggalan, dengan melihat fakta banyaknya universitas ultra modern yang dibangun di negara-negara Arab.
Oh ya, ada satu yang tertinggal dari buku ini. Kenapa Khalili memilih istilah Arabic Science, bukannya Islamic Science? Menurutnya, karena ilmuwan-ilmuwan yang terlibat dalam Golden Age tidak seluruhnya muslim. Ilmuwan katolik dan yahudi pun ikut bekerja sama, sama-sama mendapatkan beasiswa dan dukungan dari pemerintah kesultanan saat itu. Contohnya Maimonides, filsuf mistik yahudi yang hidup semasa dengan Ibnu Rusyd. Khalili merujuk ‘arabic’ karena bahasa yang digunakan di era itu adalah bahasa Arab. Selama 700 tahun, jika ada orang di dunia yang tertarik untuk belajar filsafat, matematika, astronomi, kimia, dll, mereka harus belajar bahasa Arab karena semua buku yang tersedia ditulis dalam bahasa Arab. Bahasa Arab adalah bahasa sains, sama seperti bahasa Inggris saat ini.
Bagaimana, buku yang sangat seru kan? Mudah-mudahan ada penerbit tanah air yang tertarik untuk menerjemahkan dan menerbitkannya, supaya Golden Age gelombang kedua bisa bangkit kembali.
Join Us

Book

O Latte

Follow IG untuk membaca review kami

Join Us on Spotify

Our Location

My Place

The place I like the most

Get Direction