Plato and a Platypus Walk into a Bar: Understanding Philosophy Through Jokes
Thomas Cathcart & Daniel Klein
Penguin Books (2008)
215 hal
Bisakah filsafat disampaikan melalui lelucon? Menurut Thomas Cathcart dan Daniel Klein, filsafat dan lelucon mengusik pikiran dengan konstruksi dan cara yang sama. ‘Punch line’ suatu lelucon sama dengan ‘insight’ suatu konsep filsafat: (kalau bahasa saya: ‘Aha moment’ sama dengan ‘Ba-dum-tss moment’). Jadi melalui buku ini mereka menyampaikan konsep-konsep filsafat dengan memberi contoh dalam bentuk lelucon, yang mereka sebut ‘philogagging’.
Buku ini terbagi 10 bab yang membahas cabang-cabang filsafat metafisika, logika (dan fallacy-nya), epistemologi, etika, filsafat agama, eksistensialisme, filsafat bahasa, filsafat sosial politik, relativitas, dan metafilsafat.
Buku ini, seperti bisa diduga, berfluktuasi dari lucu ke serius dan ‘somewhere in between’. Tapi lucunya tipe yang harus mikir karena kelucuannya kadang hanya tersirat (tergantung pembacanya tahu konteks yang dimaksud atau nggak. Sneaky!). Leluconnya banyak yang berkonten dewasa tapi rata-rata umum saja, dan banyak yang lucu sarkastik juga. Berhubung banyak lelucon yang sensitif, yang mudah tersinggung dan sulit diajak bercanda lebih baik skip saja buku ini.
Btw, saya penasaran bagaimana buku ini diterjemahkan. Menurut saya, lelucon adalah salah satu bentuk komunikasi yang sulit diterjemahkan karena tergantung konteks budaya dimana dia berkembang. Misalnya, pembaca yang tahu “bar jokes” akan langsung tahu ini buku komedi filsafat dengan membaca judulnya tanpa dibantu subjudul.
Contoh lain, lelucon tentang orang Yahudi yang sedang makan di taman dan orang buta yang duduk di sebelahnya. Dia menawarkan makanannya, “matzoh”. Orang buta meraba matzoh tersebut dan menjawab “Who writes this crap?”
Yang tidak tahu matzoh dan braille tidak akan bisa menangkap kelucuannya.
Salah satu penerjemah Indonesia yang sukses menerjemahkan konteks humor adalah ibu Rahartati Bambang Haryo dengan buku-buku Asterix.
Lelucon saja susah diterjemahkan, ini lelucon DAN filsafat. Kebayang susahnya, salut dengan penerjemahnya.
Di Indonesia buku ini diterjemahkan menjadi “Plato Ngafe Bareng Singa Laut”, tapi kalau saya mungkin akan menerjemahkannya jadi “Kalau Plato jadi Komika”.