Maaf kali ini postingannya nggak berupa review, melainkan refleksi dari hasil membaca buku Karma (https://www.facebook.com/bookolatte/posts/167844392281127) dan buku The Gift: Poems by Hafiz.
Sejak dapat insight bahwa karma itu = hijab antara makhluk dan Khalik seperti dalam tradisi tasawuf Islam, banyak sekali istilah dan konsep dalam agama yang jadi ‘klik’ dan make perfect sense buat saya.
Misalnya tentang pahala dan dosa, surga dan neraka.
Selama ini kita diajari bahwa pahala adalah ganjaran melakukan hal-hal yang mendekatkan kita kepada Tuhan, dan memasukkan kita ke ‘surga’. Sementara dosa adalah hal-hal yang menjauhkan kita dari Tuhan, dan menjatuhkan kita ke ‘neraka’.
Nah, jika dipahami dalam bingkai ‘hijab antara makhluk dan Khalik’ dan perbuatan (=karma) yang bisa menebalkan/menipiskan hijab kemarin itu, kita jadi mudah sekali memvisualisasi tarik-ulur perbuatan/pikiran/energi mana yang bisa menebalkan hijab (menjauhkan dari Tuhan/dosa) dan menipiskan hijab (mendekatkan kepada Tuhan/berpahala).
Melalui bingkai ini nggak ada tuh konsep Tuhan yang pemarah dan penyiksa, yang mencuat adalah Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang, yang hanya ingin kita dekat denganNya dan berada dalam kenikmatan hakiki.
Pahala dan dosa itu ternyata nggak rigid, tergantung niat, tergantung konteks. Sesuatu yang bisa jadi secara tradisi dipahami ‘bukan dosa’ atau ‘cuma gitu doang masa dosa sih, kan boleh-boleh aja nggak ada yang ngelarang’, tapi hakikatnya bisa jadi menebalkan hijab. Sebaliknya, seperti kisah pelacur yang memberi minum anjing, (https://www.facebook.com/bookolatte/photos/a.113561254376108/165384972527069/) sesuatu yang dipandang hina di masyarakat ternyata bisa menghapus hijab itu dan membawa ke ‘surga’.
Lalu surga dan neraka itu apa?
Sekali lagi, ini insight saya ketika membingkai istilah-istilah tradisional ini dalam konteks hijab antara makhluk dan Khalik.
“Surga” tercapai ketika hijab itu hilang, ketika karma habis, ketika makhluk bertemu (atau menyatu) dengan Tuhan. Berarti ‘surga’ adalah keadaan, bukan tempat. Secara tradisi digambarkan sebagai tempat, karena keindahan dan kenikmatannya tidak bisa dijelaskan, hanya bisa dianalogikan. Analogi bagi penghuni gurun, tentu saja taman-taman hijau dengan sungai. Analogi bagi masyarakat yang senang minum-minum, tentu saja surga berisi khamr yang tidak memabukkan.
Surga digambarkan melalui metafora untuk mengekspresikan ‘sesuatu yang memuaskan segala keinginan/kehausan/kerinduan jiwa’ sampai mereka yang ada di dalamnya ‘mabuk’ dalam kenikmatan. Itu cocok sekali dengan metafora ‘khamr’ surga. (Dan itu juga kenapa dalam tasawuf banyak menyebut ‘anggur manis yang memabukkan’. Itu adalah metafor Tuhan).
Jadi level ‘surga’ juga tergantung keinginan si pencari ‘surga’ dong? Ya sepertinya sih gitu.
Jiwa yang merindukan The Ultimate, pastinya nggak akan terpuaskan oleh surga berupa bidadari.
Lalu bagaimana dengan ‘neraka’?
Ya jika ‘surga’ adalah keadaan ketika hijab itu hilang dan makhluk kembali menyatu dengan Tuhan, maka ‘neraka’ adalah sebaliknya: ketika hijab itu tebal dan sulit dihancurkan. Makhluk jauh dari Tuhan. Lalu apa arti kesengsaraan, hukuman, siksaan neraka yang selama ini diajarkan dalam tradisi agama? Dalam permainan ‘membanding-bandingkan’, kebalikan ‘the ultimate bliss’ tentu saja ‘the ultimate suffering’. Ini pun keadaan, bukan tempat, juga sesuatu yang sulit dijelaskan, jadi lagi-lagi pakai analogi.
Puncak kenikmatan didapat dari pertemuan dengan Tuhan, dan hakikat kesengsaraan berupa keterpisahan dengan Tuhan.
Hakikat sengsara beda dengan PERASAAN sengsara lho ya. Dalam buku Karma disebutkan bahwa kita bisa memilih untuk tidak MERASA sengsara dalam kesulitan, dan sebaliknya kita bisa MERASA sengsara dalam kenikmatan. Ya, kita bisa memilih ada di ‘surga’ atau ‘neraka’ dunia.
Orang yang hatinya terus menerus penuh amarah, benci, sirik, bukankah dia sengsara dan ‘dibakar api neraka’? (Kalau ingat, kemarin disebutkan bahwa hal-hal ini karmanya besar = hijab dengan Tuhan menjadi tebal sekali = neraka dong).
Terus, apa dong maksud dari ‘dosa terbesar adalah menduakan Tuhan’ atau syirik itu?
Ialah ketika kita lebih mengutamakan keterpisahan (separateness) alih-alih keSatuan (Oneness). Itulah menduakan.
Ketika kita berpegang kuat, apalagi sampai tahap ekstrim menganggap satu lebih baik dari lainnya, pada identitas A,B,C,D dan ke-aku-an (aku Islam kamu Kristen, aku kaya kamu miskin, aku pejabat kamu rakjel, aku seleb kamu nobody, dll dsb) dan menolak bahwa pada dasarnya kita semua hakikatnya adalah Satu.
(https://www.facebook.com/bookolatte/photos/a.113561254376108/165385055860394/)
Ketika kita sibuk dengan printilan remeh aturan literal dan memperlakukannya sebagai ‘the utmost important’ alih-alih sebagai penunjuk jalan, sampai berdebat sengit dan berujung menyesat2kan, dan melupakan tujuan perjalanan kita hidup beragama, yaitu pertemuan denganNya.
(https://www.facebook.com/bookolatte/photos/a.113561254376108/165385032527063/)
Kita punya kuasa untuk menipiskan hijab atau mengikis karma itu, kalau mau, dengan secara sadar memilih perbuatan-perbuatan yang bisa membuat kita mendekat kembali kepadaNya (-Nya itu bisa Tuhan, bisa Emptiness, bisa Semesta, istilah dan konsep bisa beda-beda, hakikatnya ‘The Source of Life’ itu deh).
**
Laughing At The Word Two
Only
The Illumined
One
Who keeps
Seducing the formless into form
Had the charm to win my
Heart
Only a Perfect One
who is always
Laughing at the word
Two
Can make you know
of
Love
=== “Dua” itu absurd, karena hakikatnya cuma ada “Satu” ====
Where Is the Door to the Tavern?
Where is the door to God?
In the sound of a barking dog,
In the ring of a hammer,
In a drop of rain,
In the face of
Everyone
I see
**
Banyak sekali ‘aha moment’ yang saya temukan pasca baca buku Karma kemaren, banyak sekali paralelnya dengan berbagai konsep dalam Islam, terlalu panjang kalau saya tulis semua di sini.
Oya, buat yang berpikir bahwa “wah postingan ini mencampuradukkan agama”, saya kasih kutipan cerita ini dari buku The Forty Rules of Love:
“Once there were four travelers, a Greek, an Arab, a Persian, and a Turk. Upon reaching a small town, they decided to get something to eat. As they had limited money they had only one choice to make. Each said he had the best food in the world in mind. When asked what that was, the Persian answered “angoor,” the Greek said “staphalion,” the Arab asked for “aneb,” and the Turk demanded “üzüm.” Unable to understand one another’s language, they began to argue. They kept quarreling among themselves, feeling more resentful and bitter with every passing minute, until a Sufi who happened to pass by interrupted them. With the money collected the Sufi bought a bunch of grapes. He then put the grapes in a container and pressed hard. He made the travelers drink the juice and threw away the skin, because what mattered was the essence of the fruit, not its outer form.
“Christians, Jews, and Muslims are like those travelers. While they quarrel about the outer form, the Sufi is after the essence,” Shams said.”
Postingan ini seperti menyimpan angoor, staphalion, aneb, dan üzüm dalam satu wadah, dan nyadar kalau yang selama ini kita ributkan adalah sekadar namanya.
==
Yang mau beli buku Karma (atau mungkin ada yang mau berbaik hati beliin juga buku Karma buat mba Ani, biar nanti bisa bikin grup diskusi hehehe), kemarin saya googling ternyata di Indonesia ada di Periplus. Silakan dicari ya.