Cart

Your Cart Is Empty

Science Fictions: How Fraud, Bias, Negligence, and Hype Undermine the Search for Truth

Science Fictions: How Fraud, Bias, Negligence, and Hype Undermine the Search for Truth

image

Author

Ani

Published

Februari 13, 2024

KRISIS DI TUBUH SAINS

Apa yang terjadi ketika ‘bangunan’ sains yang tampak kokoh dan karenanya dipercaya oleh publik, ternyata dalamnya keropos digerogoti perbuatan para ilmuwannya sendiri? Tentu kepercayaan publik akan runtuh.
Karenanya Stuart Ritchie, doktor psikologi di King’s College London, melalui buku ini merasa perlu mengungkap permasalahan sistemik di tubuh sains dalam rangka menyelamatkannya sebelum terlambat.

Science Fictions: How Fraud, Bias, Negligence, and Hype Undermine the Search for Truth

Stuart Ritchie
Metropolitan Books (2020)
353 hal

Sebetulnya apa yang dibahas di buku ini sebagian sudah pernah disinggung di buku Making Sense of Science dari Cornelia Dean(*) dan The Joy of Science dari Jim Al-Khalili(**), tapi Stuart Ritchie membahasnya jauh lebih dalam dan detail tentang berbagai permasalahan yang terjadi di tubuh sains.

Buku ini terbagi 3 bagian besar:
“Ought and Is” membahas bagaimana seharusnya (idealnya) sains dijalankan dan bagaimana kenyataannya saat ini: banyak masalah dalam prakteknya.
“Faults and Flaws” memaparkan masalah apa saja yang menggerogoti praktek sains: Fraud, Bias, Negligence, dan Hype.
“Causes and Cures” membahas penyebabnya dan solusi memperbaikinya.

Apa sih sains? Berbeda dengan apa yang ada di pikiran banyak orang, ‘sains’ bukanlah sekumpulan informasi yang menjelaskan suatu hal atau fenomena. Itu ‘pengetahuan’nya. Sains, adalah jalan untuk mengetahui dan menemukan pengetahuan itu (a way of knowing), melalui suatu prosedur tertentu yang dinamakan metoda ilmiah.

Idealnya, (ber)sains dijalankan berdasarkan norma tertentu, seperti yang dijabarkan oleh sosiolog Robert Merton:
– Universalism: temuan sains tidak memandang ‘siapa yang melakukannya’, mau ilmuwan kelas kakap ataupun kelas teri, profesor atau anak SMA, selama metoda ilmiah yang digunakannya sahih dan kokoh.
– Disinterestedness: ilmuwan melakukannya murni untuk memajukan pemahaman tentang alam semesta, bukan untuk uang, alasan politik, religius, demi prestise dan reputasi, atau agenda pribadi apapun.
– Communality: ilmuwan harus berbagi pengetahuannya. Ini tujuan sebenarnya dari jurnal-jurnal penerbitan paper ilmiah.
– Organized scepticism: semua temuan atau klaim sains harus diperiksa dengan menyeluruh sebelum dapat diterima, dan tetap terbuka akan kritik dan koreksi. Bukan tidak mungkin suatu saat ada temuan baru yang ‘menumbangkan’ temuan tersebut. Salah satu perwujudan prinsip ini adalah proses peer review.

Itu idealnya, tapi bagaimana praktek nyatanya? Menurut Ritchie, ada banyak masalah, dan salah satu bidang paling bermasalah adalah bidang Ritchie sendiri yaitu psikologi.

KRISIS REPLIKASI

Suatu temuan sains harus dapat diuji melalui replikasi (menguji hipotesis yang sama dengan data baru) dan reproduksi (menguji ulang eksperimen dengan data yang sama). Menurut Ritchie, banyak sekali temuan studi yang tidak dapat direplikasi atau direproduksi. Tidak hanya di bidangnya yaitu psikologi (yang ia sebut salah satu bidang “worst offenders”) tetapi juga di banyak bidang lain seperti ekonomi, neurosains, ekologi, biologi evolusioner, biologi laut, kimia organik, dll.

“Ini cuma sebagian yang ditemukan. Seberapa banyak studi lain yang belum terselidiki kesahihannya?” lanjut Ritchie.

Mengapa ini penting?

Pertama, karena sains sangat krusial fungsinya, maka kita tidak boleh membiarkannya dirusak oleh studi-studi yang berkualitas rendah dan tidak bisa direplikasi. Yang kedua, bayangkan efeknya jika studi yang dilakukan adalah di bidang medis, yang langsung diterapkan pada manusia. Di mana etika?

Tahun 2005, ilmuwan metasains John Ioannidis menerbitkan artikel berjudul “Why Most Published Research Findings Are False”, tapi baru kira-kira tahun 2011 dunia sains mulai menganggapnya serius dan merasakan ‘goncangan’nya setelah ditemukan berbagai studi yang klaimnya ternyata tipu-tipu yang kadang fatal.

Masalah apa saja yang terjadi dalam praktek bersains ini?

FRAUD

Diceritakan kasus dokter bedah Italia Paolo Macchiarini yang mengklaim kesuksesan transplantasi trachea, dan temuannya diterbitkan jurnal medis top Lancet. Macchiarini dielukan sebagai dokter jenius yang merevolusi dunia kedokteran regeneratif, direkrut institusi medis top Karolinska, lalu melakukan transplantasi trachea pada beberapa pasien yang semua diklaim sukses (dan hasilnya dilaporkan juga di Lancet).
Tapi ketika semua pasiennya meninggal, beberapa dokter di Karolinska menuntut Macchiarini diinvestigasi, tapi ditolak, malah mereka dilaporkan ke polisi. Lancet pun tetap pada posisi berpihak padanya. Baru pada 2016 terkuak kebohongan-kebohongan Macchiarini, dan baru Juni 2022 ia didakwa bersalah telah membahayakan pasiennya.

Dicontohkan beberapa kasus fraud lain yang terjadi dalam publikasi di jurnal top. Rata-rata masalahnya adalah data/foto palsu, bahkan survey dan eksperimen palsu yang tidak pernah dilakukan.
Salah satunya berakhir tragis: seorang ilmuwan Jepang bunuh diri karena merasa bertanggung jawab karena tidak memeriksa ulang hasil eksperimen tipu-tipu yang dilakukan koleganya.

Salah satu kasus fraud terparah dalam sains bukan hanya karena menyesatkan ilmuwan dan dokter, tetapi juga karena dampaknya masih terasa sampai sekarang meskipun publikasinya lebih dari 20 tahun yang lalu: studi yang dilakukan dokter Andrew Wakefield dan diterbitkan oleh Lancet yang menyatakan bahwa vaksin MMR menyebabkan autisme. Studi Wakefield bukan hanya tidak terbukti, tetapi dari awalnya juga memang tipu-tipu dengan agenda terselubung. Ia dibayar oleh grup antivax, dan ia sendiri punya paten vaksin campak yang akan mendapat keuntungan dari ‘temuan’ ini.
Entah sudah berapa juta orang menjadi korban dari HANYA SATU paper tipu-tipu ini.

BIAS

Menurut Ritchie, masalah bias lebih parah daripada fraud, bukan karena efeknya lebih berbahaya, melainkan karena bias seringkali dilakukan tanpa disadari, dan prakteknya tersebar luas.
Bias di sini, seperti bias dogma keilmuan, religius, kecenderungan politik, tekanan finansial, bukan hanya dari peneliti dan pemberi dana, namun juga dari jurnal yang menerbitkan hasil penelitiannya.

Semua jurnal lebih tertarik pada paper dengan temuan positif dan signifikan, apalagi temuan terobosan yang menghebohkan. Penelitian yang menghasilkan ‘null result’ alias hipotesanya tidak terbukti, bukan berita yang menarik untuk dipublikasikan.
Akibatnya, ilmuwan yang ingin papernya diterbitkan, ikut terdorong untuk mencapai hasil ‘positif’ dan menyembunyikan hasil ‘null’. Caranya antara lain dengan p-hacking (memilih data supaya p-value mencapai batas ‘statistically significant’).

NEGLIGENCE

Menurut Ritchie, ada dua macam kelalaian yang terjadi di dunia sains: ketidaksengajaan (seperti typo error) yang lalai diperiksa sehingga temuannya salah, dan kelalaian dalam proses-proses penting eksperimen (misalnya salah melabeli kultur sel, kontaminasi sampel, sampel studi terlalu kecil, dll)
Suatu penelitian yang baik harus memiliki kekuatan uji statistik (statistical power) yang cukup. Ternyata banyak sekali penelitian yang kekuatan uji statistiknya rendah di bidang ujicoba medis, biomedis, ekonomi, brain imaging, keperawatan, behavioral ecology, dan lagi-lagi, psikologi.

HYPE

Masalah lain yang sering terjadi menyangkut temuan sains adalah klaim yang dibesar-besarkan, bombastis, bahkan dibuat heboh dan sensasional. Diperparah dengan pemberitaan media yang tentu saja pilih-pilih temuan yang bisa menghebohkan, dengan judul dibuat click bait.

Kalau dalam bentuk paper di jurnal ilmiah masih mending, bisa langsung dicek klaimnya oleh sesama pakar. Yang parah ketika ilmuwan bersangkutan menerbitkan temuannya dalam bentuk buku (karena tidak ada peer review) lalu buku tersebut laku keras dan klaim yang dibesar-besarkannya itu diterima oleh masyarakat umum sebagai kebenaran.

Lagi-lagi, bidang psikologi menjadi biang keladi yang dikritik Ritchie. Semua tahu betapa larisnya buku-buku psikologi populer genre self help, namun banyak sekali klaim di dalamnya hanya berdasar pada temuan studi yang tidak kuat. Ritchie memberi beberapa contoh buku psikologi populer yang sangat sukses dan ditulis ilmuwan berlatarbelakang pendidikan top dengan klaim yang dibesar-besarkan: buku “Mindset: The New Psychology of Success” dari Carol Dweck psikolog Stanford, “Before You Know It: The Unconscious Reasons We Do What We Do” dari John Bargh psikolog Yale, dan “Why We Sleep” dari Matthew Walker neuroscientist Berkeley.

Kalau ilmuwan dari institusi bergengsi saja melakukan hal seperti ini, salahkah publik jika mereka mulai kehilangan kepercayaan pada sains?

Jadi apa sih penyebab segala krisis ini?

Menurut Ritchie, penyebab utamanya adalah insentif yang salah dari sistem akademiknya sendiri. Ilmuwan didorong menerbitkan sebanyak-banyaknya paper sebagai bagian dari ‘nilai’nya sebagai ilmuwan. Mereka dinilai dari h-index, citation. Hal ini menyebabkan peneliti seringkali ‘gaming the system’. Misalnya penelitian yang seharusnya bisa dipublikasikan lewat satu paper, dibagi ke dalam beberapa paper; memaksa ilmuwan lain mengutip papernya; self-plagiarism, dll.

Akibatnya, banyak ‘sampah’ di literatur sains. Bukankah ini menyia-nyiakan waktu, dana, dan energi?

Lalu bagaimana memperbaikinya?

Ritchie mengajukan beberapa jalan:
– ungkap (name and shame) mereka yang sengaja melakukan penipuan sains, agar ilmuwan dan institusi sains lainnya lebih berhati-hati menjaga integritasnya.
– penerapan teknologi untuk mengecek data dalam paper ilmiah sebelum diterbitkan.
– terbitkan studi-studi yang menghasilkan null result
– kurangi fokus pada ‘statistical significance’ p-value
– rencana penelitian harus didaftarkan sebelum dilakukan, supaya peneliti tidak bisa mengubah hasil akhir
– kolaborasi tim peneliti supaya bisa mendapatkan data lebih banyak
– membuka data dan hasil penelitian (open access) kecuali untuk data sensitif.
– sistem preprint agar bisa dicek oleh sesama ilmuwan sebelum diterbitkan.
– perubahan sistem reward di dunia akademik dan pemberi dana. Dosen dan peneliti jangan dinilai dari jumlah publikasi, h-index, ataupun citation, melainkan dari kontribusi aktifnya dalam penelitian yang bersangkutan. Hargai kualitas daripada kuantitas.

Di akhir buku Ritchie menambahkan appendix ‘bagaimana cara membaca paper ilmiah’ supaya publik bisa ikut mengecek sendiri berbagai temuan sains.

Seolah ingin memberi contoh, Ritchie menyertakan hampir 100 halaman catatan di akhir buku untuk menjelaskan berbagai pernyataan di setiap babnya, supaya pembaca bisa ikut memeriksa lebih jauh studi-studi ilmiah yang diceritakan di buku ini.

**

Tahun 1830, Charles Babbage, inventor cikal bakal komputer, menulis buku “Reflections on the Decline of Science in England and on Some of Its Causes” untuk mengritik praktek bersains komunitas ilmuwan di Inggris dan institusi Royal Society of London. Buku ini mengejutkan komunitas ilmuwan pada saat itu, tetapi juga memicu reformasi dan kemajuan dunia sains di Inggris dan dunia.

Saya pikir buku Science Fictions juga seperti itu: kritik pedas yang pahit dan mengejutkan, tapi sangat penting untuk memperbaiki praktek bersains ke arah yang lebih baik.

Saya jadi ingat pernyataan yang ditulis Dr.Jeffrey Lang, matematikawan Amerika muslim mualaf yang menulis buku Even Angels Ask (diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia “Bahkan Malaikat Pun Bertanya”) : “We are most prone to error when we refuse to be self-critical.”
Manfaatkan kritik sebagai sarana memperbaiki diri.

Saya pikir buku ini penting dibaca bahkan dikoleksi oleh para rektor, dekan, dosen, ilmuwan pada umumnya, dan siapapun yang peduli akan integritas sains, sebagai pengingat.

(*) Making Sense of Science – Cornelia Dean
https://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=pfbid036Fwo3EQj7pyU4HaUzsmM4iVeUXsnxCs5RUTdXZcZiZKHmw5RZ2hVm9GdTMma73P2l&id=110094584722775

(**) The Joy of Science – Jim Al-Khalili
https://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=pfbid02w4TKUSAmshWCAm67W5SN6JMMCVb4FQjS7jyUWfiwpm38mfBBRs7kjJfiUveBWedBl&id=110094584722775

Join Us

Book

O Latte

Follow IG untuk membaca review kami

Join Us on Spotify

Our Location

My Place

The place I like the most

Get Direction